Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 113


__ADS_3

Di halaman belakang rumah, Ratna dan Ambu masih duduk bercengkerama. Kini, ditambah Risya yang baru kembali dari sekolah. Sebuah notifkasi pesan dari nomor asing kembali mengganggu Ratna.


"Siapa, Bu?" tanya Risya ketika mendengar Ratna berdecak.


"Dari nomor yang kemarin, masih aja jelek-jelekin kakak ipar kamu. Heran, padahal Ibu nggak pernah nanggepin," ucap Ratna mengeluh.


Ambu yang mendengar terus murung, memikirkan anak satu-satunya yang kerap dihantam badai. Setelah semua berlalu, sekarang apa lagi? Hati tua Ambu bergumam.


"Siapa, sih, Bu? Kok, kayanya nggak suka banget sama kak Mayang. Aneh, deh. Apa maunya coba?" gerutu Risya kesal.


Ratna menghela napas, yang sebenarnya dia pun merasa jengah dengan si pengirim pesan. Biarlah dia terus menerus mengirimkan pesan, sampai bosan atau bahkan jemarinya keriting, Ratna tak akan pernah menggubris pesan tersebut.


"Dari dulu, setiap Mayang mau mendapatkan kebahagiaan pasti ada aja yang menghalangi. Ambu nggak tahu, mudah-mudahan Mayang kuat menghadapinya. Ambu kasihan sama dia," lirih Ambu terisak dan bergetar.


Ratna dan Risya yang mendengar, berhambur mendekati Ambu. Keduanya memeluk wanita tua itu menghibur sekaligus menguatkan hatinya yang rapuh.


"Sabar, Ambu. Mayang pasti kuat. Dia perempuan tangguh yang selalu tersenyum mengahadapi masalah. Kita nggak boleh jadi kelemahannya, kita harus menguatkannya agar dia nggak merasa sendirian," ucap Ratna.


Ambu menghela napas, menyudahi tangisnya. Ia mengangguk setuju. Tak akan lagi terlihat menyedihkan di hadapan Mayang.


"Ya, kamu bener." Ketiganya tersenyum, berharap keluarga mereka dilimpahkan kebahagiaan dan keharmonisan. Dijauhkan dari masalah yang membuat keharmonisan merenggang.


****


Di cafe, Mayang duduk di sebuah meja berderet dengan meja pengunjung lainnya. Semua itu atas permintaan Mayang sendiri yang memilih menikmati menu layaknya pengunjung biasa.


Keduanya duduk berhadapan, menikmati secangkir kopi berikut kudapan yang disediakan cafe tersebut.


"Kalo kayak gini, 'kan, kita kayak pengunjung yang lain. Kalo di dalam sana, berasa di rumah sendiri," ujar Mayang sembari menyeruput kopi di cangkirnya.


Raja terkekeh, merasa takjub dengan pemikiran istrinya yang benar-benar berbeda dengan perempuan kebanyakan. Jika melihat para istri koleganya, mereka lebih suka tempat tertutup untuk menjaga privasi mereka. Dilayani banyak pelayan bak ratu sejagad.


"Yang, aku ke toilet dulu, ya. Kamu nggak apa-apa, 'kan, sendirian di sini." Raja melirik sekitar, memastikan keadaan cafe tersebut aman untuk istrinya.


"Nggak apa-apa. Mas santai aja, aku tunggu di sini," sahut Mayang sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Raja beranjak, hajat yang tak dapat ditahan mengharuskannya untuk menuntaskan segera. Ia meninggalkan Mayang meski hati berat dan was-was.


Beberapa menit berlalu, Raja belum lagi kembali. Mayang mulai merasa bosan, melirik jam di ponselnya berkali-kali.


"Ngapain, sih. Kok, lama banget," gerutunya mulai kesal.


Secara kebetulan Amir datang ke cafe yang sama. Ia bersama seorang wanita yang disewanya untuk batas waktu yang telah ditentukan. Layaknya pasangan suami istri, mereka bergandengan tangan mesra masuk ke dalam cafe. Duduk di sebuah meja, menunggu pelayan menawarkan hidangan.


Amir membelalak, mengedipkan mata tak percaya. Hanya berjarak beberapa meja saja dari mejanya, Mayang duduk seorang diri. Senyumnya terbit dan bersinar, harapan untuk kembali pada sang mantan muncul lagi dengan menggebu.


"Kamu tunggu di sini, aku ada perlu sebentar," pamitnya pada wanita itu.


Ia menurut, sebagai wanita sewaan dia tidak diperbolehkan membatasi apa yang ingin dilakukan orang yang membayarnya. Tanpa banyak bicara, wanita itu menganggukkan kepala dan membiarkan Amir pergi menemui mantan istrinya.


Amir merapikan penampilannya, mulai dari rambut sampai sepatu yang ia kenakan. Memastikan tak ada yang kurang untuk dilihat.


Namun, ketika ia kembali melangkah, matanya memanas melihat Raja yang merangkul Mayang dari belakang. Laki-laki itu juga mencium kepala sang mantan istri membuat darah dalam tubuh Amir bergejolak panas.


