
Tukang fitnah! Kamu perempuan menjijikkan yang pernah aku temui."
Suara tegas dipenuhi dengan tekanan itu berhasil menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Dua orang laki-laki bersama seorang anak kecil membelah kerumunan warga yang mengelilingi rumah Mayang.
"Ibu!" lirih Zalfa ketika melihat Mayang yang bersimpuh di kaki Ambu.
Mata Rani membelalak, termundur tubuhnya secara otomatis melihat kedatangan Raja yang tak terduga.
"Bu Rani?" Zalfa menyebut nama Rani saat pandangannya terjatuh pada wanita yang baru saja memfitnah Mayang.
"Temui Ibu, dia butuh dihibur," titah Raja mendorong punggung Zalfa untuk segera menemui Mayang.
"Ibu!" panggil kecil itu setelah berlari menjauh dari Raja, ia berdiri di luar teras rumah menatap Mayang dengan tatapan sendu penuh kerinduan.
"Zalfa?" Mayang bergumam, perlahan mengangkat wajah dan menoleh pada gadis kecilnya.
"Zalfa!" panggil Mayang. Matanya merah dan berair, ia berbalik sembari membentang tangan menyambut kedatangan anak angkatnya itu.
"Ibu!" Zalfa berlari dan masuk ke dalam pelukan Mayang. Menangis haru menumpahkan kerinduan yang mendalam.
"Zalfa kangen sama Ibu. Kenapa Ibu lama nggak nengokin Zalfa?" ungkap gadis kecil itu sambil terisak dalam pelukan Mayang.
Mayang menggelengkan kepala, ikut menangis bukan hanya karena sedih, tapi juga karena haru dapat bertemu dengan Zalfa.
"Ibu juga kangen sama kamu, sayang. Maaf, ya. Ibu belum bisa ke Jakarta buat nengokin kamu," ucap Mayang, seraya melepaskan pelukan dan menangkup wajah Zalfa.
Ibu jarinya mengusap pipi Zalfa, kemudian mengecup kedua pipi gadis kecil itu. Zalfa melakukan hal yang sama, seperti saat dulu mereka sering lalukan. Keduanya tertawa kemudian saling berpelukan kembali.
__ADS_1
Ambu menatap keduanya, tersenyum meski bingung dengan status anak tersebut. Apakah anak Mayang? Ataukah anak sambungnya dari Raja?
"Sebenarnya apa yang kamu mau? Kenapa terus menerus menggangu kehidupan Mayang? Dia sudah meninggalkan Jakarta dan memilih tinggal di desa, tapi kamu masih saja datang buat mengganggu dia," sengit Raja menuding Rani dengan tatapan tajam menohok.
Semua warga yang ada antusias menyaksikan perseteruan di antara cinta segitiga itu. Mereka ingin tahu kebenarannya. Mulai menebak-nebak apakah Mayang memang merebut calon suami perempuan itu?
"Aku mau kamu terima perjodohan kita!" tegas Rani tanpa tahu malu.
Bisik-bisik mulai terdengar dari sekumpulan warga yang menonton. Seandainya ada pak Tohir, mereka sudah pasti dibubarkan secara paksa oleh ketua RT itu.
"Perjodohan? Perjodohan apa? Di antara kita sama sekali nggak ada yang namanya perjodohan. Itu mau kamu sama ibu kamu aja, bukan kami. Aku bahkan bilang sama kamu kalo aku udah ada calon istri, tapi kayaknya bukan kuping kamu yang tuli? Hati kamu yang dibutakan kenyataan bahwa aku bukanlah seorang tukang ojek online." Raja tersenyum mencibir, menatap remeh sosok Rani yang membeliak seketika.
"Jangan kamu kira aku lupa, kamu pernah memandangku rendah. Aku nggak akan pernah melupakan itu. Lalu, kamu berubah setelah tahu siapa aku? Hhmm ... konyol! Ada ribuan perempuan yang punya sifat kayak kamu di belahan kota Jakarta, tapi Mayang ... sulit menemukan perempuan seperti Mayang di kota Jakarta."
Untaian demi untaian kata yang dituangkan lisan Raja menohok hati Rani. Ia menahan emosi hingga membuat dadanya naik turun dengan cepat. Raja menggelengkan kepala tak abis pikir dengan sikap egois yang diperlihatkan gadis itu.
Rani membuang muka, meludah tak senang. Ia menyumpah-serapahi mereka berdua, mengutuk kehidupan mereka agar tidak bahagia. Bisik-bisik di belakang Raja sangat menganggu telinga. Ia berbalik menghadap warga, menatap mereka satu per satu.
