
Tujuh bulan sudah terlewati, kebahagiaan semakin terlihat jelas di wajah kedua wanita tua di rumah besar itu. Tawa bahagia, canda penuh suka, kini mengisi hari-hari mereka. Menyambut datangnya calon anggota keluarga baru.
Keadaan perut yang semakin membesar, membuat Mayang terkadang kesulitan berjalan. Sering mengeluh, sakit apa saja dirasanya. Ia menghela napas, baru tiga anak tangga yang dilewati sudah terasa lelah di tubuhnya.
Ia berhenti sejenak sembari menatap lalu-lalang manusia di lantai bawah rumahnya. Bibir itu tersenyum ketika Risya mendongak.
"Kakak!" Gadis itu berlari menaiki anak tangga, membantu Mayang untuk turun.
"Makasih, ya. Maaf, Kakak selalu bikin kamu repot," ucap Mayang saat keduanya berjalan menuju sofa.
"Apaan, sih, Kak! Nggak usah sungkan kayak gitu, aku nggak mau sampai Kakak kenapa-napa nantinya," sahut Risya begitu peduli pada kakak iparnya.
"Emang acaranya mau besar-besaran, ya? Kok, pasang tenda segala," tanya Mayang sembari mendaratkan bokong dengan hati-hati di kursi.
"Iya, Kak. Ibu ngundang semua teman dan sanak saudara dari jauh. Maklum cucu pertama, apapun pasti dibuat istimewa." Risya terkekeh senang. Dipandanginya perut Mayang tak sabar bayi mungil itu hadir di tengah-tengah mereka.
"Kak! Perut Kakak gerak!" pekiknya dengan kedua mata membelalak lebar.
Mayang tertawa kecil, tangannya mengusap perut sambil tersenyum.
"Bukan perut Kakak, tapi dia yang di dalam sini sedang bermain," ucap Mayang memberitahu adik iparnya itu.
"Boleh aku menyentuhnya?" pinta Risya dengan kedua manik yang berbinar penuh harap.
Mayang mengambil tangan Risya dan meletakkannya di atas perut.
"Kamu juga bisa ajak dia bicara, dia sudah bisa mendengar suara kamu. Coba!" ucap Mayang, ia mengangguk ketika kepala gadis itu terangkat melihatnya.
Risya menurunkan pandangan, memandang perut buncit sang kakak ipar. Jantungnya berdegup, gemetar hingga ke telapak tangan.
"Ha-hallo, Keponakan. Kamu tahu, ini Aunty," ucap Risya lirih.
Ia kembali membelalak, membuka mulut ketika sapaannya disambut denyut perut Mayang.
"Di-dia bergerak!" Ia terharu karenanya.
"Tentu saja, dia sudah bisa mendengar!" sambar Raja yang baru saja tiba dan segera mendaratkan bokong di samping sang istri, dikecupnya dahi Mayang juga perut wanita itu.
"Apa Kakak sering ajak dia bicara?" tanya Risya penasaran.
"Ya, tentu." Raja kembali mengecup perut itu.
"Assalamu'alaikum, Anak Sholeh. Ayah pulang, kamu sehat-sehat di dalam sini, ya," sapa Raja sembari menempelkan pipi di perut besar sang istri dan mengusapnya pelan.
Denyutan pada permukaan perut itu semakin membuat Risya merasa takjub. Benar-benar ajaib! Begitu yang ada dalam pikirannya.
"Wa'alaikumussalaam, alhamdulilah." Mayang menirukan suara seorang anak kecil untuk menjawab salam suaminya.
Melihat interaksi itu, Risya tersenyum geli. Keduanya tampak bahagia, dan juga memberikan kebahagiaan pada rumah mereka.
Tidak seperti di rumah lainnya, Rani duduk meringkuk di sudut kamar. Semua barang-barang yang ada di ruangan itu terserak di atas lantai. Tangannya memeluk kedua lutut yang ditekuk. Menangis kesal meratapi nasib percintaannya yang tak berjalan dengan baik.
