Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 84


__ADS_3

"Kenapa lagi sama anak kita itu, Mah? Masalah laki-laki lagi?" tanya papah Rani sembari menghela napas melihat tingkah anaknya.


Lina melongo, mengernyit dahinya bingung dengan sikap sang anak yang kembali merajuk setelah beberapa hari menjadi tenang. Ia merasa sedikit lega karena Rani sudah tidak menanyakan perihal perjodohannya dengan Raja.


"Nggak tahu, Pah. Padahal kemaren udah baik-baik aja. Kenapa sekarang banting-banting pintu lagi, ya?" Lina ikut bertanya keheranan.


"Lho, kenapa dia pulang? Bukannya sekarang sekolah masuk, ya?" Kedua paruh baya itu terbelalak keheranan.


Rasa cemas segera merundung hati mereka, khawatir dengan keadaan sang anak.


"Coba kamu lihat, Mah. Takutnya ada masalah apa di sekolah," pinta sang suami yang lekas dilakukan oleh Lina.


Ia mendatangi kamar Rani, mengetuk pintunya dengan pelan. Memanggil nama sang anak dengan lembut.


"Sayang. Buka pintunya. Ini Mamah, Nak," pinta Lina sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Rani.


Sekian lama berada di luar kamar tersebut, belum ada sahutan dari sang empu. Lina masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya untuk beberapa saat. Ia menghela napas, menyerah. Berpikir mungkin Rani butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.


"Ya udah. Mamah kasih kamu waktu buat nenangin diri. Kalo butuh teman curhat, Mamah dan Papah ada di bawah," ucap Lina pada akhirnya.


Ia masih berdiri untuk mendengar sahutan, atau berharap Rani akan membukakan pintu. Akan tetapi, gadis itu tak kunjung datang membuka pintu. Lina berbalik dan kembali menemui suaminya.


"Gimana, Mah?" tanya sang suami menatap penasaran sekaligus cemas.


Lina menghela napas, menghempaskan bokongnya di samping laki-laki itu.


"Nggak dibukain, Pah. Kayaknya lagi butuh sendiri," jawab Lina sembari menghela napas.


"Apa masalah perjodohannya itu, Mah?" Laki-laki itu berpikir.


"Mamah nggak tahu, Pah. Soalnya udah beberapa hari ini dia nggak ada bahas masalah itu. Mamah pikir dia udah bisa nerima." Lina pun turut berpikir.

__ADS_1


"Kalo bukan masalah itu, terus kira-kira masalah apa?" Papah Rani menjatuhkan punggung pada sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangan memikirkan tentang masa depan anak mereka satu-satunya.


"Rani itu udah cukup umur buat nikah, Pah. Mamah pengen Rani cepat menikah, tapi nggak tahu sama siapa?" Lina mendesah berat, dia ingin melihat Rani menikah, mengandung anak, kemudian melahirkan.


"Ya, mungkin belum ada jodohnya, Mah. Itu rahasia Tuhan, kita sebagai manusia cuma bisa berdoa dan berusaha aja," tutur sang suami dengan bijaksana.


Keduanya termenung, larut dalam pikiran masing-masing.


****


Di belahan kota lain, Mayang tengah disibukkan membantu Ambu memetik daun kiray untuk dibuat hateup. Sebelah tangannya memegang parang, menyabet setiap helai daun tersebut. Mengumpulkannya menjadi gulungan besar dan mengikat gulungan itu menggunakan tali dari batang daun pisang yang sudah tua.


Mayang mengangkat daun tersebut dan meletakkannya di atas kepala. Ia bahkan tidak merasa malu mengerjakan pekerjaan kasar itu. Tetap tersenyum ramah kepada tetangga yang berpapasan dengannya.


Sungai dangkal diseberanginya, tak peduli celana yang ia kenakan akan basah. Peluh bercucuran dari pori-pori kulit, membanjiri wajah juga pakaiannya. Mayang berhenti sejenak di tepi sungai, di atas sebuah batu ia duduk untuk beristirahat. Meraup wajah menggunakan air sungai yang sejuk. Meneguknya sedikit guna membasahi tenggorokan yang kering.


"Wah, ada perempuan cantik di pinggir sungai sendirian!" Sebuah suara mengalun terdengar menjijikan di telinga Mayang.


