Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 86


__ADS_3

Pak Tohir memacu motor dengan kecepatan tinggi, terseok-seok di jalanan yang berliku. Naik dan turun layaknya pembalap profesional di dalam sirkuit. Mayang tentu sudah biasa, dia tidak takut sama sekali malah meminta pak Tohir untuk menambah kecepatan agar tidak didahului oleh Raja.


"Emang si Ujang itu nggak bilang dulu sama Mayang kalo mau ke sini?" tanya pak Tohir yang terbawa angin kencang.


"Nggak, Pak. Dia barusan bilang kalo udah sampe Cigemblong. Mungkin sekarang udah masuk desa. Dia, 'kan, pake mobil. Jadi cepat," cerocos Mayang terburu-buru mengatakan.


Tak sabar ingin segera tiba di rumah, memberi tahu Ambu perihal kedatangannya. Motor mereka memasuki desa, jantung Mayang tak lagi normal berdetak. Memukul-mukul rongga dada, membuatnya sesak. Akibatnya, dia seperti orang yang baru saja berlari ratusan meter.


Mata Mayang membulat sempurna, saat tiba di halaman rumah mobil Raja sudah terparkir di sana.


Duh, kenapa dadakan datangnya, sih? 'Kan, nggak bisa siap-siap buat nyambut jadinya.


Mayang menggerutu dalam hati, turun terburu-buru dan berlari memasuki rumah.


"Ambu!" Memanggil Ambu sambil berteriak cemas.


"Aya naon, Chu? Kok, teriak-teriak gitu," sahut Ambu yang tengah meniup api di dalam tungku.


"Ambu! Di mana Raja? Kok, nggak ada, tapi mobilnya ada." Mayang menatap sekeliling, mencari batang hidung lelaki itu.


"Dia ikut sama warga ke hutan, buat meriksa gubuk katanya. Di sana juga masih ada polisi," jawab Ambu tak acuh pada eskpresi anaknya yang membelalak terkejut.


"Mayang mau ke sana, Ambu!" ucap Mayang terburu-buru berlari takut dilarang wanita tua itu.


Ia berlari ke tepi sungai, berlarian menyebrang untuk tiba di hutan. Mayang mengikuti suara samar orang-orang, juga memperhatikan dari mana warga bermunculan untuk pulang.


Mayang mengintip dari balik semak, mencari keberadaan laki-laki yang membuat jantungnya berdegup tak karuan. Di sana, Raja dengan setelan jas bersama hitam, tengah berbicara dengan polisi. Ia tampak gagah dan berwibawa, berbeda dengan Raja yang biasa menjumpainya.


Mayang perlahan berjalan memasuki hutan, terus membelah kerumunan untuk dapat melihat dari dekat. Ia berdiri tepat di belakang laki-laki itu, melihat sesuatu yang membuat perutnya tiba-tiba terasa mual.


"A-apa itu ... mayat?'' pekik Mayang menyentak perhatian semua orang. Terutama Raja yang tengah fokus memperhatikan para polisi yang membedah satu bungkusan.

__ADS_1


Ia berbalik dengan mata lebar, terus mendatangi Mayang dan menarik tangannya agar menjauh dari kerumunan.


"Eh? Tunggu, Raja! Itu mayat apa bukan, sih?" tanya Mayang terseok-seok kakinya karena mengikuti tarikan Raja.


Raja menghentikan langkah, seraya melepaskan tautan tangannya. Menelisik Mayang dari atas sampai bawah, kemudian mendesah lega. Ia membentang tangan hendak memeluk wanita itu, tapi Mayang menahan dadanya dengan cepat.


"Mau ngapa?" ketusnya melotot lebar pada mata Raja.


Laki-laki itu menurunkan tangan, mundur satu langkah sembari mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Pengen peluk kamu tadinya, tapi nggak boleh," katanya merajuk.


Mayang melipat kedua tangan di perut, memicingkan mata pada lelaki itu.


"Nggak boleh!" tegasnya sembari menggelengkan kepala.


"Dikit aja." Raja merajuk, memelas lewat mimik wajah yang menggemaskan.


"Kenapa kamu ke sini? Dadakan lagi, bikin panik orang aja," tanya Mayang.


Raja mendesah, melirik ke dalam hutan di mana para polisi dan beberapa warga sedang memeriksa gubuk tersebut.


