
Kebahagiaan. Satu rasa yang dicari dengan berbagai macam alasan. Jalan manapun ditempuh demi mendapatkannya. Rela berkorban waktu dan tubuh, bahkan sampai tetes darah penghabisan.
Amir termenung di kamarnya sendiri, kamar yang dulu dihuninya bersama Mayang dan sempat ditempati istrinya yang baru untuk memanasi Melina. Sialnya, wanita tersebut bahkan sampai detik itu tak terlihat batang hidungnya. Malah yang datang, gugatan surat cerai darinya.
Tanpa berpikir Amir menyetujui gugatan tersebut. Terlanjur kesal. Di saat seperti itu hanya satu sosok yang melintas dalam pikirannya. Mayang. Ia menghela napas, Mayang hanya tinggal kenangan. Kenangan manis yang dia sia-siakan sehingga menjerumuskannya ke dalam kubangan penyesalan yang tiada akhir.
"Di mana Mayang sekarang? Apa dia udah nggak inget sama aku?" gumamnya perih.
Ia beranjak dari ranjang, menyambar tas kerja serta kunci mobil. Menyibukkan dirinya agar terlupa pada kepahitan yang sedang menimpa. Ketukan langkahnya menuruni tangga. Lagi-lagi helaan napasnya berhembus saat mata menangkap sosok ibu yang duduk di kursi roda.
Terlihat menyedihkan, betapa dulu dia begitu angkuh merendahkan Mayang. Menudingnya sebagai wanita mandul yang tak akan pernah bisa mengandung.
Ia melanjutkan langkah menuju pintu utama tak berniat menyapa sang ibu yang sedang disuapi bibi pembantu. Hatinya tak pernah mendapatkan ketenangan setiap kali berada di rumah. Sangat jauh berbeda seperti saat Mayang menempati rumah tersebut.
"Pak! Tunggu!" panggil Bibi menghentikan tangan Amir yang hendak membuka gagang pintu mobil.
"Kenapa, Bi?" tanya Amir urung membuka pintu mobil.
"Anu, Pak. Hari ini Ibu harus pergi kontrol ke dokter. Nanti berangkat sama siapa?" tanya Bibi takut-takut.
Amir mendesah, dia bahkan lupa membawa ibunya untuk melakukan kontrol.
"Nanti sama supir aja, ya, Bi." Amir mengeluarkan dompet, memberikan beberapa lembar rupiah kepada Bibi, "ini, pakai aja sama Bibi. Maaf karena saya ngerepotin Bibi buat ngurusin Ibu." Amir menatap tak enak pada wanita paruh baya itu.
Bibi menerima uang tersebut, hati tuanya merasa kasihan terhadap sang majikan. Menyia-nyiakan yang baik, memilih yang lain. Sekarang dia ditinggal sendiri, terpuruk dalam sepi.
"Nggak apa-apa, Pak. Makasih," ucap Bibi menggenggam uang tersebut menahan perasaan iba yang membuncah.
__ADS_1
Amir membuka pintu mobil, masuk dan melaju meninggalkan halaman tanpa bertanya tentang keadaan sang ibu. Oh, malangnya nasib wanita itu! Di hari tuanya tak ada yang menemani selain sang pembantu yang merawat karena dibayar.
****
Di tempat lain, Melina yang sedang asyik memainkan ponsel sambil mengusap-usap perutnya. Sesekali tersenyum senang, mengingat janji yang diucapkan laki-laki itu. Dia akan bertanggungjawab atas bayi yang dikandungnya.
Melina menatap perutnya yang masih terlalu datar, menepuk-nepuknya pelan sambil tersenyum senang. Rumah yang disewakan laki-laki itu untuknya, terasa lebih nyaman meski kecil daripada rumah besar Amir yang dipenuhi dusta belaka.
"Bentar lagi ayah kamu datang. Tunggu, ya," katanya mengusap-usap perut.
Seolah-olah sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuk Melina, lelaki selingkuhannya itu akan datang di pagi dan sore hari. Sekedar menuntaskan keinginan sebelum kerja dan sebelum pulang ke rumahnya.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan di pintu membuat kedua mata Melina berbinar.
