Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 115


__ADS_3

"Mayang?"


Teguran suara Amir menghentikan obrolan Mayang bersama gadis resepsionis. Dia memang supel, membuat siapa saja langung tertarik untuk berteman dengannya. Mayang menoleh, mengernyit heran melihat Amir yang menatap dirinya sambil mencibir.


"Kamu lagi apa di sini? Apa lagi ngelamar kerja?" tanya Amir sembari melangkah mendekati Mayang.


Gadis resepsionis membelalak mendengar pertanyaan Amir, ia bahkan menahan napas tak percaya sekaligus takut bila CEO mereka mendengarnya.


"Mmm ... Pak-"


Amir mengangkat tangannya, menolak jawaban dari gadis tersebut.


"Aku lagi nunggu suami aku. Kenapa?" ketus Mayang membuang wajah dari mantan suaminya yang menyebalkan itu.


Amir tertawa terbahak mendengar jawaban Mayang, tapi wanita itu tak acuh dan tetap santai menanggapi. Berbeda dengan gadis resepsionis yang meneguk ludah cemas.


"Oh, jadi suami kamu mau ngerubah nasib ngelamar kerja di sini?" ejek Amir diakhiri tawa merendahkan.


Mayang menghendikan bahu tak acuh. Membiarkan Amir menghinanya sesuka hati, juga suaminya. Ia tersenyum samar menunggu detik-detik terakhir sang mantan suami berada dalam keangkuhannya.


"Terserah," ucap Mayang tak peduli.


"Pak. Bu Mayang ini-"


Lagi-lagi Amir mengangkat tangan, menolaknya untuk menjelaskan. Ia menatap gadis resepsionis dengan tajam, menunduk kepalanya menghindari tatapan sang manager.


"Kamu tahu siapa dia? Dia ini mantan istri aku yang memilih bercerai dari aku dan memutuskan menikah dengan seorang supir online. Lucu, 'kan? Dia pergi dariku yang sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang besar, dan hidup pas-pasan dengan supir itu. Menggelikan!" cibir Amir sembari menatap lekat mantan istrinya yang tetap santai tidak tersinggung sama sekali.


"Suka-suka kamulah, Amir. Mau ngomong apa juga. Aku nggak peduli," ucap Mayang sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Amir menggeram dalam hati, niat ingin mempermalukan sang istri nyatanya dia tidak tersinggung sama sekali. Gadis resepsionis semakin melebarkan matanya. Ia menatap Amir tak percaya dengan sesuka hati merendahkan istri bos mereka.


Tamatlah riwayat Anda, Pak Amir!


Ia mengumpat dalam hati, kesal dengan sikap angkuh yang dimiliki sang manager. Berharap Raja akan muncul memergokinya menghina istri atasan sendiri.


"Kalo emang suami kamu ngelamar kerja di sini, aku bisa bantu supaya lolos. Yah, aku cuma kasihan aja sama kamu. Berapa, sih, gaji sopir taksi online? Buat makan aja nggak cukup kayaknya. Hidup di kota besar Jakarta ini semuanya butuh uang. Coba kamu bandingkan hidup kamu yang sekarang sama dulu waktu sama aku. Beda jauh, 'kan?" Amir tersenyum menatap Mayang yang menghela napas.


Sangat jauh bedanya. Dulu ibu kamu nggak suka sama aku karena aku dari desa, tapi sekarang aku diterima sangat baik di keluarga suamiku. Dulu, aku harus hemat masalah keuangan karena ibu kamu sering ngerecokin. Sekarang, keuangan full di tangan aku dan nggak perlu takut buat makenya. Jauh banget, Amir.


Mayang tertawa sendiri mendengar isi hatinya. Mengkerut dahi Amir melihat itu, seharusnya dia bersedih karena kehidupannya yang sekarang bagai langit dan bumi. Begitu isi pemikiran Amir.


"Kamu nggak percaya?" tanya Amir semakin intens menatap mantan istrinya.


Mayang menggelengkan kepala, memandang rendah pada laki-laki angkuh di depannya itu.


"Kamu tahu posisi aku apa di sini, 'kan? Mudah saja bagiku meloloskan suami kamu supaya bisa secepatnya kerja di sini, tapi semua itu nggak gratis," lanjut Amir setengah berbisik di akhir kalimat.


