
"Sayang sekali, kenapa nggak nikah di sini aja?" ujar pak Tohir sembari melirik Mayang yang duduk berdampingan bersama Ambu.
Ketua RT tersebut menghela napas untuk kemudian kembali menatap Raja.
"Bukan apa-apa, Pak. Keluarga besar saya ingin menyaksikan pernikahan kami, sedangkan sebagian dari mereka tinggal dan hidup di luar negeri. Mungkin cuma punya waktu sehari buat menghadiri acara pernikahan ataupun alasan lainnya. Saya sendiri mau di sini sebenarnya," jawab Raja ikut melirik Mayang yang segera tertunduk saat mata mereka beradu.
"Yah, sudahlah. Nanti saya sama keluarga saya nyusul ke sana. Itu juga sudah kewajiban saya sebagai pamannya Mayang buat menggantikan posisi amaknya menjadi wali. Hati-hati, di jalan." Pak Tohir mendesah, dengan berat hati melepas Ambu meninggalkan desa.
Selama ini dialah yang menjaga Ambu ketika Mayang di Jakarta. Sekarang, Ambu akan hidup bahagia tinggal bersama anak satu-satunya. Mereka pun berpamitan, tak hanya pada keluarga pak Tohir, tapi juga pada warga setempat yang melepas kepergian Ambu.
"Masuk! Kalian akan merasa nyaman di dalam sini," ujar Raja menunjukkan mobil bagian dalam yang tidak terdapat kursi, melainkan hamparan kasur yang terlihat nyaman.
"Makasih, ya," ucap Mayang.
Ia membantu Zalfa untuk menaikinya terlebih dahulu, kemudian membantu Ambu, menyusul dirinya. Raja menutup pintu mobil, sekali lagi melambaikan tangan pada warga desa sebelum masuk.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Mayang, ada sedih yang hinggap mengiringi kepergian mereka. Puluhan tahun tak pernah meninggalkan rumah, kini peninggalan sang suami akan benar-benar Ambu tinggalkan.
Ambu mengusap air matanya, saat bayangan mendiang amak Mayang melintas dalam benak. Dia seorang laki-laki yang gigih dan pekerja keras. Semua pekerjaan digelutinya untuk dapat menyambung hidup bersama istri dan anak.
Mayang yang melihat, turut merasakan sedih hatinya. Dengan lembut mengusap bahu Ambu memberinya kekuatan. Wanita itu mengangguk ketika bertemu pandang dengan manik berkabut milik Ambu.
"Nenek nggak usah sedih, di sana aku juga tinggal sama nenek. Orang tuaku udah meninggal semuanya, tapi sekarang aku punya ibu lagi dan sebentar lagi punya ayah juga," ucap Zalfa dengan polos.
Ia memandangi Mayang, tersenyum sumringah menampakkan deretan giginya yang putih. Gadis kecil yang menggemaskan, membuat siapa saja yang melihatnya tersenyum akan terhipnotis oleh kepolosannya.
Mayang memeluk Zalfa, mengecup ubun-ubunnya dengan penuh cinta. Rasa hangat pelan-pelan hadir memenuhi relung hati Ambu, terus merayap hingga menyentuh kedua matanya. Tangis haru dan bahagia bisa melihat Mayang menyayangi seorang anak.
Perjalanan panjang yang ditempuh Zalfa pulang dan pergi, melelahkan tubuhnya yang kecil. Ia berbaring di samping Mayang, memeluk guling yang disediakan Raja untuk kenyamanan mereka.
__ADS_1
Laki-laki itu membuka tirai, memeriksa keadaan belakang. Senyumnya beradu dengan milik Mayang untuk beberapa saat, sebelum tirai ditutupnya kembali.
"Chu, perempuan tadi itu emangnya siapa?" tanya Ambu teringat pada Rani.
Mayang menundukkan kepala, mantap wajah damai Zalfa yang terlelap. Disapunya dengan lembut rambut gadis kecil itu. Sungguh sangat disayangkan ia melihat sifat sebenarnya dari guru yang ia hormati.
"Itu Rani, Ambu. Dia teman Mayang di Jakarta, ngajar di sekolah yang sama dengan Mayang. Ibunya baik, dia juga baik, tapi dia berubah sikap sama Mayang. Awalnya Mayang nggak tahu kenapa, nggak tahunya gara-gara Raja. Katanya mereka dijodohkan."
