
Rintik hujan jatuh menyambut pagi yang tampak suram tanpa sinar sang mentari. Langit tampak berkabut putih. Sepertinya hari ini akan terlalui dengan hujan sepanjang hari. Di teras sebuah rumah duduk di atas kursi roda, seorang gadis cantik dengan jilbab hitamnya. Menengadah menatap langit yang tampak kelam. Awan tebal menyelimuti hingga birunya langit tertutup sempurna.
Alfiani, duduk menyendiri menikmati syahdunya pagi bersama rintik hujan yang menemani.
'' Nanti dingin nduk '' ibu datang menyelimuti anak gadisnya. Alfiani menengadah menatap wajah teduh sang ibu. Meraih tangan ibu yang berada di pundaknya dan membawa tangan menempel di pipi.
" Makasih ibu " ucap Alfiani dengan senyum lebarnya. Wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala sang anak.
" Mau ibu buatkan apa ?, coklat atau teh hangat ?" tanya ibu dengan tangan yang masih mengelus kepala Alfiani dengan kasih sayang.
" Nanti saja bu,Ibu sudah telpon Mas Fariz belum ?. Aku kepikiran Salwa deh Bu. Baru lahiran sudah kita tinggal." ucap Alfiani gusar.
" Belum, masih terlalu pagi Al. Nanti saja ". sahut Ibu.
Setelah acara aqiqah dan pemberian nama pada anak Fariz. Ayah,Ibu dan Alfiani kembali ke rumah yang mereka sewa di luar daerah tempat tinggal mereka. Untuk mempermudah Alfi yang sedang melakukan terapi pada kakinya. Sudah sebulan terakhir mereka tinggal di sana. Untuk melakukan ikhtiar,pada kelumpuhan kaki Alfi. Dokter mengatakan kelumpuhannya tidaklah permanen. Namun butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan kembali kaki Alfi.
Hanya ada doa yang mampu mereka panjatkan. Agar Allah memberinya kesembuhan. Tapi sepertinya Allah masih mengujinya, seberapa sabar ia harus menghadapi ujian yang Allah berikan. Karena belum ada perubahan yang berarti pada kakinya meski pengobatan terus berlanjut.
" Ibu masuk dulu,mau bikin kopi buat Ayah. Jangan melamun, berdzikir dan bersholawat lah " ujar ibu lembut. Alfi mengangguk dan tersenyum manis.
" Iya bu " jawab Alfi . Ibu balas tersenyum kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Alfi kembali menatap rintik hujan yang justru semakin deras. Tersenyum samar dengan tatapan menerawang. Nyatanya gadis yang selalu terlihat tegar dan baik-baik saja itu tetap saja rapuh.
Bukan dzikir dan sholawat yang terlantun dari bibir mungil itu seperti titah sang ibu.Melainkan rintih perih hati yang berteriak dalam diam. Membuat sebutir air bening mengalir membasahi pipi putih bak pualam.
' Astaghfirullah hal'adzim, ampuni hamba yang mengeluh atas takdir Mu ya Allah " lirih Alfi yang menyadari hati yang terkadang tak menerima keadaan yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Dia hanya manusia biasa,saat iman bisa saja naik dan turun. Adakalanya ia bisa menerima dengan lapang dada keadaan yang menimpanya. Namun saat iman itu menurun terkadang ada keluh dalam diam. Ketakutan akan gambaran masa depan.
" Astaghfirullah hal'adzim " Alfiani terus beristighfar, menjernihkan kembali hatinya. Menuntun hati untuk ikhlas menerima setiap takdir yang tertulis untuknya. Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.
Alfiani terus memutar tasbih di tangannya. Melantunkan asma Allah di setiap hembus nafasnya. Membuang segala kesah yang tak seharusnya mengikat jiwa. Ada Allah tempatnya berserah. Tak seharusnya ia takut akan kehidupan yang di jalani. Ada Allah yang tak pernah tidur mengawasi setiap jengkal hidupnya.
" Nduk !" suara Ayah mengagetkan Alfi yang khusyuk dalam dzikir nya. Alfi menoleh dan menatap Ayah yang berdiri di samping Alfiani.
" Yah " ucap Alfi menyambut sang Ayah dengan senyum.
" Teh biar hangat " Ayah mengulurkan cangkir teh pada putri semata wayangnya.
