Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 89


__ADS_3

Di belahan lain kota Jakarta, seorang gadis berjalan tanpa senyum keluar dari sebuah butik. Wajahnya tegas dan keras, seolah-olah menunjukkan betapa kerasnya kehidupan yang ia jalani.


Masuk ke dalam mobil dengan angkuh, menekan klakson menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan.


Rani, melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran butiknya. Dia masih belum menyerah, setelah beberapa waktu yang lalu menyaksikan pernikahan sahabatnya sendiri, Tsabit.


"Gimana? Kamu udah dapet info di mana dia tinggal?" tanyanya lewat sambungan telepon pada seseorang.


Ia mengangguk puas setelah mendapatkan jawaban. Jika dia tidak bisa mendapatkan laki-laki yang dia inginkan, maka siapapun jangan harap akan mendapatkannya.


Rani memicingkan mata, sebuah rencana jahat terbesit di otaknya. Ia tersenyum licik dan angkuh, kedua matanya dipenuhi api dendam yang membara.


****


Di tempat lain, sepasang pengantin baru mendatangi kontrakan Mayang yang dulu untuk bertemu dengan seseorang. Ia telah membuat janji sebelumnya.


Di sana, Zalfa berdiri bersama sang nenek, menunggu kedatangan Tsabit bersama istrinya. Tersenyum bibir gadis kecil itu, hari ini adalah hari yang ditunggunya karena ia akan dipertemukan dengan Raja.


"Pak Guru!" sapanya seraya menyalami Tsabit juga sang istri.


"Assalamu'alaikum, Nek! Gimana kabarnya?" tanya Tsabit dengan ramah.


"Wa'alaikumussalaam. Alhamdulillah, Pak. Saya masih sehat," jawab nenek Zalfa sambil mengulas senyum.


"Saya izin bawa Zalfa sebentar, ya, Nek. Nanti kalo udah selesai, saya langsung membawanya pulang," ucap Tsabit yang diangguki wanita tua itu.


Semalam Zalfa sudah berbicara dengannya. Ia sendiri sudah lama tidak bertemu dengan pemuda yang selalu membantu Mayang membuat keripik.


Zalfa berpamitan pada sang nenek dan ikut bersama Tsabit untuk menemui Raja di kantornya.


"Kamu kangen banget sama, ya, bu Mayang?" tanya laki-laki itu sambil melirik Zalfa yang duduk di jok belakang.


"Iya, Pak. Zalfa kangen banget sama ibu. Kira-kira, nanti ibu tinggal di Jakarta lagi nggak, Pak?" ungkapnya sembari berharap Mayang akan kembali menetap di Jakarta.


"Kayaknya iya, soalnya nggak mungkin Raja bolak-balik. Pasti capek," sahut Tsabit memberikan harapan pada hati kecil Zalfa.


Gadis kecil itu tersenyum, di dalam hati melangitkan doa agar dapat berkumpul kembali bersama Mayang. Mobil yang mereka kendarai tiba di depan sebuah gedung menjulang tinggi.


Tsabit mengajak mereka keluar serta bersama-sama memasuki gedung tersebut. Ia menghadap resepsionis bertanya soal keberadaan CEO mereka.


"Apa Bapak sudah membuat janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis dengan ramah.

__ADS_1


"Sudah," jawab Tsabit dengan yakin.


"Dengan bapak siapa? Biar nanti saya sampaikan," ucapnya lagi.


"Sebut saja Zalfa." Tsabit tersenyum pada wanita resepsionis itu, kemudian berbalik setelah dia mengangguk.


Tangannya menekan nomor ruangan sang CEO, memberitahu soal kedatangan anak bernama Zalfa.


"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Al. Katanya mereka sudah membuat janji sebelumnya," ucap sang resepsionis kemudian diam mendengarkan.


"Atas nama siapa?" tanya sang asisten sambil mengernyit.


"Atas nama Zalfa, Pak."


"Zalfa?"


Mendengar satu nama yang diulang sang asisten setelah disebutkan oleh resepsionis, Raja yang tengah memeriksa dokumen menghentikan gerakan tangannya.


"Maaf, tapi-"


Laki-laki itu tertegun ketika Raja dengan cepat menyambar gagang telpon.


"Suruh mereka menunggu, layani dengan baik. Aku akan turun sekarang!" titah Raja pada sang resepsionis dengan cepat.


"Dia anak angkat Mayang, jangan pernah menolaknya!" ingat Raja dengan tegas padanya.


