Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 111


__ADS_3

Seperti biasa, Mayang berkutat di dapur menyiapkan makan siang untuk ia bawa ke kantor suaminya. Masakan rumah yang dia bisa dan disukai semua orang di rumah itu. Kini, sikap Ratna kembali seperti dulu, hangat dan penuh kasih sayang. Tak lagi memikirkan pesan si peneror yang sangat mengganggu keharmonisan di rumah itu.


"Kamu masak apa, Nak?" tanya Ratna sembari menghampiri Mayang di dapur.


"Yah, sesuai permintaan mas Raja, Bu. Ayam bakar," jawab Mayang sembari merapikan rantang makanan yang telah terisi.


Mendengar panggilan itu untuk anaknya, hati Ratna dipenuhi bunga-bunga bermekaran.


"Kamu panggil Raja apa?"


Mayang tertegun mendengar pertanyaan Ratna. Pasalnya semua orang di rumah itu belum pernah mendengar Mayang memanggil Raja dengan sebuah mas.


Ia tersenyum malu, menundukkan kepala menatap rantang yang digenggamnya.


"Kenapa, Bu? Kalo panggil nama aja rasanya nggak nyaman. Dia, 'kan, sekarang suami aku," ucap Mayang dengan lirih. Ia menggigit bibir menahan gugup yang tiba-tiba muncul.


Ratna terkekeh mendengar itu, memang seharusnya begitu supaya lebih terasa berumahtangga.


"Yah, nggak apa-apa. Emang lebih baik begitu, supaya kerasa suami istrinya," ujar Ratna disambut senyuman dari Mayang.


"Aku mau siap-siap dulu, Bu. Bentar lagi jemputan dari kantor datang," pamit Mayang dengan malu.


Ratna menganggukkan kepala. Melirik ke atas meja, pada piring berisi ayam bakar buatan sang menantu. Ia menarik kursi, melihat hidangan itu selera makannya tiba-tiba datang.


"Kayaknya enak ini," katanya sambil membalik piring dan menyendok nasi agak besar juga meletakkan dua buah dada ayam bakar di atasnya. Ratna berniat makan berdua bersama Ambu yang asyik duduk di halaman belakang. Katanya, mengenang saat dulu ia bekerja di rumah itu.


Ratna tersenyum melihat wanita tua itu duduk lesehan di teras belakang. Menatap taman kecil, dan kolam renang yang terawat dan bersih.


"Ambu. Makan, yuk! Aku kangen makan sepiring berdua sama Ambu kayak dulu," ajak Ratna seraya duduk di samping Ambu sambil meletakkan piring berisi makanan yang dibawanya.


"Kamu masih inget ternyata. Dulu, kamu itu nggak mau makan kalo nggak sama Ambu," sahut Ambu mengenang masa-masa menjadi pengasuh Ratna.

__ADS_1


Ibu dua anak itu terkekeh, memang benar. Dulu, ia tak mau makan jika tidak bersama Ambu. Betapa Ratna menyayangi Ambu sejak ia masih kecil. Keduanya makan bersama sambil mengenang masa lalu.


Di kamarnya, Mayang keluar kamar mandi dengan tubuh dibalut handuk. Ia membuka lemari, mencari-cari pakaian apa yang akan dikenakannya. Mayang menghela napas, tak sengaja matanya menangkap satu buah tas yang tersimpan di bawah pakaiannya.


"Apa ini?" Ia bergumam seraya mengambil tas tersebut. Membawanya duduk di tepi ranjang untuk kemudian membukanya.


Yang pertama dia temukan adalah, secarik kertas berwarna merah muda yang terdapat tulisan tangan Raja.


Buat kamu, buat ganti baju kamu yang aku rusak kemarin. Maaf, ya. Semoga kamu suka.


Dibubuhi akhiran gambar senyum. Mayang terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. Berpikir kapan Raja membelinya? Ia mengeluarkan pakaian tersebut, semakin merona pipinya ketika yang dia ambil adalah sebuah lingerie seksi.


Mayang menggeleng-gelengkan kepala.


"Benar-benar. Apanya yang mengganti, baju kekurangan bahan kayak gini. Mending nggak usah pake sekalian. Pake piyama aja diobrak-abrik tiap malam apalagi ini," gumamnya sembari melenguh pendek.


