
Hari bahagia yang ditunggu-tunggu, penyatuan dua insan yang berbeda. Mayang sedang mematut dirinya di hadapan sebuah cermin besar. Helaan nafasnya berat, mengingat tak mudah perjuangannya untuk sampai di titik itu.
"Emangnya kalian mau ke mana hari ini?" tanya Ambu memperhatikan Mayang di sofa dalam kamar tersebut.
"Katanya disuruh jajal baju pengantin, Ambu. Sekalian antar Zalfa ke rumahnya," jawab Mayang melirik Zalfa yang tengah asik menonton televisi.
Jika tak ingat wanita tua di rumah, rasanya Zalfa tak ingin pergi ke mana-mana. Tinggal bersama Mayang selamanya.
"Oh, ya udah hati-hati."
Mayang mengangguk, ia beranjak ketika panggilan Risya terdengar di luar kamarnya. Kemudian mengajak Zalfa dan pergi keluar menemui adik iparnya itu.
"Kakak udah siap? Tadi kak Raja bilang nanti dia nyusul ke sana," ucap Risya memberitahu Mayang.
"Iya nggak apa-apa. Ayo, berangkat sekarang," sahut Mayang bersemangat. Ia menghampiri Ratna hendak berpamitan wanita paruh baya itu.
"Bu, titip Ambu, ya. Mayang pergi dulu," ucap Mayang seraya menyalami Ratna.
"Iya. Kamu nggak usah khawatir, Ambu juga sekarang Ibunya Ibu. Udah, sana pergi. Takutnya kesorean," ucap Ratna.
Mayang menggandeng Zalfa mengikuti Risya menuju pintu. Mereka keluar dan menaiki lift untuk tiba di lantai satu.
"Risy, antar Zalfa dulu, ya. Nanti baru kita ke butik," pinta Mayang setelah mereka duduk di dalam mobil.
"Bapak denger, 'kan, yang dibilang Kakak saya? Kita pergi ke kontrakan kemarin di mana Bapak menjemput anak ini, ya," titah Risya.
"Siap, Non!"
Mobil melaju meninggalkan parkiran apartemen. Dua pasang mata dengan tajam mengawasi, segera menjalankan mobilnya setelah mobil Risya melintas. Ke mana mereka akan pergi, mobil tersebut membuntuti.
"Kamu tahu mereka mau ke mana?" tanya rekan yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Nggak tahu, kita lihat aja ke mana mereka akan pergi," sahutnya sambil menghendikan bahu tak tahu.
Tak ingin kehilangan jejak, ia menyalib beberapa kendaraan untuk mengikis jarak dengan mobil yang ditumpangi Mayang. Sorot matanya tajam penuh dendam, bergejolak emosi dalam jiwa. Apalagi saat mengingat kejadian di desa kemarin, hatinya masih belum bisa menerima.
Mobil Mayang berbelok menuju kontrakan dulu tempat Mayang tinggal seorang diri. Ia ingin menyapa semua anak muridnya di sana, termasuk para orang tua mereka.
"Teman-teman pasti senang bisa ketemu lagi sama Ibu," celetuk Zalfa saat mobil mulai mendekati mulut gang yang mengarah ke rumahnya.
"Oya? Ibu juga seneng ketemu sama teman-teman Zalfa. Mereka semuanya murid Ibu yang baik." Mayang mengusap kepala anak itu, tersemat senyum hangat di bibirnya.
Mereka turun dengan segera pergi begitu mobil berhenti di mulut gang. Rani yang membuntuti mengernyitkan dahi melihat Mayang memasuki gang sempit tersebut. Tak senang melihat senyumnya, sungguh membuatnya muak.
Namun, Mayang tidak terlalu memperhatikan, terus memasuki gang bersama Zalfa dan Risya. Keadaan siang hari di mana waktunya anak-anak bermain sepulang sekolah. Halaman kontrakan tempat tinggal Mayang dulu diramaikan anak-anak.
"Anak-anak!" panggil Mayang sambil melambai-lambaikan tangan pada mereka ketika semua anak menoleh padanya.
"Bu Mayang?" seru mereka pelan yang lama kelamaan menjadi sebuah jeritan histeris. Anak-anak tersebut berlarian menghampiri Mayang dan berhambur memeluknya menumpahkan kerinduan mereka kepada Ibu guru mereka.