Laki-laki itu masih pada posisi mematung, tak habis pikir dengan atasannya yang benar-benar berubah. Raja berjalan keluar, tak lagi mempedulikan kehadiran sang asisten.


"Di mana mereka?" tanya Raja pada pekerjanya di lobi.


"Mereka di dalam ruang tunggu, Pak."


Raja melanjutkan langkah menuju ruang yang dimaksud. Membuka pintu, dan tersenyum menyapa gadis kecil itu.


"Kakak!" Zalfa berdiri dan berlari memeluknya.


Raja tersenyum, mengusap rambut gadis kecil itu seraya mengangkatnya ke dalam gendongan. Ia berjalan mendatangi sofa di mana Tsabit dan istrinya menunggu.


"Selamat siang, Pak. Maaf kami mengganggu waktu Bapak," ucap Tsabit tak enak.


Raja terkekeh, langkahnya semakin dekat, kemudian menepuk bahu laki-laki yang beberapa waktu lalu melepas masa lajangnya.

__ADS_1


"Di depan karyawan aku, kamu boleh panggil aku begitu, tapi kalo cuma ada kita, panggil aja kayak biasanya." Raja menepuk bahu Tsabit lagi sebelum beranjak duduk bersama Zalfa yang ia dudukkan sebelumnya.


Tsabit tersenyum, dia mengerti hanya saja basa-basi tadi untuk menghargai Raja sebagai pemilik gedung tersebut.


"Jadi, ada apa kalian ke sini?" tanya Raja sembari mengusap kepala Zalfa dengan lembut.


Gadis kecil itu mengangkat kepala, menatap wajah Raja yang dulu sering menemaninya bermain di rumah Mayang.


"Kakak, aku kangen sama ibu. Kata Pak Guru Kakak mau ke rumah ibu. Kalo emang Kakak mau ke sana, aku mau ikut sama Kakak," ucap Zalfa dengan mata yang memelas padanya.


Ada kerinduan yang dalam terpancar di kedua manik kecil itu. Sama seperti dirinya, Raja pun merindukan Mayang. Laki-laki itu mengecup dahi Zalfa, sama seperti yang selalu dilakukan Mayang padanya.


"Sabtu pagi Kakak akan ke sana. Kamu siap-siap, ya. Nanti Kakak jemput, Mayang pasti senang ketemu sama kamu," jawab Raja membayangkan betapa senangnya Mayang bertemu dengan anaknya.


"Beneran, Kak?" Kedua mata kecilnya berbinar terang, memegang erat lengan Raja saking senangnya.


"Bener, dong. Makanya nanti kamu siap-siap, ya. Tunggu di depan gang, biar langsung naik aja," jawab Raja memastikan.


Zalfa mengangguk senang, memeluk Raja seperti ayah sendiri. Tsabit dan istrinya turut merasakan kebahagiaan Zalfa, tersenyum sambil menautkan jemari.


"Ya udah. Kamu udah makan? Kebetulan Kakak belum makan. Kita makan sama-sama, ya?" tanya Raja pada gadis kecil itu.


Zalfa menganggukkan kepala, sudah beberapa hari setelah melihat wajah Mayang di televisi, ia tak enak makan. Raja mengalihkan pandangan pada sepasang pengantin baru yang sejak tadi diam mendengarkan.


"Kalian mau ikut makan sama-sama? Atau punya acara sendiri?" tanya Raja pada mereka.


"Sebenarnya kami ada keperluan. Jadi, kami nggak bisa ikut. Aku titip Zalfa, ya. Tolong diantar," pinta Tsabit.


"Mmm ... baiklah. Kalian nggak udah khawatir, Zalfa aman sama aku," sahut Raja seraya berdiri setelah Tsabit dan istrinya beranjak dan sofa.


Ia mengantar mereka ke luar, dan mengajak Zalfa untuk pergi ke restoran yang dia mau. Gadis kecil itu memilih restoran ayam goreng, duduk berdua mengisi perut. Tak lupa membeli untuk nenek di rumah.


Kebahagiaan jelas terpancar di wajah mungil itu, ia tak sabar menunggu esok. Bertemu dengan wanita yang menyayanginya seperti anak sendiri.


"Udah kenyang?"


Zalfa menganggukkan kepala.


"Kita pulang?"


Dia mengangguk lagi.

__ADS_1


Raja mengantar Zalfa pulang, sekaligus meminta izin sang nenek untuk membawanya pergi esok pagi menemui Mayang.


__ADS_2