"Aku cuma mau lihat keadaan kamu. Nggak tahu kenapa lihat kamu di berita tadi, bikin jantung aku serasa mau copot," ucap Raja serius.


Mayang mencibirkan bibir, tapi senang di dalam hati karena Raja rela datang jauh-jauh ke desa hanya untuk memastikan dirinya.


"Aku nggak apa-apa, kok. Ayo ke rumah, Ambu udah masak," ajak Mayang melangkah lebih dulu menyebrangi sungai.


Raja mengekor di belakang Mayang, mengikuti langkah wanita itu menuju rumahnya.


****

__ADS_1


"Ambu, Mayang. Aku datang bukan cuma buat mastiin keadaan kalian aja, tapi juga bermaksud mau ngajak kalian tinggal di Jakarta. Desa ini kayaknya lagi nggak aman," ucap Raja mengatakan niat yang sebenarnya dia datang ke desa.


"Gimana, Nak?" tanya Ambu belum jelas.


Raja menghela napas, memantapkan kemauannya untuk mengajak mereka tinggal di Jakarta.


"Penjahat yang menemui Mayang itu seorang buronan polisi. Dia mencabuli anak-anak di bawah umur, dan yang kamu lihat tadi itu emang mayat, Mayang. Salah satu warga di sini katanya, aku sempat mendengarnya tadi. Jadi, untuk keamanan kalian aku ingin kalian tinggal di Jakarta sama ibu dan Risya. Gimana?" jelas Raja.


Keduanya sedikit terkejut mendengar kabar tersebut, tapi untuk ikut bersamanya saat itu juga Ambu tidak bisa menyetujuinya.


"Maaf, Nak Raja. Kalo misalnya kami ikut tinggal di Jakarta, sedangkan kalian itu belum nikah, Ambu khawatir jadi gunjingan tetangga nantinya. Jadi, udahlah nggak apa-apa kami tetap di sini dulu. Toh, sebentar lagi juga tiba waktunya," tolak Ambu karena merasa nama baik yang sedang dipertaruhkan.


Ambu juga khawatir, bila tinggal bersama hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Mengingat status Mayang adalah janda dan belum lepas masa iddah.


Raja melirik Mayang, ia tak bisa memaksakan keinginannya meskipun sangat. Akhirnya mengangguk dan menerima keputusan Ambu untuk tetap tinggal di desa sampai waktunya tiba nanti.


"Ya udah, kalo gitu aku mau pulang ke Jakarta dulu. Kalian jaga diri baik-baik, ya. Mayang, jangan bepergian terlalu jauh. Aku khawatir masih ada sisa penjahat di dalam hutan itu yang mengincar kepolosan warga di sini," ucap Raja dengan cemas.


Mendengar itu, hati Ambu menjadi was-was. Terlebih saat mengingat Mayang selalu pergi mencari daun kiray untuk membuat hateup. Ambu menatap anaknya cemas, ia tak akan meminta Mayang untuk pergi lagi.


"Iya, aku juga takut keluar-keluar lagi." Mayang menganggukkan kepala saat menoleh kepada Ambu. Wanita tua itu mencoba untuk percaya karena bagaimanapun keadaan di desa untuk saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Raja berpamitan pada mereka, dengan diantar Mayang menuju mobilnya, mereka kembali berpisah. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya kepada Mayang.


"Ambil ini, pakai buat keperluan kamu sama Ambu. Jangan ke hutan lagi buat cari daun itu, jangan capek-capek lagi bikin hateup. Insya Allah cukup sampai aku datang lagi. Ini terima!" ucap Raja memberikan amplop tersebut kepada Mayang.


"Apa ini?" Mayang menerima dan memeriksa isinya. Ia membelalak saat melihat isi di dalamnya adalah uang yang tidak sedikit jumlahnya.


"Nggak usah lagi pusing mikirin tagihan, kamu pasti udah tahu siapa aku, 'kan? Maaf, ya, untuk itu. Aku juga nggak bermaksud buat bohongin kamu, tapi aku suka cara kamu memperlakukan aku. Jangan salah sangka atau ngerasa dibohongi," ungkap Raja membuka kebenaran dirinya.


Mayang mengerti, tersenyum dan mengangguk. Raja menghidupkan mesin mobil, berpamitan pada Mayang untuk kembali ke Jakarta. Sampai dua bulan datang dan berlalu.

__ADS_1


Dua bulan kemudian ....


__ADS_2