"Ayah kamu datang," bisiknya seraya beranjak turun dari ranjang dan berlari kecil menuju pintu.
Ia membuka pintu sambil membentang tangan hendak memeluk, tapi urung ketika yang berdiri di teras bukanlah orang yang dia harapkan.
"Si-siapa kamu?" tanya Melina gugup.
Dia menatap tajam Melina, menyelidik dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tubuh yang tak seberapa putih itu, hanya dibalut dengan lingerie yang sangat minim. Bibirnya tersenyum mencibir, merendahkan Melina.
"Harusnya aku yang tanya siapa kamu? Kenapa setiap pagi dan sore suamiku datang ke sini? Apa kamu ini perempuan simpanan suamiku?" cecar wanita itu menatap semakin nyalang sosok Melina.
Wanita itu terhenyak, mematung di tempat. Tak tahu harus apa, dia hanya diam sambil menggigit bibir gugup.
__ADS_1
"Jadi benar, selama ini kamu jadi simpanan suami aku? Kamu tahu siapa dia? Dia itu cuma lelaki miskin yang aku pungut dan aku angkat derajatnya. Jangan pikir semua kekayaan yang dia tunjukan sama kamu itu punya dia. Bukan! Itu semua punyaku. Dia nggak punya apa-apa," sentak perempuan yang datang mengaku sebagai istri selingkuhan Melina.
Dia memejamkan mata tersentak, meringis ngeri dan enggan menatap wajah berang wanita di hadapannya.
"Aku tahu perempuan murahan kayak kamu ini maunya apa? Kamu mau uang, 'kan? Ini!" Dia merogoh ke dalam saku tasnya segepok rupiah, menerbangkannya ke tubuh Melina dengan nista.
Melina terpejam sambil mengepalkan tangan erat-erat. Bibirnya berkedut-kedut menahan geram, tak senang direndahkan seperti itu.
"Kenapa? Kenapa kamu diam? Kurang?" bentak perempuan itu juga semakin geram. Tangannya kembali merogoh tas mengambil segepok lagi uang berwarna merah.
"Ini! Ambil semuanya buat kamu, tapi jangan lagi kamu muncul di hadapan suamiku. Aku nggak akan segan-segan menyeret kamu ke penjara. Pergi kamu dari kota ini dan jangan pernah kembali lagi!" hardik perempuan itu sembari mendorong tubuh Melina dengan angkuh.
Dia hanya terdiam, menerima segala hinaan. Dalam hati bersorak melihat hamparan uang di dalam rumahnya. Mengumpat dan mengusir mereka semua meski hanya dalam hati.
Kenapa masih di sini, sih? Bukannya cepat pergi!
Dia menggerutu dalam hati, mengumpati perempuan yang sok berkuasa itu.
"Besok atau lusa aku masih melihat kamu ada di kota ini, jangan salahkan aku. Karena aku bisa membuat kamu nggak bisa lagi melihat dunia ini. Ngerti!" ancam wanita itu meluruskan telunjuk di wajah Melina.
Melina meneguk saliva gugup, tapi tetap bungkam tidak menyahut. Terlalu takut kehilangan uang yang diserakkan perempuan yang datang dalam keadaan marah itu.
Dia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban Melina. Masuk ke dalam mobil mewah berlalu dengan angkuhnya. Melina memanjangkan leher, memastikan rombongan itu benar-benar pergi. Ia menutup pintu dan menguncinya.
Berjongkok dengan wajah yang berbinar terang melihat hamparan rupiah di lantai.
"Wah, banyak banget uangnya. Dia pikir aku akan pergi apa? Walaupun uang yang dia punya bukan miliknya, aku nggak akan pergi gitu aja ninggalin dia. Lumayan, 'kan." Melina terkekeh, kedua tangannya mengumpulkan uang tersebut dengan serakah.
__ADS_1
Mendekapnya dengan erat, mengendusnya sangat lama. Seolah-olah takut untuk kehilangannya lagi. Melina menyusun lembaran kertas tersebut menjadi satu, menyimpannya dengan sangat rapi. Untuk kemudian mengemas barang-barangnya berniat pergi dari sana.
"Aku mungkin akan pergi dari rumah ini, tapi bukan dari kota ini." Melina terkekeh senang sendiri.