" Terima kasih Yah,maaf ya Alfi ngerepotin Ayah dan Ibu terus" ucap Alfi,Ayah mengusap kepala Alfiani.
" Tidak ada anak yang merepotkan orang tua. Ini tugas Ayah, kewajiban Ayah untuk menjaga putri Ayah sampai nanti ada pangeran yang membawamu ke istananya dan menjadikan kamu ratu di kerajaannya". tutur Ayah membuat Alfiani tergelak. Sesaat keduanya terdiam menatap air yang terjatuh.
' Apa masih ada pangeran yang mau menerima keadaan ku ' lirih batin Alfiani. Namun siapa yang tahu tentang ketetapan yang telah Allah tuliskan.
'' Masya Allah Riz,lucu banget ponakan ku. '' ucap Andreas antusias melihat Faiq kecil dalam gendongan Fariz. Fariz tersenyum senang mendengar pujian Andreas. Jelas terlihat ada bangga dan bahagia yang di pancaran mata Fariz.
" Hallo uncle,aku Faiq '' ujar Fariz seraya mengangkat tangan mungil bayi uang menggeliat di dalam gendongannya.
'' Hai, kenapa kamu lucu sekali ?'' gemas Andreas pada bayi berusia hampir dua minggu itu.
'' Ini mau kamu bawa kemana ?'' tanya Andreas .
'' Di jemur mas biar anget '' sahut Fariz,sambil melangkah keluar rumah. Andreas mengekori ayah baru itu.
__ADS_1
Di luar sudah tampak sinar matahari yang mulai terasa hangat. Berbeda dengan daerah yang di tempati Alfiani yang kini sedang turun hujan. Di desanya langit tampak cerah , matahari bersinar terang.
Fariz tampak duduk di halaman samping rumah. Duduk di sebuah bangku panjang di ikuti Andreas .
'' Lucu kan Mas, makanya buruan nikah Mas biar cepet di kasih yang kayak gini " seloroh Fariz saat melihat wajah antusias Andreas pada bayi mungil itu.
'' Sebentar lagi nunggu restu kamu '' ujar Andreas membuat Fariz mengernyit.
'' Maksudnya ?''
'' Maksudnya, aku pinjem dulu anak kamu sini. Faiq sini sama Om Andre '' sahut Andreas asal seraya mengambil bayi Faiq dari pangkuan Fariz.
Belum kembali bertanya apa maksud ucapan Andreas dering ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan video dari Alfiani. Dengan senyum terkembang Fariz menerima panggilan tersebut.
'' Assalamualaikum Dek !" sapa renyah Fariz saat telah terhubung. Mendengar sapaan Fariz, Andreas reflek menoleh layar ponsel di tangan Fariz.
'' Wa'alaikumussalam salam Ayah baru '' suara itu,suara yang sekian lama di rindukannya . Andreas seakan membeku melihat wajah cantik di layar ponsel yang tampak tersenyum ceria. Debar jantungnya seakan meloncat dari rongga dadanya.
'' Lagi ngapain dek ?'' tanya Fariz pada adiknya.
'' Lihat hujan Mas,di sini hujan dari subuh,di sana gak hujan mas ?'' tanya Alfiani dengan nada ceria yang selalu terlihat di raut wajah itu.
'' Gak hujan di sini panas,Ibu sama Ayah mana ?, sehatkan mereka ?'' cecar Fariz pada sang adik.
'' Ibu lagi beres-beres dapur,Ayah lagi mandi. Alhamdulillah semua sehat. Salwa gimana mas, sehat kan ?,terus ponakan ganteng aku mana ?''gantian Alfiani yang mencecar Fariz dengan pertanyaannya.
'' Salwa Alhamdulillah baik-baik aja dek. Nih ponakan ganteng kamu '' sahut Fariz seraya mengarahkan ponsel ke arah Andreas . Bukan wajah bayi mungil yang terlihat namun wajah tampan yang tak pernah menghilang dari ingatannya .
__ADS_1
'' Assalamualaikum Al !" sapa Andreas dengan senyum terkembang. Alfiani seperti membatu di seberang sana.
'' Wa'alaikumussalam mas '' sahutnya terbata. Dua pasang mata itu saling bertemu pandang. Mereka sama-sama kehilangan kata-kata. Karena terlalu banyak kata tak terucap hingga kata itu tak lagi mampu terucap lisan ,namun tersampaikan lewat sorot mata yang memancarkan sejuta rasa yang terselip dalam dada.