Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Siang Pertama


__ADS_3

Usai acara , Andreas membawa masuk sang istri. Ia bisa melihat jika istrinya merasa lelah terlihat dari wajahnya yang begitu letih. Andreas mendorong pelan kursi roda sampai masuk kamar istrinya. Tanpa sungkan Andreas membopong tubuh Alfi. Membuat tubuh Alfi seketika membeku. Ia belum terbiasa dengan sentuhan lelaki. Meski kini mereka telah sah sebagai suami istri.


'' Mas ambilin baju dulu dek '' ucap Andreas kemudian berlalu, Alfi hanya bisa mengulum senyum dan mengangguk. Andreas membuka pintu lemari,yang membuat Alfi langsung tersentak.


'' Mas, jangan pintu itu !" seru Alfi dan terlambat, Andreas sudah membukanya. Alfi langsung menutup wajah dengan dua tangannya. Malu. Sedang Andreas justru terkekeh mendapati apa yang tersaji di depannya.


Di depan Andreas tersaji tumpukan dalaman atas dan bawah serta berbagai model kerudung,yang terpasang di hanger.


'' Mau ganti sekalian gak dek ?'' tanya Andreas yang masih membuka lebar pintu lemari.


'' Mas Andre, tutup. Malu.'' ucap Alfi yang langsung menjatuhkan tubuh dan menelungkupkan wajah di bantal. Andreas tertawa kecil melihat tingkah gemas istrinya. Andreas beralih ke pintu samping mengambil baju atasan dan rok panjang sang istri.


Andreas mendekati istrinya yang masih menelungkup di atas bantal. Mengusap pelan kepala sang istri.


'' Ganti dulu bajunya sayang,udah waktu Dzuhur '' ucap Andreas lembut.


'' Mas keluar dulu '' sahut Alfi seraya bangkit namun tak berani bertatap muka dengan suaminya. Andreas tersenyum, semakin mendekati sang istri. Ia berjongkok dengan dua lututnya di hadapan Alfi, membawa wajah Alfi untuk menatap padanya.


'' Aku cinta sama kamu, Alfiani Nur Azizah '' lirih Andreas kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Mengecup bibir istrinya sesaat. Dan bisa ia lihat betapa sang istri begitu tegang. Andreas melepas kecupannya, membelai bibir yang merona merah itu dengan ibu jarinya.


'' Mulai hati ini, kamu harus terbiasa dengan keberadaan ku, dengan sentuhan ku '' ucap Andreas dengan tersenyum. Alfi mengangguk tanpa bersuara. Lidahnya terasa kaku untuk sekedar mengeluarkan kata. Otot saraf nya menegang saat menerima kecupan singkat dari Andreas. Ini hal baru yang baru sekali ini ia rasa. Seperti ada yang menggelitik dalam perutnya.


Andreas membelai lembut pipi sang istri yang merona merah, perlahan berdiri. Masih dengan tubuh membungkuk Andreas mengecup pipi istrinya. Kemudian berlalu meninggalkan sang istri yang lagi-lagi tersipu.

__ADS_1


'' Aku keluar sebentar '' pamit Andreas, Alfi tak menoleh hanya menyahut '' iya ''.


Saat terdengar pintu tertutup,Alfi menjatuhkan diri terlentang di atas ranjang. Memegang dadanya yang berdebar tak beraturan.


'' Ya Allah,apa ini ?'' lirihnya mencoba menenangkan debaran jantungnya. Alfi menyentuh bibirnya sendiri kemudian tersenyum tersipu , menutup wajah dengan bantal.


Alfi bangkit dari tiduran,duduk tegak seraya menghela nafas panjang. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan dirinya yang terlalu gugup dengan sentuhan sang suami.


Setelah beberapa saat Alfi mampu menguasai diri. Ia mengambil pakaian yang di sediakan oleh Andreas. Perlahan ia membuka kancing baju mengganti dengan pakaian yang biasa ia kenakan di rumah. Tak luput kerudung yang bertengger di kepala. Ia membukanya perlahan, terlalu banyak peniti di sana.


Sampai suara pintu di ketuk, Alfi belum selesai dengan kerudungnya.