Satu per satu warga membubarkan diri dari rumah Mayang. Sambil terus berbisik-bisik bergosip tentang kedatangan Rani yang mengacau di desa mereka.
Raja menghela napas, menepuk bahu sang asisten untuk membawakan semua yang dibelinya untuk Mayang di jalan tadi.
"Kamu emang tega, Raja! Aku udah terlanjur cinta sama kamu, aku nggak mau perjodohan kita batal. Lakukan apa saja untukku Raja. Kumohon! Jadi istri kedua kamu juga aku nggak apa-apa," ratap Rani memelas kepada Raja.
Mendengar itu, Mayang mengangkat wajah menatap calon imamnya yang masih membelakangi Rani. Dia memang gigih, tapi untuk sesuatu yang salah. Laki-laki itu kembali menghembuskan napas, berbalik menghadap Rani menatap kasihan pada anak Lina itu.
"Rasanya nggak pantes seorang perempuan meminta kebahagiaan perempuan lainnya. Kamu kira aku laki-laki serakah yang nggak cukup satu perempuan? Maafkan aku, Rani. Itu bukan aku, karena aku nggak mungkin nyakitin hati istri aku sendiri. Menyiksa batin perempuan yang aku cintai." Raja menggelengkan kepala sambil menatap gadis itu.
__ADS_1
Rani menangis, malu dan marah bercampur jadi satu di hatinya. Membentuk sebuah gumpalan dendam yang kian subur tumbuh di sana. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, terlanjur membenci perempuan yang pernah menjadi sahabatnya itu.
"Pulang! Orang tua kamu pasti nyariin. Aku minta maaf karena aku benar-benar nggak bisa ninggalin Mayang demi kamu. Dia yang pertama aku cintai, cuma dia yang ingin aku jadikan istri. Bukan yang lain," pungkas Raja seraya berjalan mendekati gubuk Mayang.
Di teras sana, perempuan itu sedang menunggu bersama Zalfa. Ia menatap iba pada Rani yang terlalu memaksakan keinginan.
"Rani, kamu itu cantik, gelar kamu bagus. Aku yakin akan ada laki-laki baik yang mencintai kamu kelak. Belajarlah menerima seseorang dengan segala keadaannya. Jangan memandang rendah orang lain, hanya karena kamu merasa lebih tinggi dari mereka. Aku minta maaf kalo aku ada salah sama kamu, Rani. Maafin aku," cetus Mayang dengan segala kelapangan hati yang ia miliki.
Rani bergeming, diam tak menyahut. Berjalan dengan angkuh memasuki mobil. Pergi meninggalkan desa Mayang dengan perasaan malu yang meliputi hatinya.
Mayang mendesah pasrah, dia masih ingin berbaikan dengan perempuan itu. Jika saja Rani tidak keras kepala dan menyingkirkan egonya.
Ia masih di sana sampai mobil Rani menghilang di antara jejeran rumah warga. Raja menghadap Ambu yang duduk dengan napas tersengal di Amben. Menyalami wanita tua itu, seraya duduk di sampingnya.
"Ada yang sakit, Ambu? Perlu kita ke dokter buat periksa?" tanya Raja sembari menilik wajah Ambu yang menahan rasa sakit karena bokong membentur lantai tanah cukup kuat.
"Nggak apa-apa, nanti juga sembuh. Ambu cuma jatoh aja tadi," jawab Ambu dengan napas tersengal nyaris tenggelam.
"Di mana Ratna dan Risya?" tanya Ambu saat tidak melihat kedua sosok itu.
"Mereka di rumah, menunggu kalian. Hari ini aku datang buat jemput kalian untuk pergi ke Jakarta. Mungkin nanti sore kita berangkat," ucap Raja menerbitkan senyum Zalfa di bibir mungilnya.
"Jadi, Ibu mau kembali ke Jakarta?" pekiknya senang.
Mayang mengangguk sambil mengusap kepala anak itu, tersenyum lembut seperti seorang ibu yang sedang menuangkan kebahagiaan ke dalam hati anaknya. Mereka duduk melingkar di atas Amben, mengelilingi makanan yang dibeli Raja dengan sengaja di jalan tadi.
"Zalfa. Tadi di mobil waktu telpon Ibu kamu bilang ke sini sama calon ayah kamu, siapa?" bisik Mayang di telinga Zalfa.
__ADS_1
"Itu! Kak Raja. Ibu, 'kan, ibu aku. Kalo Ibu nikah sama kak Raja, nanti ayah aku." Zalfa tersenyum menampakkan deretan giginya yang telah berganti dari gigi susu.
Mayang menatap Raja dengan rona merah di pipinya. Berpaling karena tiba-tiba tersipu sendiri.