Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Wajah Yang Selalu Tertunduk


__ADS_3

Hari itu Fariz benar-benar mengajak Faiq untuk pergi memancing. Perjalanan menggunakan sepeda motor. Membuat Faiq cukup menikmati perjalanan. Melewati hamparan luas sawah dengan tanaman padi yang menghijau. Sungai-sungai dengan air jernih .


Suasana cukup ramai menyambut dua pemuda itu. Saat mereka sampai di sebuah waduk. Sebagian dari pengunjung ada yang sekedar bermain di air. Menikmati wahana yang tersedia bersama keluarga. Ada juga yang duduk-duduk di pinggir waduk bersama pasangan. Dan sebagian lagi sedang memancing bersama teman ada juga yang bersama keluarga.


Faiq melihat sekeliling,ada kekosongan di hatinya yang begitu terasa saat melihat sepasang muda-mudi duduk berdampingan sambil bergurau. Dan ketika melihat sebuah keluarga yang duduk bersama,ada rasa sepi yabg hinggap di hatinya. Ia mencoba menghirup nafas dalam. Menetralkan segala rasa yang membelenggu hati. Namun tetap saja ada rasa yang ia tak mengerti. Seperti rasa rindu yang tak ia tahu pada siapa rindu itu tertuju.


'' Mas,mas Faiq !'' suara Fariz membuyarkan lamunan Faiq.


'' Eh ya ?, kenapa Riz ?'' tanya Faiq tergagap. Fariz tersenyum.


'' Mas Faiq ngelamun ya ?'' sambung Fariz.


'' Gak tahu kenapa Riz, rasanya kayak ada yang ganjel di hati. Apa aku bisa pulih dan mengingat tentang keluargaku lagi ?, apa mereka sedang mencariku ?. Kadang rasanya aku asing sama diri sendiri. Dan itu rasanya menyiksa ''. ungkap Faiq seraya menghela nafas.


Fariz menatap prihatin lelaki di hadapannya. Seandainya saat mereka tahu Faiq mengalami amnesia , mereka tak mengatakan yang sebenarnya pada lelaki itu. Mungkin tak akan ada kebingungan dalam diri Faiq. Namun jika begitu berarti mereka harus berbohong. Dan dapat di pastikan Ayah tak mungkin mau melakukannya .


'' Berdoa saja,kita sebagai manusia sudah berusaha. Mas Faiq masih berobat,itu bentuk usaha kita sebagai manusia. Dan selanjutnya tinggal kita berserah diri. Selalu doakan kedua orang tua Mas Faiq, meskipun mas tidak mengingatnya,tapi Alloh tahu pada siapa doa kita tertuju''. ucap Fariz seraya menyiapkan alat pancing. Fariz tersenyum, kemudian meraih alat pancing yang di bawa Fariz.


'' Alhamdulillah Alloh masih menyayangiku dengan mempertemukan aku dengan keluarga kalian. Ayah, Ibu,kamu, Alfi kalian memperlakukan aku layaknya keluarga yang sesungguhnya." ucap Faiq diakhiri dengan sebuah senyum tulus.


" Karena aku juga seneng mas,jadi punya saudara laki-laki. Yuk mas kita turun !" ajak Fariz setelah menyiapkan alat pancing.


Faiq mengikuti langkah Fariz yang turun ke bawah, mendekati air yang tampaknya sedikit surut karena beberapa hari rak turun hujan. Dua lelaki itu memilih tempat yang sedikit teduh. Duduk berdampingan seraya memasang umpan di kail.


'' Kamu kerja dimana Riz ?''. tanya Faiq sembari melempar kail kedalam air.


" Kantor pengiriman barang mas,di kabupaten. Kemarin dengar-dengar bakal buka cabang di daerah sini. Tapi katanya pemilik perusahaan kecelakaan dan meninggal " terang Fariz, Faiq hanya mangut-mangut.

__ADS_1


" Ada lowongan gak di tempat kerja kamu ?, gak mungkin dong aku gini-gini aja. Aku juga pengen kerja,gak jadi beban kalian terus menerus ".


" Yang namanya keluarga itu bukan beban mas. Kalo kondisi mas Faiq sudah membaik, mas bisa bantu ayah jualan di pasar. Atau ngurus kolam ikan milik ayah. Di tempat kerja ku soalnya belum ada lowongan mas " sahut Fariz.


