Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 99


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat, sinar mentari perlahan muncul menyapa. Menebarkan sentuhan hangat pada setiap makhluk yang menapak di muka bumi. Pagi yang selalu disibukkan dengan dimulainya kegiatan rutinitas sebagai pembuka hari.


Di rumah besar Rani, Lina tengah disibukkan oleh hilangnya seseorang dari rumah mereka.


"Rani! Ran! Kamu udah bangun belum?" teriak Lina memanggil anaknya dari depan kamar.


"Iya, Mah. Kenapa? Kenapa pagi-pagi udah teriak-teriak?" keluh Rani sambil menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Ran, papah nggak ada di rumah. Mamah udah cari ke semua sudut dan ruangan, tapi papah kamu nggak ada," ucap Lina panik.


Rani yang baru saja membuka mata, terpaksa beranjak dari ranjang mendengar laporan sang mamah. Ia berjalan membuka pintu dengan malas.


"Emangnya papah hilang ke mana?" tanya Rani sambil menggaruk-garuk rambutnya, juga menguap lebar.


"Nggak tahu Mamah juga. Bangun tidur tadi papah udah nggak ada, Mamah cariin sampe ke belakang rumah tetep nggak ada." Lina mengernyit sedih.


"Mamah udah nanya sama Bibi? Siapa tahu Bibi lihat?" saran Rani.


Lina menggelengkan kepala dan menjawab sedih, "Udah, tapi Bibi juga nggak lihat. Ke mana, ya? Nggak biasanya papah pergi nggak pamit dulu." Lina gelisah.


"Apa papah nggak ada omongan mau kerja ke luar kota lagi gitu?" ujar Rani mengingat papahnya sering keluar kota untuk urusan bisnis.


Lina lagi-lagi menggelengkan kepala, raut wajahnya terlihat sedih.


"Nggak ada. Papah nggak ada ngomong mau keluar kota, tapi semalam papah bilang kalo Ratna datang ke rumah dan minta supaya kita nggak gangguin mereka lagi. Gimana, Ran? Mamah nggak mau kalo sampai papah kamu pergi ninggalin kita," ucap Lina semakin dirundung rasa cemas.


Rani tercenung memikirkan papah yang pergi tanpa pamit. Ia menatap sedih pada Lina yang mulai menangis. Sungguh tidak tega melihatnya.

__ADS_1


"Mamah udah coba telpon papah?" tanya Rani masih berharap ada kabar walau samar.


"Udah. Mamah udah telpon, tapi nomor papah kamu nggak aktif. Mamah bingung, Ran," lirih Lina sambil terisak.


Rani menghela napas, masalah hatinya saja belum berakhir sudah dihadapkan dengan masalah orang tuanya.


"Coba Mamah periksa lemari papah. Apa ada yang hilang," ujarnya membuat Lina mengangkat wajah.


"Kamu benar, Mamah belum periksa lemarinya." Buru-buru Lina kembali ke kamarnya, disusul Rani yang mengekor di belakang.


Dibukanya lemari sang suami selebar mungkin, dan dengan cepat menyibak satu demi satu setelan jas juga pakaian milik laki-laki itu. Terlihat masih utuh, tapi ada beberapa yang hilang dari tempatnya.


"Sebagian pakaian papah nggak ada, Ran." Hati Lina bergetar. Ke manakah suaminya pergi?


"Koper papah juga nggak ada, Mah!" pekik Rani sembari menarik koper milik Lina dan memeriksa koper lainnya.


"Kenapa papah pergi gitu aja? Kenapa papah ninggalin Mamah?" ratap Lina tergugu di depan almari milik suaminya.


Rani tersentuh, matanya sendu menatap sang mamah yang mengais lantai hingga kukunya patah. Ia beranjak mendekat, berjongkok di samping tubuh Lina. Mendekapnya dengan erat.


"Kenapa papah kamu pergi gitu aja ninggalin Mamah? Ke mana dia pergi, Rani? Ke mana?" lirih Lina bergetar.


Rani tak kuasa untuk tidak menangis, ia ikut terisak sambil memeluk tubuh mamahnya yang bergetar. Tak sengaja mata Rani melihat selembar kertas yang tertimpa lampu tidur. Ia mengambilnya, di atas kertas tersebut tulisan tangan sang papah tertuang.