"Oh, jadi nggak gratis, ya? Apa kamu lagi butuh uang buat biaya persalinan istri kamu itu, Amir? Kamu tenang aja, aku bisa bantu kalo masalah itu," sahut Mayang tersenyum tipis sambil menunjukkan sebuah kartu kepada Amir.


Menjegil kedua mata lelaki angkuh itu, dia tahu kartu apa yang dipegang Mayang. Namun, kemudian kembali tertawa, tetap tak percaya.


"Aku nggak butuh uang kamu, Mayang. Yang aku mau, kamu cerai sama dia dan kembali sama aku. Kamu pasti bahagia kalo hidup sama aku, daripada dia yang penghasilannya nggak jelas dan nggak seberapa. Ayolah, Mayang. Hidup nggak cuma butuh cinta, tapi juga butuh uang," sahut Amir diakhiri tawa, merasa puas telah merendahkan sang mantan istri sampai titik terakhirnya.


Mendengar ucapan tak sopan atasannya, gadis resepsionis ikut merasa geram. Sikap Amir dinilainya sudah sangat keterlaluan. Tanpa tahu siapa yang sedang dia rendahkan, terus saja mengumbar kata-kata tak pantas untuk diucapkan oleh seseorang berpendidikan seperti dirinya.


Ia beralih melihat Mayang yang diam dan menanggapi dengan santai, hatinya tertantang untuk membela wanita itu. Mayang terlalu baik sehingga membiarkan orang lain dengan sesuka hati menghinanya.


"Pak Amir! Anda jangan keterlaluan. Anda tahu siapa Bu Mayang ini? Aku yakin Anda akan menyesal seumur hidup kalo tahu siapa yang sedang Anda hina," ucap gadis resepsionis menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Amir.

__ADS_1


Kepala Amir beralih padanya, menatap nyalang gadis yang berada di balik meja. Mengancamnya, tapi itu semua tak lagi berpengaruh.


"Siapa kamu? Beraninya ngomong sama aku. Kalo nggak tahu apa-apa mending diem! Nggak usah ikut campur," sentak Amir, "kamu mau saya pecat, hah? Tanpa pesangon sepeserpun," lanjut Amir mengancam.


Mata Mayang mendelik, rasa tak percaya Amir yang dia kenal baik dan sopan ternyata begitu angkuh dan suka merendahkan.


"Aku nggak peduli. Kalo memiliki atasan seperti Anda, lebah baik aku mundur dari pekerjaan ini," katanya mantap.


Sigap tangan Mayang mencekal lengan gadis tersebut, mencegahnya yang akan pergi karena terlanjur tak senang dengan sikap Amir. Mayang menepuk-nepuk tangan itu, menenangkan hatinya.


"Tenang, sabar. Menghadapi orang kayak laki-laki ini nggak perlu pake emosi," ucap Mayang sengaja menyindir Amir.


"Tapi, Bu. Dia udah keterlaluan, berani banget menghina istri atasannya," sahut gadis tersebut menatap heran dengan sikap Mayang.


Istri Raja itu mengangguk sambil tersenyum, mengatakan dia tidak apa-apa.


Amir tertawa mendengar itu, menganggap mereka bekerjasama untuk menakut-nakutinya.


"Kalian pantas jadi artis. Kalian ingin mengerjai aku? Maaf saja, aku nggak takut. Jadi, gimana, Mayang? Kamu terima tawaran aku?" Amir melipat kedua tangan di perut, memainkan alisnya menggoda sang mantan istri.


Mayang tersenyum, memutar tubuhnya menghadap Amir.


"Kamu denger, Amir. Walaupun langit menjadi bumi, dan bumi menjadi langit sekalipun, aku nggak akan pernah kembali sama kamu. Inget itu! Aku nggak akan pernah kembali sama kamu!" tegas Mayang tanpa keragu-raguan.


Amir menurunkan kedua tangan tak senang, menatap tajam wanita di depannya yang dulu membuat dia tergila-gila.


"Ayolah, Mayang. Cerai sama dia dan kembali sama aku. Aku pastikan mulai besok dia sudah bekerja di sini!"


Prok-prok-prok!

__ADS_1


Suara tepuk tangan menghentikan perdebatan mereka.


__ADS_2