"Kenapa? Kenapa semua jadi begini? Aku sudah menghasut mereka dengan membeberkan aib Mayang, tapi mereka nggak peduli. Malah sekarang dia hamil, aku nggak bisa terima. Harusnya aku yang di sana, bukan Mayang," keluh Rani sambil tersedu-sedu seorang diri.
Oh, cinta sendiri itu memang sakit. Dia terlalu berharap, tapi semua tak sesuai keinginan.
__ADS_1
Cau bogo dikorangan
Buahna ka pipir-pipir
Kumaneh bogoh, bogoh sorangan
Batur mah teu mikir-mikir.
Begitu kata pepatah Sunda.
"Rani! Kamu nggak bisa terus-terusan kayak begini, sayang. Ikhlasin semuanya, Nak. Raja itu nggak ditakdirkan buat kamu, mereka udah bahagia. Harusnya kamu juga bisa bahagia, bukan kayak gini," ucap Lina dari luar kamarnya.
Namun, nasihat-nasihat yang ia ucapkan, sama sekali tidak didengar oleh anaknya. Rani tak ingin mendengar, menutup telinga kuat-kuat. Lina tidak tahu harus seperti apa lagi menasihati gadis itu.
****
"Mas! Kita keliling komplek, yuk. Jalan-jalan di taman," ajak Mayang selepas shalat subuh berjamaah bersama Raja.
"Mmm ... boleh. Hari Minggu kayak gini, taman pasti ramai. Mas ganti baju dulu, ya." Raja beranjak, membuka pakaian sholat dan berganti setelan kaos.
"Yuk!"
Laki-laki itu memang patut disebut suami siaga, ia tak melepaskan tangannya dari Mayang selama berjalan menuruni anak tangga. Terus ke lantai satu, melewati Ambu juga Ratna yang duduk di teras.
"Mau ke mana, Nak?" tanya Ratna.
"Mayang pengen jalan pagi, Bu. Paling ke taman komplek aja sekalian jajan," jawab Raja yang disambut anggukan kepala oleh Ratna.
Mereka menyalami keduanya dan terus berjalan pelan-pelan.
"Aku ikut!" Risya berlari keluar rumah dengan seragam olahraganya. Bertiga mereka melakukan gerak pagi, menemani Mayang yang berjalan tanpa alas kaki.
"Kamu capek nggak?" tanya Raja sembari memeluk pinggang Mayang khawatir istrinya itu merasa lelah.
"Belum, aku masih mau berjalan. Kita duduk di sana, ya." Mayang menunjuk sebuah kursi taman yang dikelilingi banyak anak-anak bermain.
Raja membawanya, duduk sambil memandangi anak-anak di sana. Sedangkan Risya, ia berlari mengelilingi taman bersama teman-temannya. Mayang tersenyum sambil mengusap perut melihat Raja asik bermain bola bersama anak-anak itu.
"Kalian haus?" tanya Raja setelah lelah bermain.
"Iya, Om!" jawab mereka serentak.
"Yuk! Om traktir minuman sekalian sarapan, ya," ajak Raja disambut sorakan oleh semua anak-anak itu.
"Hati-hati, Mas!" teriak Mayang ketika Raja melihat ke arahnya.
Wanita itu duduk menunggu, memandang sang suami yang dikerumuni anak-anak tadi. Hatinya bahagia, kehidupannya kini menjadi sempurna setelah badai menghancurkannya.
Mayang mengernyit ketika melihat seorang laki-laki dengan pakaian yang sedikit kotor, begitu pula dengan kulit tubuhnya. Merasa kasihan, ia beranjak mendekati suaminya.
"Mas, beliin juga buat Bapak yang di sana. Kasihan," bisik Mayang sambil menunjuk pada laki-laki yang duduk menunduk di seberang jalan.
"Iya, kamu juga harus sarapan. Duduk sini, nanti Mas antar buat dia," ucap Raja sembari membantu Mayang untuk duduk di kursi tersebut.
"Pak, bikinin buat istri saya, ya. Juga tambah semangkuk buat Bapak yang di sana," ucap Raja diacungi jempol oleh pedangan itu.
__ADS_1
Ia duduk di samping Mayang, menunggu pesanan. Sambil bercengkerama dengan sang istri sesekali akan mengusap perutnya.
