
Sesuai arahan dari Mayang, setelah satu minggu penyelidikan, warga kampung tersebut menemukan sebuah kejanggalan di hilir hutan. Terdapat sebuah bangunan berupa gubuk bambu di dalam hutan tersebut. Ada aktivitas mencurigakan di dalamnya.
Ketua RT dan warga lainnya melaporkan kejadian tersebut dengan mendatangi kantor polisi terdekat yang bisa mereka jangkau sambil membawa bukti-bukti berupa gambar yang mereka ambil.
Hari itu dilakukan pengepungan di sekitar hutan yang dicurigai. Mayang sendiri, duduk melamun di amben. Menopang dagu dengan tangannya, bosan. Iri melihat warga yang hilir mudik melintasi rumahnya untuk mengungkap kasus kehilangan seseorang di desa tersebut.
"Hhmm ... kenapa Ambu nggak ngizinin aku pergi, sih? 'Kan, bosen jadinya kalo cuma duduk di sini," keluh Mayang menatap tepi sungai yang dipenuhi warga juga polisi.
"Mayang! Hayu urang nempo ka lebak. Teu biasana maneh, teh, cicing wae di Imah." (Mayang! Ayo kita lihat ke bawah. Nggak biasanya kamu diam aja di rumah).
Sekelompok ibu-ibu muda yang merupakan teman Mayang sewaktu kecil, mengajaknya untuk ikut pergi melihat. Mayang mendengus, ingat akan ancaman Ambu.
"Teu meunang ku Ambu." (Nggak boleh sama Ambu).
Dia bersungut-sungut sambil melengos menghindari tatapan mereka yang sedikit mengejek.
"Tuh, baru tahu gimana rasanya nurut kalo dilarang. Kamu, mah, nggak pernah mau denger omongan Ambu, sih." Mereka tertawa seraya melanjutkan langkah turun dari rumah Mayang ke tepi sungai.
Mayang menggerutu dalam hati, ia juga ingin pergi untuk dapat melihat penggerebekan itu. Ada banyak wartawan datang untuk meliput. Mereka terlihat sedang menanyai para warga.
"Ih, dasar. Bilang aja pengen masuk tv," cibir Mayang ketika melihat beberapa warga yang berkerumun di depan kamera.
"Mereka itu apa-apaan di sana. Bikin ribet polisi aja yang lagi kerja." Ambu mendesah berat di samping Mayang.
Di pangkuannya sepiring rebus singkong masih mengepulkan asap. Mayang mendelik kemudian mencomot satu potong rebusan singkong di pangkuan Ambu.
Keduanya tidak lagi begitu memperhatikan orang-orang di bawah sungai. Sampai kegaduhan terjadi, dua orang asing ditangkap polisi dan dibawa keluar dari hutan. Digiring warga meninggalkan sungai, dengan kedua tangan diborgol.
"Tuh, Ambu. Laki-laki itu yang kemarin Mayang lihat di sungai!" seru Mayang sambil menunjuk salah satu laki-laki yang diikat tangannya.
Ambu memicing karena tak dapat melihat dengan jelas rupa semua orang. Mereka semua berbentuk kabut di kejauhan, akan berupa ketika sudah dekat.
Mayang menatap iring-iringan itu sambil mengunyah singkong. Tatapannya beradu dengan manik laki-laki yang ditemuinya di tepi sungai waktu lalu. Dia menyeringai tajam, tak ada rasa sesal apalagi takut terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Permisi saudari Mayang?"
Mayang tersentak saat seorang polisi dan juga peliput berita menegurnya. Ia menoleh dengan wajah menganga kaget.
"I-iya!"
Wawancara dengan anak Ambu itu pun dilakukan. Sontak saja Mayang masuk berita, menghebohkan sebagian warga Jakarta. Para murid yang sedang menonton tayangan berita, memekik melihat sosok Mayang yang diwawancarai.
"Ibu Mayang! Itu ibu Mayang! Ibu guru aku, Bu!" Rata-rata anak-anak murid Mayang memekik seperti itu.
"Ibu! Kapan ibu ke Jakarta? Zalfa kangen sama ibu," lirih gadis kecil di depan televisi yang diberikan Mayang kepadanya.