"Kenapa kamu ngeliatin saya kayak gitu?" sengit Mayang tak senang. Ia berdiri dan mengeluarkan parang yang dibawanya.


Laki-laki itu meneguk ludah, senyumnya hilang begitu saja.


"Nggak ada apa-apa, kok, cantik. Aku cuma mau nyapa aja. Kalo nggak salah denger kamu itu janda, ya?" tanyanya sembari membasahi bibirnya sendiri.


Mayang membolak-balik parang dengan sengaja, menunjukkan kepadanya bahwa benda tersebut sangatlah tajam.


"Emangnya kamu mau ngapain tanya-tanya begitu? Inget istri di rumah, nggak usah nyari perkara. Pulang!" usir Mayang sembari mengacungkan parang tersebut ke arahnya.


"Galak banget janda muda! Nanti nggak ada yang mau, lho." Dia tersenyum sinis seraya berbalik pergi meninggalkan Mayang di tepi sungai.


Mata wanita itu mendelik, terus memicing hingga sosok laki-laki yang menatapnya tidak sopan itu menghilang di balik pepohonan dalam hutan. Mayang beranjak, membawa kembali daun kiray tersebut meninggalkan sungai.

__ADS_1


"Kamu cari di mana daun kiray itu, Chu?" tanya Ambu setibanya ia di rumah.


"Biasa, Ambu. Di pinggir sungai itu," jawab Mayang sambil membuka ikatan dan menyebarkan daun-daun tersebut.


"Astaghfirullah! Ambu pinta kamu jangan ke sana lagi. Di sana udah nggak aman. Sebelum kamu ke sini pernah ada orang kota yang hilang di sana dan sampai sekarang nggak ketemu," ujar Ambu memberitahu anaknya itu.


Gerakan tangan Mayang terhenti mendengar cerita Ambu, teringat pada laki-laki tadi yang menjumpainya di tepi sungai.


"Ambu! Tadi ada laki-laki ke sungai nanya Mayang, tapi Mayang nggak begitu kenal sama dia. Apa dia bukan orang kampung sini, ya?" ungkap Mayang mengingat gelagatnya yang aneh membuat Mayang merasa curiga.


"Di mana kamu lihat?" tanya Ambu membesarkan matanya.


"Mau ke hilir, Ambu. Dia masuk ke hutan seberang sungai. Mayang curiga sama dia, Ambu. Mayang harus menyelidikinya," cetus Mayang dengan tekad yang kuat.


"Hus! Jangan macem-macem. Jangan nyari perkara. Diem aja di rumah, kamu itu mau nikah. Bilang aja sama RT, biar RT sama warga yang lain yang nyari tahu. Jangan kamu!" cegah Ambu dengan tegas pula.


Mayang mendengus, jiwa berpetualangnya bangkit seketika untuk mengungkapkan sebuah rahasia besar yang ada dibalik hutan tepi sungai.


"Ngadenge teu maneh? Ulah gagabah, maneh teh awewe. Cicing bae di Imah!" (Denger nggak kamu? Jangan gegabah, kamu itu perempuan. Diem aja di rumah!).


Bentakan Ambu menyentak lamunan Mayang, sampai-sampai tubuhnya terlonjak karena kaget.


"Iya, iya, Ambu. Mayang denger. Nanti Mayang bilang aja sama mamang," jawab Mayang sambil menghela napas.


Ambu memukul pelan kepala anaknya, gemas sendiri karena dari kecil selalu melakukan hal yang membuatnya berbahaya.


"Ti leuleutik maneh, teh, resep jasa nyiaran balayi. Ambu anu teu ngeunah rasa di imah, rewas mikiran kumaneh. Awas bae mun indit!" (Dari kecil kamu itu suka banget nyari-nyari bahaya. Ambu yang nggak enak rasa di rumah, cemas mikirin kamu. Awas aja kamu kalo pergi!).


Ambu mengancam Mayang sembari melengos masuk ke dalam rumah. Mayang mengusap-usap kepalanya yang dipukul Ambu sambil meringis. Ia menghela napas, mengingat masa kecilnya yang selalu bermain di sawah, hutan dan sungai.


Tersenyum sendiri membayangkan semua itu. Dia memang suka bahaya, maklum anak desa memang begitu.

__ADS_1


__ADS_2