
Dua bulan kemudian.
Di rumah besar Jakarta, ibunya Amir mendatangi sang asisten rumah tangga yang berada di dapur. Dengan wajah yang sumringah, ia mendekati wanita paruh baya itu.
"Bi, kalo buat selamatan empat bulanan butuh apa aja, ya? Saya nggak tahu soalnya," bisik ibunya Amir sembari melirik ke kanan dan kiri khawatir ada Melina yang akan menguping.
"Emang mau empat bulanan siapa, Bu?" tanya sang asisten dengan bingung.
Wanita itu berjengit tak senang, berdecak sambil melengos kesal.
"Ya, menantu saya, dong. Kamu pikir siapa lagi? Kamu ini, 'kan, udah punya cucu. Jadi, pasti tahu apa aja yang harus dipersiapkan. Nanti saya kasih uangnya aja, ya. Kamu yang belanjain," ujar ibunya Amir sedikit kesal.
Sang asisten termenung, memikirkan tentang Melina yang tak terlihat seperti orang hamil. Perutnya saja tetap rata, tidak membesar seperti orang-orang hamil kebanyakan.
"Ya udah, pokoknya kamu siapin semuanya, ya." Ia menepuk tangan sang asisten kemudian hendak pergi.
"Eh, Bu. Apa iya Non Meli hamil? Saya lihat, kok, nggak kayak perempuan hamil kebanyakan, ya. Biasa aja gitu, terus perutnya juga segitu aja nggak besar-besar," ujar sang asisten memberanikan diri mengungkapkan isi pikiran.
Wanita paruh baya itu tertegun, kembali mendekati sang asisten. Mendengar itu ia pun menyadari kejanggalan pada tubuh Melina.
"Kamu bener, saya baru sadar. Nanti coba saya tanya sama dia. Apa dia itu hamil beneran atau cuma pura-pura?" bisik ibunya Amir yang diangguki sang asisten.
"Terus, jadi belanja nggak Bu?" tanya asisten tersebut memastikan.
"Nanti kamu tunggu kabar dari saya, ya," jawabnya seraya melengos pergi meninggalkan dapur.
Ia duduk di ruang tengah, menunggu Melina yang pergi entah ke mana. Setiap harinya tak ada yang dia kerjakan selain pergi keluyuran keluar atau berleha-leha di salon. Menghabiskan uang yang diberikan Amir setiap bulannya.
"Ke mana lagi itu si Melina? Apa aja yang dia kerjain di luar sana sebenernya? Kok, hampir tiap hari keluar dan nggak jelas pulangnya. Pantas saja Amir nggak betah di rumah, nggak kayak waktu sama Mayang dulu. Amir jarang banget beli makanan dari luar." Ia mulai mengeluh, mulai membandingkan kehidupan Amir saat bersama Mayang dulu dan sekarang.
Sangat jauh berbeda, penampilannya terawat, perutnya terjaga. Sayang, dia tidak bisa hamil. Oleh sebab itu, ibunya Amir mengirimkan Melina sebagai sekretaris pribadinya. Dengan sebuah perjanjian yang mereka sepakati. Yaitu, Melina bisa mengandung anak Amir.
__ADS_1
"Amir jarang banget di rumah sekarang, di mana dia tidur? Apa dia udah punya istri lain, ya?" gumamnya mulai berpikir tentang sang anak.
Hingga siang hari tiba, sosok Melina tak kunjung terlihat. Ibunya Amir mulai bosan menunggu, berdecak beberapa kali dengan geram.
"Kurang ajar si Melina! Ke mana, sih, dia? Sampe jam segini belum pulang juga," gerutunya sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul empat belas siang hari.
Setengah hari sudah menantu yang dibanggakannya itu pergi, tanpa memberitahu tujuan, tanpa ketepatan waktu pulang.
"Kenapa dia nggak bisa diam di rumah? Nggak kayak si Mayang. Keluar cuma ke sekolah aja atau paling diajak Amir main. Duh, nyesel aku kalo kayak gini," umpatnya mengeluh pada diri sendiri.
Dulu, dia asik menghina Mayang karena tak kunjung hamil, tapi wanita itu tidak pernah membalas hinaannya. Tidak seperti Melina, bila dinasihati dia akan marah.