Mayang menyapa semua orang tua murid di sana, bertanya kabar dengan ramah seperti Mayang yang mereka kenal. Terakhir ia mendatangi rumah Zalfa di mana seorang wanita tua tengah duduk sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Sang nenek memeluk Zalfa, menciumi wajah cucunya itu penuh kerinduan. Hatinya tenang kembali setelah cucu yang pergi kembali ke dalam dekapan.
Mayang bercengkerama sebentar memperhatikan wajah tua yang serupa dengan Ambu. Ia kemudian berpamitan untuk pergi ke butik.
Dua orang yang masih setia menunggu mereka di dalam mobil, kembali bersiap membuntuti. Dua buah mobil beriringan di jalan raya dengan jarak tertentu.
"Kayaknya ada yang ngikutin kita, Non. Dari tadi mobil itu terus ada di belakang mobil kita," beritahu pak supir yang sontak saja membuat Mayang dan Risya menoleh ke belakang.
"Jangan deket-deket sama jendela, Non. Takutnya mereka lihat dan kabur lagi," ingat sang supir lagi yang membuat keduanya segara menjauh dari kaca.
"Terus gimana, Pak?" tanya Risya sedikit cemas.
__ADS_1
"Non, sebaiknya telpon pak Al. Kasih tahu Bapak kalo kita diikuti," titahnya sembari terus menghindari mobil tersebut.
Risya segera menelpon kakaknya, ia berdecak ketika panggilan pertama dan kedua tidak diangkat laki-laki itu.
"Kakak, ada ngikutin mobil kita. Aku takut mereka penjahat," serbu Risya begitu panggilan tersambung.
"Apa? Tenang. Kalian tenang aja, ya. Kakak akan kirimkan orang buat mencegat mereka. Di mana posisi kalian?" tanya Raja yang seketika merasa panik.
"Baru aja antar Zalfa pulang," jawab Risya.
"Baik. Kakak udah kirim dua mobil buat menjaga kalian. Gimana sama Mayang? Apa dia baik-baik aja?" tanya Raja membuat Risya mendengus gemas.
"Kayak abis perang aja. Kak Mayang di samping aku, dia lagi senyum-senyum denger suara panik Kakak," sahut Risya menggoda keduanya.
"Nggak usah bercanda dalam keadaan genting kayak gini, Risya. Ck!" Raja menutup sambungan, beranjak meninggalkan pekerjaan juga sang asisten yang duduk di mejanya.
"Lanjutkan pekerjaan aku. Mobil mereka ada yang membuntuti. Apa kamu udah kirim utusan buat menangkap penjahat itu?" ucap Raja saat tiba di depan meja sang asisten.
"Udah, Pak. Mari, saya antar. Biar pekerjaan menyusul saja. Saya nggak bisa ngebiarin Bapak pergi sendirian," ucap sang asisten dengan tegas.
Meskipun sebenarnya enggan diikuti oleh laki-laki itu, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa bertindak sendirian bila sesuatu yang buruk terjadi nanti.
Keduanya pergi menyusul Mayang ke butik. Awalnya Raja ingin menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan. Akan tetapi, rencana cepat berubah ketika mendengar kabar mobil mereka diikuti seseorang.
"Kakak udah kirim orang-orangnya buat mencegat mereka. Kita nggak perlu panik," beritahu Risya setelah sambungan telepon ditutup Raja.
Namun, begitu, tetap saja hati Mayang merasa cemas. Menduga-duga siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
"Mungkin Rani? Tapi mobilnya lain, itu bukan mobil Rani," celetuk Mayang teringat pada mantan sahabatnya itu.
"Wah, bisa jadi, Kak. Itu dia, kita nggak tahu karena nggak bisa ngelihat, tapi mau apa dia membuntuti mobil kita?" sahut Risya dengan geram.
__ADS_1
Tak ada habisnya perempuan itu mengganggu kehidupan sang kakak. Geram dan kesal dengan tingkah perempuan yang tidak tahu malu itu.
"Nggak tahu, dia nggak seneng lihat Kakak bahagia. Itu intinya."