"Biar saya aja yang antar, Pak. Bapak duduk di sini aja," ucap si Pedagang dengan sopan.
"Makasih, Pak," sahut Raja.
Pedagang itu membawa mangkuk mendekati si Laki-laki lusuh.
"Pak, sarapan dulu," ucapnya.
Laki-laki berjanggut tebal itu mengangkat kepalanya dengan dahi berkerut.
"Saya nggak pesen, Pak. Saya nggak punya uang," ucapnya dengan bingung.
"Nggak apa-apa, Pak. Ini udah dibayar sama Bapak yang di sana. Udah tinggal makan aja," jawab si Pedagang menyerahkan semangkuk bubur kepada laki-laki itu.
Ia menerima, menatap bubur di mangkuk, kemudian memandang laki-laki baik hati yang sudah berbagi dengannya.
Ia tercenung, bulir-bulir bening bermunculan di kedua sudut matanya. Bibir yang tertutup janggut itu berkedut-kedut samar.
"Ma-mayang?" lirihnya bergetar.
Hatinya teriris pilu melihat wanita itu tersenyum bahagia bersama suami barunya. Laki-laki yang tak lain adalah Amir itu memandang tangan Raja yang menyentuh perut Mayang. Jatuh air matanya, mendapati kenyataan pahit bahwa Mayang bukanlah perempuan mandul.
Penyesalan kembali merambah hati Amir, membuatnya semakin merasa malu. Ia meletakkan bubur tersebut di atas tanah, mengangkat karung besar berisi botol-botol bekas dan pergi meninggalkan taman. Terlalu malu rasanya menerima apapun bentuk kebaikan mantan istrinya itu.
Amir mengusap air matanya, berjalan dalam balutan kesedihan yang tiada akhir. Seandainya, terus saja menumpuk kata seandainya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tak akan pernah bisa berubah menjadi nasi lagi.
Mayang sudah berbahagia, lengkap dengan kehadiran calon anak mereka. Sedangkan ia, terus terpuruk dalam kesulitan hidup sebagai hukuman yang harus dia terima.
****
"Eh, Risya! Mau ke mana?" tegur salah seorang teman ketika melihat Risya berlari ke lain arah.
Remaja itu menghampiri seorang perempuan yang wajahnya dibalut dengan perban. Ia duduk di bawah pohon dengan sebuah mangkuk di hadapan. Risya memberikan selembar uang dengan nominal lima puluh ribuan ke dalam mangkuknya.
Perempuan itu mengambilnya, mengangguk-anggukkan kepala berterimakasih tanpa dapat mengucap. Ia mengangkat kepala melihat wajah si Dermawan itu. Risya tersenyum, berbalik kemudian pergi.
Wanita yang tak lain Melina itu menitikan air mata. Dulu apa yang melekat pada tubuhnya begitu dia banggakan, kini tak ada lagi yang bisa dia banggakan. Semuanya hancur.
"Kakak!" Risya melambaikan tangan ketika melihat Mayang dan Raja berjalan ke arahnya.
Lagi-lagi pemandangan di depan matanya membuat hati melina mencelos nyeri. Mayang tampak berbahagia dengan keadaan perutnya yang membesar.
"Kak, perempuan di sana itu kasihan, deh. Kayaknya muka dia rusak gitu," lapor Risya memberitahu kedua kakaknya itu.
"Mas!"
Raja mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku, memberikannya kepada Risya dan meminta gadis remaja itu memberikan uang tersebut kepadanya.
Tangan Melina melambai-lambai menolak, tapi Risya memaksa dan meletakkannya di mangkuk wanita itu. Ia kembali berlari ke arah kakaknya, pergi meninggalkan taman dengan perasaan bahagia.
Semua yang kita miliki hanyalah sebuah titipan yang harus dijaga dengan baik dan disyukuri.
\=TAMAT\=
__ADS_1
****
Terima kasih, aku haturkan kepada semua pembaca setia Mayang dan Raja. Sayang kalian semua. Mohon maaf bila nggak sempat balas komentar kakak-kakak semua.