Mereka menikmati acara memancing berdua,sembari terus bercerita. Sesekali tampak kail bergerak menandakan umpan di makan ikan. Tawa bahagia terlihat dari keduanya saat ikan menggelepar tersangkut mata pancing. Hari itu terlalui dengan rasa bahagia bagi dua pemuda itu.


✨✨✨


"Assalamualaikum !" suara salam dari balik pintu.


" Wa'alaikumussalam " jawab Alfiani yang sedang sibuk di balik meja belajar dengan laptop menyala. Mendengar ada yang datang, Alfiani beranjak dari duduknya. Menuju pintu depan dan di bukanya. Sebuah senyum lebar menyambut Alfiani .


" Mas Yudis,ada apa ?, kok disini ?"tanya Alfiani saat mendapati Yudis yang berdiri di luar pintu.


" Kebetulan lewat, jadi sekalian mampir. Boleh kan ?" tanya Yudis dengan senyum tak luntur dari bibirnya.


'' Kenapa ?" cecar Yudis yang melihat kebingungan di wajah Alfiani.


" Maaf mas Yudis duduk di situ dulu ya, soalnya sedang tidak ada orang "Alfi menunjuk kursi yang terletak di teras rumah.


" Oh oke " sahut Yudis singkat .


" Saya kedalam dulu mas, sebentar " pamit Alfi yang diiyakan oleh Yudis. Alfi bergegas masuk meninggalkan Yudis yang tersenyum menatap ketegangan di wajah Alfiani.


Mereka berdua saling mengenal sejak beberapa bulan yang lalu. Saat keduanya terlibat dalam sebuah kegiatan amal.


Sejak saat itu Yudis selalu punya alasan untuk menemui gadis tersebut. Ada sisi yang menarik dari gadis yang hampir selalu tertunduk saat ia menatap wajah gadis itu. Gadis yang tak terlalu banyak bicara namun mampu menggetarkan hatinya.

__ADS_1


Sekitar seperempat jam Yudis di biarkan duduk sendiri sampai datang sebuah motor berhenti di halaman rumah Alfiani. Seorang lelaki seumuran dengan Alfiani turun dari motor setelah membuka helmnya.


Tersenyum ramah pada Yudis yang tampak menebak-nebak dalam benaknya tentang siapa lelaki yang datang.


" Assalamualaikum mas !" sapa hangat Zidni,adik dari Azzam yang baru saja di hubungi oleh Alfiani untuk datang dan menemani tamu.


'' Wa'alaikumussalam '' sahut Yudis,Zidni mengulurkan tangan yang di sambut segera oleh Yudis.


" Sudah lama mas ? " tanya Zidni yang langsung duduk di kursi kosong di seberang Yudis.


" Belum, sekitar lima belas menit mungkin " jawab Yudis,dengan perasaan aneh merasa lelaki yang baru datang itu sok akrab.


" Alhamdulillah mas Zidni sudah datang. Maaf ya mas Yudis di tinggal lama '' ucap Alfiani seraya meletakkan secangkir teh dan sepiring kue.


'' Tidak apa-apa'' sahut Yudis.


'' Silahkan di minum mas '' ujar Alfiani mempersilahkan.


'' Ya terima kasih '' jawab Yudis yang kini tampak canggung.


Alfiani kembali kedalam membawa nampan kosong. Meninggalkan Yudis bersama Zidni. Zidni tanpa canggung mengajak Yudis untuk berbincang. Membuat Yudis akhirnya merasa terbiasa. Setelah keduanya saling mengenalkan diri.


" Bingung ya mas kenapa saya tiba-tiba nimbrung begini ?" tanya Zidni sambil tertawa. Yudis hanya tersenyum dan mengusap tengkuknya.


" Saya kakak sepupu nya Alfi,tadi dia menelfon saya untuk datang. Maklum dia tidak terbiasa ngobrol berdua dengan lelaki ". jelas Zidni seperti ia mengetahui tentang pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepala Yudis.


Tak berselang lama, Alfiani ikut duduk di teras. Dengan kursi plastik yang dia bawa dari dalam rumah. Duduk di sudut kain dengan sesekali menimpali obrolan dua lelaki di sana.

__ADS_1


Zidni tersenyum tipis menyadari lelaki berwajah tampan itu berkali-kali mencuri pandang pada sang adik yang lebih banyak menunduk dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.


__ADS_2