Tak lama, suara deru mobil menggaung di halaman. Ibunya Amir tersentak, segera bangkit untuk memapak langkah sang menantu. Ia berdiri sambil berkacak pinggang, menatap nyalang sosok wanita yang baru saja menapaki teras dengan kedua tangan dipenuhi tas belanjaan.
"Dari mana aja kamu?" tanya ibu Amir sembari menilik tubuh Melina dari atas hingga bawah. Juga tangannya yang penuh.
Tidak ada yang berubah sama sekali meskipun setiap hari pergi ke salon untuk mempercantik diri.
Ia melanjutkan langkah yang sempat terhenti karena teguran dari sang ibu mertua.
"Hei, saya masih di sini! Main ngelonong aja kamu! Sini, saya mau nanya sama kamu," hardik ibu Amir bertambah garang.
Melina meneguk ludah gugup, tak biasanya sang ibu mertua bersikap ketus apalagi keras terhadapnya. Ia berbalik, dan kembali menuruni anak tangga berhenti di depan sang mertua.
"'Kan, tadi udah aku jawab, Bu. Mau nanya apa lagi?" Melina menurunkan bahunya malas, dia ingin segera mencoba pakaian-pakaian yang baru saja dibelinya.
Ibunya Amir melangkah semakin mengikis jarak antara mereka. Melina meneguk ludah ketika matanya terjatuh pada kedua manik tajam di hadapan.
Sekonyong-konyong, tangan ibunya Amir terangkat dan secepat kilat menyentuh perut Melina. Mulut istri Amir itu menganga, kedua matanya menjegil terkejut. Tak menyangka wanita paruh di depannya akan melakukan hal tersebut dengan tiba-tiba.
Ibunya Amir menengadah, menatap Melina dengan mata yang memicing. Perlahan menegakkan tubuh, tanpa mengalihkan tatapan dari wajah pucat sang menantu.
__ADS_1
"Kenapa perut kamu masih rata aja, Melina? Padahal ini udah empat bulan, seharusnya sudah sedikit membesar. Ada apa? Apa kamu mau coba-coba menipu saya?!" tuding ibunya Amir dengan keras.
Melina menggelengkan kepala takut, lidahnya kelu tak dapat mengatakan apapun. Matanya mengembun, napasnya memburu berat. Dia terpojok, tak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa kamu diem? Jadi benar kalo selama ini kamu itu cuma pura-pura hamil, hah? Dasar penipu!" hardik ibunya Amir tidak bisa menerima.
Melina menunduk, masih menggelengkan kepala bingung. Terus berpikir apa yang harus dia katakan untuk membela dirinya.
"Ng-nggak, Bu. Aku nggak bohongin Ibu. Sumpah! Aku emang hamil, Bu. Bukannya Ibu lihat sendiri hasil tes dari rumah sakit waktu itu? Nggak mungkin aku berani bohongin Ibu," kilah Melina menekan rasa gugup juga takut yang menguasai hati.
Ibunya Amir berpikir, dulu Melina memang sempat memberikan hasil tes dari dokter, tapi dia tidak membaca dengan teliti karena saking senangnya. Kini, dia harus melihat ulang tes tersebut.
"Di mana? Di mana kertasnya? Saya mau lihat lagi, saya mau baca lagi supaya saya yakin. Sini! Ambil kalo emang ada," titahnya sembari memainkan tangan meminta pada sang menantu.
Melina menggigit bibir, lupa kertas itu ditaruh di mana. Masih berpikir ketika suara tinggi sang mertua menyentak tubuhnya.
"Di mana!"
Melina terhenyak, secara tiba-tiba tubuhnya mematung tak dapat bergerak. Ia mengangkat wajah, menatap dengan bibir gemetar mertua galak di depannya.
"A-ada, Bu. Ada di kamar, saya ambil dulu," ucapnya tergagap.
"Ya udah. Pergi ambil sana! Awas aja kalo kamu ketahuan nipu!" sengit sang mertua membuat Melina kalang kabut.
"I-iya."
Baru saja berbalik hendak menapaki anak tangga, suara lain segera menghentikannya.
"Nggak perlu! Suratnya ada di sini!"
Melina terhenyak, napasnya tiba-tiba berhenti.
__ADS_1