
Mobil berwarna merah itu terus melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan jalanan yang macet. Pergi menyendiri ke sebuah tempat yang tak akan dijumpai orang-orang yang dikenalnya.
Berhenti di parkiran tepi pantai terkenal di Jakarta. Rani membanting pintu mobil, berjalan cepat mendekati tepian laut. Ia berdiri dengan dada yang bergemuruh hebat, menatap ombak di lautan yang berdebur tiada henti.
Kedua tangannya mengepal erat saat sosok Mayang melintas di benaknya. Sungguh, hatinya selalu merasa panas bila mengingat bahwa mereka adalah sahabat dekat.
"Sahabat?" Rani mencibirkan bibir, menertawakan dirinya sendiri.
"Pesan yang aku kirim aja sampe sekarang nggak dibales sama dia. Sahabat apa kalo tega nyakitin dan berbahagia di atas penderitaan sahabatnya!" Rani menyalang, kepalan tangannya semakin erat hingga buku-buku jari memutih.
"Kenapa kamu tega, Mayang?" teriak Rani tertelan deburan ombak di lautan.
Napasnya semakin memburu, tak peduli angin laut yang berhembus kencang menerpa tubuhnya.
"Kenapa semua orang belain kamu, Mayang? Kenapa semuanya memihak sama kamu? Apa kurangnya aku? Kamu minta banyak dari aku juga Mamah, kamu bisa dapet semuanya. Aku cuma minta satu. Cuma satu, Mayang. Aku mau Raja jadi suami aku!" Suara Rani semakin tinggi melengking.
Hanyut terbawa angin laut, terbang bersama awan di langit.
"Balikin Raja sama aku, Mayang! Kamu nggak boleh nikah sama dia. Aku benci kamu, Mayang!" Teriakan susulan semakin memekakkan telinga.
Rani menutup telinga, menggelengkan kepala sambil menangis. Ia berjongkok, meringkuk memeluk lutut di atas bebatuan meratapi nasib percintaannya.
"Kurang apa lagi aku? Aku kaya, aku juga cantik, tapi kenapa semua laki-laki justru lebih memilih Mayang dari pada aku?" Ia tersedu-sedan sendirian.
Mendekap lututnya yang ditekuk, menangis sembari menyembunyikan wajah di sana.
"Kamu nggak bisa memaksakan keinginan kamu sendiri, Rani. Masalahnya bukan pada Mayang, tapi laki-laki itu yang menginginkan Mayang menjadi istrinya. Sadarlah, Rani. Mayang nggak salah apa-apa sama kamu, tapi kamu tega memutuskan persahabatan dengannya cuma gara-gara seorang laki-laki."
__ADS_1
Suara khas seorang laki-laki menghentikan laju tangisnya. Rani belum mengangkat wajah, tetap saja kesal dan tak mau disalahkan.
"Tahu apa kamu? Kalo nggak tahu apa-apa mending diam, nggak usah ikut campur," ketus Rani tak mau menerima nasihat.
Laki-laki yang tak lain adalah Tsabit itu menghela napas, ia berdiri menghadap laut. Menatap buih yang sebentar timbul dan sebentar menghilang.
"Cinta seseorang itu nggak bisa dipaksakan. Raja sangat mencintai Mayang dan nggak akan pernah ngelepasin dia gitu aja. Kalian dijodohkan jauh setelah mereka dekat. Sadari itu, Rani. Kalo kamu kayak gini terus, kamu cuma nyakitin diri sendiri aja," ujar Tsabit begitu peduli dengan sahabatnya itu.
Hati Rani masih sekeras batu, tak dapat menerima nasihat dari siapapun.
"Apa peduli kamu? Kamu juga cuma peduli sama dia, 'kan? Apa selama ini kamu peduli sama aku, hah?" Rani meradang menumpahkan semua yang ada di hatinya.
"Bukan cuma kamu, tapi semua orang, bahkan papahku juga lebih peduli sama dia daripada aku anaknya." Rani kembali terisak mengingat sang ayah yang melarangnya untuk berbuat sesuatu terhadap Mayang.