Amir mengepalkan tangan, rahangnya mengeras terlebih saat melihat Mayang tersenyum menerima perlakuannya. Amir melanjutkan langkah, menegur sang mantan istri. Ia tak senang melihatnya bahagia bersama laki-laki lain.


"Apa ini?" tanya Mayang menerima kotak tersebut dengan tangan bergetar.


Langkah Amir kembali terhenti, menyaksikan keduanya yang terlihat mesra.


"Buka aja, mudah-mudahan kamu suka," sahut Raja misterius.


Mayang tersenyum, mengusap koyak tersebut sebelum membukanya. Ia menutup mulut terkejut ketika sebuah kalung berlian terpampang di depan matanya.


"Cantik banget. Ini pasti mahal." Mayang lesu saat harus membayangkan harga dari kalung tersebut. Dipandanginya benda itu dengan bahu yang melorot turun.


Raja terkekeh kegelian, masih saja khawatir soal harga. Ia berdiri, mendekat pada sang istri. Mengambil alih kalung tersebut dan memakaikannya meski masih terbalut hijab.


"Seseorang yang istimewa seperti kamu, harus mendapatkan yang istimewa pula. Kamu istimewa, Mayang." Raja mengecup ubun-ubun sang istri, mendekapnya mesra untuk beberapa saat.


Amir yang melihat semakin meradang, rasa cemburu menguasai hati membuatnya hilang akal. Laki-laki itu mulai mengayun langkah dengan geram, memainkan kepalan tangannya kesal.

__ADS_1


"Hhmm ... memalukan! Kalian bermesraan di tempat umum seperti ini, kayak udah nggak ada tempat lagi aja." Suara Amir terdengar mengejek. Ia juga tersenyum mencibir ketika Mayang menatapnya.


Raja mengangkat kepala, menantang tatapan Amir yang tajam.


"Ada apa, Bung? Apa kami mengganggumu?" tanya Raja sambil menegakkan tubuh, tapi tak beranjak dari memeluk Mayang.


"Bukan cuma aku, tapi semua pengunjung di cafe ini merasa terganggu dengan tingkah memalukan kalian!" sentak Amir dengan bengis.


Raja tersenyum, mengedarkan pandangan ke segala arah. Tak satupun dari semua pengunjung yang terlihat terganggu, mereka asik sendiri meski beberapa pasang mata melihat. Raja menghendikan bahu, menunjukkan pada Amir semua pengunjung di sana.


"Mereka terlihat biasa aja. Nggak ada yang terganggu, mungkin cuma kamu yang merasa terganggu karena melihat istriku ini. Lagipula apa salahnya suami istri bermesraan? Kami nggak melanggar moral," ujar Raja dengan sikapnya yang setenang air.


Amir semakin menggeram, matanya melirik kalung berlian yang melilit di leher Mayang. Ia mencibirkan bibir, memandang rendah pemberian Raja itu.


"Hmm ... cuma kalung begitu. Paling-paling kamu menggelapkan uang perusahaan tempat kamu bekerja. Begitu aja bangga ... ups, aku lupa kalo kamu cuma supir taksi online." Amir tertawa membuat Raja naik pitam.


Namun, sentuhan tangan Mayang pada di lengannya, meredam amarah yang bergejolak dalam dada laki-laki itu.


"Hati-hati, Bung, kalo bicara. Bagaimana kalo itu kebalikannya. Karirmu diambang kehancuran. Bersiap-siaplah berkemas dan meninggalkan jabatanmu!" ucap Raja jumawa.


Ia tersenyum merendahkan Amir, semua yang dilakukan mantan suami Mayang itu sudah ia ketahui.


Amir terhenyak sebentar, tapi kemudian tertawa geli.


"Emangnya siapa kamu? Beraninya ngomong besar kayak gitu." Amir menjatuhkan pandangan pada Mayang. Wanita itu hanya diam tak menyahut sepatah kata pun.


"Aku kasihan sama kamu, Mayang. Lepas dari aku yang punya gaji besar, jatuh pada pelukan supir taksi online yang kere. Gayanya aja selangit, tapi kantong nggak berduit. Sok-sokan beliin kalung berlian, padahal dapat korupsi. Aku laporkan perusahaan supaya kamu jadi pengangguran. Tahu rasa!" tuding Amir seraya berbalik meninggalkan mereka.


"Aku sarankan sama kamu untuk besok nggak perlu lagi datang ke kantor, tapi kalo kamu nekad ... silahkan!" ujar Raja berhasil menghentikan langkah Amir.


Mantan Amir itu melirik, tapi kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


"Mas, kamu beneran mau pecat dia?" tanya Mayang setelah kepergian Amir. Raja duduk di samping sang istri, memandang lelaki angkuh yang terus menjauh.


"Aku nggak butuh karyawan kayak dia. Akhir-akhir ini laporan keuangan dari kantor cabang banyak yang janggal. Aku curiga ada penggelapan dana di perusahaan tersebut, dan ternyata setelah diselidiki. Memang ada beberapa karyawan yang korupsi salah satunya dia, mantan suami kamu," papar Raja.

__ADS_1


Mayang menganggukkan kepala, keduanya beranjak meninggalkan cafe.


__ADS_2