Tertawa hati kecilnya, membayangkan ia memakai pakaian itu sambil berbaring menunggu Raja. Mayang berdiri di depan cermin, ragu-ragu ia memasang pakaian tersebut di depan tubuhnya. Meringis, bukan hanya kekurangan bahan, tapi juga sangat tipis menerawang.


Mayang tertawa sendiri, kembali duduk di tepi ranjang untuk memeriksa tas tersebut. Selain itu, ia menemukan satu setel pakaian benar menurutnya lengkap dengan kerudung.


Tanpa berpikir panjang, Mayang mengenakan pakaian tersebut. Berputar memantaskan diri, kemudian menyambar tas dan keluar kamar. Pakaian yang terlihat sederhana, tapi sebenarnya tak sembarangan orang bisa membelinya.


Ia mencari kedua ibunya untuk berpamitan. Mobil jemputan sudah menderu di halaman, Mayang keluar dan tersenyum pada asisten Raja yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Paman. Kenapa harus dibukakan pintunya? Aku, 'kan, bisa buka sendiri," tanya Mayang setelah mobil melaju meninggalkan halaman.


Laki-laki paruh baya itu melirik istri sang atasan dari spion tengah, tersenyum hangat dengan kepolosan wanita itu.


"Itu sudah tugas saya, Bu. Saya dibayar memang untuk itu," jawabnya pelan.


Mayang membulatkan mulut, seperti para nyonya di TV-TV. Film-film yang dia nonton memperlihatkan adegan sang supir yang membukakan pintu mobil untuk majikannya. Mayang terkekeh sendiri, dia kira semua itu hanya ada dalam film dan tak akan ia jumpai di dunia nyata.

__ADS_1


Ia menggelengkan kepala, rasa tak percaya akan berada di posisi majikan. Berbeda dengan kehidupannya saat bersama Amir dulu. Jangankan ada supir yang menjemput, naik ke mobilnya saja ia sangat jarang, bahkan pembantu di rumah hanya bertugas membersihkan rumah.


"Mari, Bu. Pak Al sudah menunggu di ruangannya," ucap sang asisten sembari membukakan pintu mobil untuk Mayang.


Dahi wanita itu berkerut mendengar panggilan asing itu.


"Pak Al? Siapa itu?" tanya Mayang menatap bingung pada asisten Raja.


Ia menggaruk kepala yang tak gatal, lupa bahwa Mayang belum mengetahui sebutan Raja di kantornya.


"Mmm ... maksud saya suami Ibu, pak Raja. Mari!" ucapnya meluruskan.


Mayang membulatkan bibir, tersenyum kemudian. Melangkah diikuti laki-laki paruh baya yang tak henti tersenyum dengan tingkah menggemaskan istri atasannya itu.


"Jadi, namanya Al. Kenapa aku baru tahu, ya," gumam Mayang sesaat memasuki lift khusus Presdir.


"Iya, Bu. Panggilan Al dari kata Almunawwar. Kami semua mengenal suami Ibu dengan panggilan tersebut. Mungkin cuma sama Ibu pak Al mengaku bernama Raja," jelas sang asisten membuat Mayang mengerti.


Raja hanyalah nama samaran yang digunakan Al untuk orang yang belum mengenalnya.


"Benar juga. Namanya, 'kan, Rauza' Almunawwar." Dia bergumam sendiri.


Pintu lift terbuka, Mayang keluar diikuti sang asisten yang mengekor di belakangnya.


"Nggak usah mengetuk, aku akan masuk sendiri," titah Mayang ketika laki-laki itu hendak mengetuk pintu.


Tanpa mengetuk, Mayang membuka pintu ruangan Raja.


"Assalamu'alaikum!" Ia tertegun melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapan suaminya.


"Wa'alaikumussalaam! Sini, Yang. Aku udah nungguin dari tadi," sambut Raja sembari melambaikan tangan pada istrinya itu.

__ADS_1


Wajah Mayang berubah muram, senyum yang diukirnya sejak diluar hilang entah ke mana. Ia menutup pintu, melangkah pelan memasuki ruangan sang suami tanpa mengalihkan pandangan dari sosok tersebut.


"Kenapa dia di ruangan kamu, Mas?"


__ADS_2