Mayang menghela napas pelan, menatap jendela dengan hampa. Semoga setelah menikah nanti, Rani akan sadar bahwa hati seseorang tidak bisa dipaksakan.
"Emang kamu nggak tahu kalo mereka dijodohin?" tanya Ambu menilik kembali masalah yang terjadi.
Mayang memalingkan wajah kepada wanita tua itu.
"Bukannya Ambu denger sendiri bu Ratna cerita." Ia kembali mengingatkan Ambu.
"Perjodohan itu cuma sebelah pihak aja yang mau, Ambu. Dari awal aku udah bilang sama mereka nggak mau ada perjodohan karena aku udah punya Mayang buat jadi calon istriku, tapi mereka tetep keukeuh mau melanjutkan perjodohan. Yah, aku cuma pesan aja, jangan percaya apapun yang mereka bilang," sambar Raja tanpa membuka tirai.
Hening. Keadaan menjadi sepi saat senja datang memayungi bumi. Perlahan menggelap, awan-awan hitam berkumpul di langit menenggelamkan sang mentari pada peraduannya.
Mobil berhenti di parkiran gedung apartemen tempat tinggal Raja. Mayang terbangun, dan membuka tirai. Dahinya mengernyit merasa asing dengan lingkungan tersebut.
"Di mana ini? Apa ini hotel?" tanyanya dengan suara yang parau.
"Bukan, ini apartemen. Rumahku ada di lantai tiga puluh dua. Sementara kamu sama Ambu tinggal di sini, ya. Ibu sama Ratna juga tinggal di sini karena Rani dan mamahnya sering datang mengganggu ke rumah," jawab Raja seraya turun dari mobil.
Mayang membangunkan Zalfa juga Ambu, bersama-sama berjalan memasuki gedung. Karena tidak tega melihat Ambu yang berjalan kepayahan, Raja berinisiatif menggendongnya hingga masuk ke dalam lift.
"Ambu berat, Nak," ujar Ambu tak enak.
__ADS_1
"Nggak, Ambu. Ini enteng, Mayang aja aku sanggup gendong," balas Raja sembari melirik Mayang menggodanya.
Anak Ambu itu menggigit bibir, melengos menghindari tatapan Raja.
"Kalo nanti aku tinggal di sini, kamu tinggal di mana?" tanya Mayang masih membuang pandangan dari Raja.
"Aku gampang, di mana aja bisa. Di kantor, di rumah Pak Heru, di mana ajalah pokoknya," ujar Raja dengan yakinnya.
"Nggak di rumah?" Mayang menyelidik, sedikit melirik kepada Raja.
"Siapa yang mau tinggal di rumah yang sering didatangi dua setan betina. Nggak ada yang mau," ucap Raja ketus.
"Dia teman aku, mereka sebenarnya baik. Cuma sekarang dibutakan oleh sesuatu yang menyilaukan mata mereka. Aku sendiri nggak ngerti kenapa Rani bisa begitu," keluh Mayang menyayangkan sikap Rani yang berubah.
"Udahlah, nggak usah dipikirin." Raja mengakhiri obrolan ketika pintu lift terbuka, ia mengajak semua orang ke apartemen miliknya.
Tanpa meminta izin penghuni di dalam, Raja membuka pintu rumahnya. Ia mengajak masuk semua orang, sedangkan Ratna dan Risya berada di depan televisi usai menunaikan kewajiban empat rakaat mereka.
"Assalamu'alaikum, Bu! Risya! Kalian di mana?" ucap Raja memanggil kedua wanita penghuni apartemennya itu.
Keduanya tersentak, saling menatap satu sama lain sebelum beranjak dengan terburu-buru.
"Kakak!" Risya memekik senang, berlari menghampiri Mayang dan memeluknya.
"Aku senang Kakak datang," ucap Risya mengeratkan pelukan sebelum melepasnya.
Mayang menyalami Ratna, mereka berpelukan melepas rindu setelah dua bulan lamanya tidak saling menyapa. Keduanya membawa mereka masuk ke dalam, duduk di sofa yang empuk dengan nyaman.
"Alhamdulillah, akhirnya Ambu sama Mayang sampe juga di sini." Ratna mengelus tangan Ambu, mengutarakan rasa senangnya lewat sentuhan tangan.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah."
Mereka bercengkerama ringan, dilanjutkan dengan makan malam. Selepas mengisi perut, Raja dan asistennya berpamitan pergi.