"Mah, surat dari papah," ucapnya memberitahu Lina sambil bergetar.


Lina mengangkat tubuh dan menerima surat itu dari Rani. Membaca deretan huruf yang ditulis tangan oleh suaminya. Ia menutup mulut, tangisnya semakin menjadi.

__ADS_1


Rani yang penasaran dengan isi surat tersebut, mengambilnya dari Lina. Dadanya bergemuruh membaca curahan isi hati sang papah.


"Papah nggak tahu harus gimana lagi nasehatin mamah sama Rani. Papah pernah minta baik-baik supaya mamah nggak ngelakuin hal yang nggak seharusnya. Papah malu sama bu Ratna, dia sampe datang ke rumah negur Papah, tapi mamah nggak mau denger dan tetap nurutin kemauan Rani meskipun tahu itu salah."


"Papah butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikiran papah. Jangan cari papah, Mah, kalo Mamah masih bersikeras mendukung keinginan Rani yang menyimpang. Raja itu udah punya calon istri, dia nggak berminat sama perjodohan itu. Kenapa Mamah masih menganggap Rani itu benar. Apa yang kalian perjuangkan itu salah. Papah pergi, Mah. Salam untuk anak kita, Rani. Semoga kalian bisa mengerti dan bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang."


Rani meneteskan air mata, tapi kemudian ia meremas kertas tersebut. Rahangnya mengeras, emosinya meluap begitu saja.


"Dari dulu papah emang nggak sayang sama Rani. Papah nggak pernah mau nurutin apa mau Rani. Sekarang, papah malah melimpahkan kesalahan sama Rani. Sebenarnya Rani ini anak papah atau bukan?" geram gadis itu meremas kertas di tangan dengan sangat kuat.


Lina terhenyak mendengar ucapan Rani, ia menatap sang anak dengan mata yang basah. Menggelengkan kepala menolak apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Nggak, Nak. Nggak gitu. Papah itu sayang banget sama kamu, Mamah yang salah. Mamah yang salah karena terlalu manjain kamu. Jangan pernah benci sama papah, Rani. Papah sayang sama kamu," ucap Lina mengakui kesalahan.


Ia terus menunduk, menyesali semua yang telah terjadi. Semua salahnya yang terlalu memanjakan Rani. Sebagai anak satu-satunya di rumah itu, tentu saja semua kebutuhan Rani dapat terpenuhi tanpa harus berpikir ulang. Akan tetapi, semua ada batasannya. Semua ada aturannya.


"Kenapa Mamah malah belain papah? Kenapa Mamah nyalahin diri sendiri? Semua ini salah papah! Papah yang nggak pernah mau ngerti perasaan Rani. Aku benci papah!" teriak Rani seraya berdiri meninggalkan kamar Lina.


"Rani! Nak! Dengerin Mamah dulu, Rani!"


Namun, gadis itu terus berlari, tak menghiraukan panggilan mamahnya. Masuk ke dalam kamar, membanting pintu dan menguncinya. menangis tersedu seorang diri, meratapi nasib yang tak pernah beruntung jika menyangkut soal hati.


"Kenapa semua orang jahat sama aku? Kenapa semua orang ninggalin aku? Apa salah aku? Kenapa aku harus ngalamin nasib sial kayak gini? Kenapa harus aku?" Tubuh Rani luruh di lantai, menangis memeluk lututnya sendiri.


Pagi yang seharusnya dipenuhi dengan semangat menggebu, berganti kelabu oleh tangis kesedihan. Lina meratap, menyesali dirinya yang tak mau mendengarkan nasihat suami. Rani tergugu karena merasa tak dianggap oleh semua orang.


Berbanding terbalik dengan Mayang dan Ambu yang tengah menuai buah kesabaran. Kebahagiaan datang menyambangi kehidupan mereka. Senyum indah merekah, kulit pipi merona merah, mensyukuri banyaknya anugerah. Nikmat Tuan yang manakah, yang kau dustakan?

__ADS_1


__ADS_2