Tsabit memutuskan pandangan dari laut, berbalik menatap Rani yang masih duduk meringkuk di atas bebatuan.
Rani melengos, memalingkan wajah dari laki-laki itu. Kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Tsabit dengan segala nasihatnya.
Tsabit menggelengkan kepala, menghela napas panjang. Sungguh sangat disayangkan, sikap Rani berubah begitu saja dalam waktu sekejap. Persahabatan yang terjalin selama dua tahun, harus kandas hanya karena masalah hati.
"Mayang itu nggak salah, Rani. Dia sama sekali nggak tahu menahu tentang masalah perjodohan kalian. Raja sendiri yang milih dia. Aku peduli sama kamu, Rani," gumamnya sembari menatap punggung Rani yang semakin menjauh dan hilang dibalik pintu mobilnya.
Mobil itu melesat dengan cepat, tak takut celaka. Tsabit hanya menggelengkan kepala, berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya.
"Mudah-mudahan kamu sadar bahwa apa yang kamu perjuangkan itu salah." Tsabit pergi meninggalkan tepi laut. Rencana ingin menghabiskan masa liburan dengan bermain di pantai, harus kandas karena melihat Rani yang berteriak tak tahu tempat.
Ia tersenyum saat melihat sang ibu bersama seorang gadis. Berkumpul kembali, menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Sementara Rani, mengemudi sambil menangis. Hatinya semakin membenci Mayang, tak senang bila wanita itu menemukan kebahagiaannya.
****
Sementara di rumah, Lina yang sedang asik sendiri di depan televisi sembari menikmati kudapan yang dibelinya secara online, berkeinginan membuka ponsel. Ia menjelajah di dunia Maya, mencari-cari berita terpanas yang sedang viral.
Dahinya mengernyit, ketika melihat status Ratna yang duduk bersama seorang wanita tua di sebuah gubuk. Ia menuliskan di sana kata-kata yang menyentuh jiwa.
"Akhirnya kutemukan dirimu, Ibu."
Lina mencibirkan bibirnya, tak senang melihat senyum ibu Raja itu.
"Ibu katanya? Ibu apaan? Ibu ketemu gede kali. Dasar, suka banget dipuji-puji," umpatnya sembari menggulir layar ponsel ke bawah.
Lina semakin membelalak hingga bola matanya nyaris keluar dari tempat. Napasnya tercekat di tenggorokan untuk beberapa waktu sebelum ia hembuskan dengan kasar.
"Ja-jadi, Ratna ada di rumah Mayang? Astaga, ini nggak bisa dibiarin. Gimana sama perjodohan Rani dan anaknya? Apa benar-benar dibatalin? Apa Ratna setega itu? Nggak! Dia nggak bisa kayak gini!" Lina menolak kenyataan bahwa Rani tidak berjodoh dengan Raja.
Ia berpikir keras, mencari cara menggagalkan pernikahan mereka. Otaknya terus berputar lebih keras, sampai-sampai rasa pening datang mendera. Lina memijit pelipisnya yang terus berdenyut, merebahkan diri di sofa mencari ketenangan.
"Astaga, kepalaku sakit banget. Kenapa ini?" keluhnya sambil terus memegangi kepala dan menekan-nekannya.
Perlahan Lina membawa tubuhnya beranjak, turun dari sofa dan pergi ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan diri di atas ranjang, mengaduh karena rasa sakitnya justru semakin menguat.
"Kepalaku sakit banget ini, pasti darah tinggiku kumat. Ke mana lagi si Rani? Kok, udah siang begini belum juga pulang? Duh." Lina meringis, berguling mencari posisi yang pas untuk menyembuhkan sakit kepalanya.
Namun, setelah beberapa saat lamanya terbaring, belum juga menemukan kenyamanan. Dia memilih bangun, dan melangkah kembali keluar kamar. Menemui supir untuk mengantarnya ke rumah sakit.
__ADS_1