Ia dan neneknya tengah menonton televisi dan tak sengaja melihat berita di desa Mayang.
****
"Kamu urus semua meeting hari ini, aku harus pergi sekarang juga," titah Raja dengan rasa gelisah yang merundung hatinya.
Baru saja dia melihat berita desa Mayang, di mana calon istrinya itu diwawancarai perihal kejadian menghebohkan itu.
"Mayang lebih penting dari pada urusan meeting. Aku harus pergi!" Raja menyela ucapan sang asisten, kemudian menyambar kunci mobil dan pergi begitu saja.
Ia mencemaskan keadaan Mayang, karena untuk mendapatkan kabar darinya melalui sambungan telepon, tak bisa dia lakukan. Tanpa berpikir panjang, dia akan membawa Mayang dari desanya karena dirasa tidak aman.
"Apa yang terjadi di desa itu? Para penjahat memanfaatkan keadaan hutan di desa untuk bersembunyi. Sial! Apa Mayang sama ibunya baik-baik saja?"
Raja terus bergumam memikirkan keadaan Mayang. Padahal dia melihat calon istrinya itu baik-baik saja, tapi hanya untuk memastikan keadaanya dia tidak bisa berdiam diri di Jakarta.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menyalib kendaraan lain yang menghalangi jalan. Perjalanan yang tidak sebentar, rela ia tempuh demi melihat sang pujaan hati.
Sementara Mayang, menghela napas berulang kali demi menormalkan detak jantung yang tak henti berpacu. Dia gugup karena harus berbicara di depan kamera.
"Kamu jadi kebawa-bawa masalah ini, Chu. Mau nggak mau kamu harus ikut ke kantor polisi buat kasih keterangan. Padahal kamu nggak nemuin apa-apa, apalagi kalo kamu nekad," ujar Ambu sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
Memilih diam karena tak ingin terlibat, pada akhirnya keterangan dari Mayang sangat dibutuhkan. Kedua penjahat yang mereka temukan adalah dua orang residivis kasus pencabulan remaja yang marak terjadi di kota-kota besar.
"Ya, mau gimana lagi, Ambu. 'Kan, yang ngelaporin pertama sama pak RT itu Mayang," sahut Mayang menyadari tanggung jawabnya.
Ambu hanya mengelus dada sambil menghela napas, sungguh tak menyangka di desa yang aman dan damai itu akan disambangi oleh penjahat.
Pak Tohir datang menjemput, keduanya pergi meninggalkan desa menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan. Hanya memastikan bahwa laki-laki yang mereka tangkap adalah laki-laki yang sama, yang dilihat Mayang tempo hari.
Begitu keluar desa, ponsel Mayang berdering tiada henti. Pesan dari Zalfa, dari Tsabit, juga Raja tentu saja. Akan tetapi, Mayang tidak dapat membalasnya saat itu juga. Hanya pesan dari Zalfa yang dia balas, mengatakan dia baik-baik saja.
Kerinduan menyeruak mememuhi relung jiwa, terhadap gadis kecilnya yang amat ia sayangi.
****
Raja memilih jalur tol untuk menghindari kemacetan. Waktu yang ditempuh pun sedikit lebih cepat daripada kemarin. Tak sampai empat jam, Raja telah tiba di kecamatan Cigemblong.
Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Mayang. Tepat baru saja wanita itu keluar dari kantor polisi.
"Ya, assalamu'alaikum! Aku baik-baik aja, maaf belum sempat bales pesannya karena baru keluar dari kantor polisi." Mayang diam mendengarkan.
"Aku di jalan, udah masuk Cigemblong. Aku nggak bisa tenang kalo belum mastiin kamu baik-baik aja, Mayang."
Mayang membelalak, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik mendengar Raja yang sebentar lagi tiba di desanya.
"Ya udah."
Mayang mematikan ponsel dan terburu-buru mendatangi pak Tohir dan memintanya untuk segera pulang.
"Ayo, Pak, kita cepat pulang."
"Kenapa? Kayaknya panik gitu?" tanya pak Tohir sembari menghisap rokoknya.
"Raja bentar lagi nyampe rumah, Pak!" pekik Mayang histeris.
__ADS_1
"Astaghfirullah, si Ujang?"
"Iya, Pak. Cepat!"