'' Dek ,mas masuk ya !" suara Andreas di depan pintu. Baru suara lelaki itu yang terdengar. Namun hatinya sudah berdebar-debar tak karuan.


Lelaki gagah itu menghampiri sang istri yang tampak kesulitan meraba-raba peniti di kepalanya. Andreas duduk di samping Alfi.


'' Kenapa ?'' tanya Andreas lembut .


'' Peniti nya banyak banget Mas, susah bukanya '' ucap Alfi lirih dengan pandangan menunduk. Andreas memegang bahu Alfi membawanya menghadap dirinya. Dengan perlahan di angkatnya dagu Alfi,agar tatapan mereka saling bertemu.


'' Mas suka lho kalau di mintai tolong '' ucap Andreas dengan nada menggoda. Alfi tersenyum tertahan. Sungguh ia merasa keadaan ini sangat menegangkan. Rasanya susah sekali mengendalikan hati untuk terbiasa dengan sentuhan sang suami.


'' Kalau gitu,tolong Mas bantuin Alfi buat copotin peniti nya '' ujar Alfi pelan.

__ADS_1


'' Tentu sayang, dengan senang hati '' sahut Andreas, lagi-lagi lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan kali ini di dahi sang istri.


Andreas suka sekali menggoda istrinya . Rona wajah istrinya yang memerah terlalu menggemaskan baginya. Sedang sang istri benar-benar masih terasa asing dengan setiap sentuhan pada tubuhnya. Tubuhnya selalu saja meremang, hanya karena sentuhan kecil sang suami.


Andreas dengan telaten membuka peniti di kerudung Alfi. Sampai kerudung itu bisa terlepas dari kepala sang istri. Dengan berdebar Andreas membuka penutup kepala itu. Dibukanya dalaman kerudung yang melapisi rambut. Tampak rambut hitam legam yang tampak berkilau. Terikat asal dengan pengikat rambut.


Andreas di buat canggung sendiri, tangannya bergetar saat ia berusaha membuka ikat rambut di rambut Alfi. Tampak Andreas berkali-kali menelan ludah. Saat ikat rambut itu terbuka. Rambut lurus panjang menjuntai. Begitu indah dengan warna hitam pekat nya. Andreas di buat ternganga melihat pemandangan di hadapannya.


'' Cantik '' lirih Andreas, dibelainya helaian rambut itu dengan lembut. Sungguh indah hal yang tak akan bisa di nikmati lelaki lain. Hanya dirinya yang berhak menikmati keindahan itu.


'' Terima kasih '' ucap Andreas sambil menatap dalam mata Alfi. Tampak Alfi mengernyitkan dahi.


'' Untuk apa, yang seharusnya berterima kasih jam Alfi mas. Sudah dibantu bukain peniti '' ucap Alfi. Andreas mencubit gemas hidung Alfi.


'' Terima kasih karena sudah menjaga diri dengan baik. Terima kasih karena aku lelaki yang terpilih untuk menjadi lelaki satu-satunya yang menikmati keindahan ini '' sahut Andreas dengan tangan membelai rambut sang istri.


Senyum tak bisa lagi Alfi sembunyikan. Terlalu manis Allah mengirimkan lelaki itu padanya. Tatapan keduanya saling terpaut , senyum tersungging di bibir keduanya. Andreas mengecup bibir Alfi kembali. Sedikit lebih lama dengan gerakan perlahan yang membuat Alfi terpejam. Ia hanya menerima tanpa tahu harus bagaimana.


Namu tak bisa di pungkiri bahwa ia menikmati. Rada itu terlalu memabukkan, hingga ia lupa caranya bernafas. Andreas melepas tautan bibir mereka. Tersenyum menatap wajah yang kian memerah.


'' Sholat dulu yuk ! '' ajak Andreas yang diangguki Alfi yang bibirnya masih terkunci. Alfi membersihkan dulu make up di wajahnya. Kemudian di bantu Andreas untuk mengambil air wudhu.


Siang itu, hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Menjalankan ibadah empat rakaat bersama. Siang itu, untuk pertama kalinya Andreas menjadi imam dari seorang wanita yang di takdir kan menjadi makmum nya.

__ADS_1


Cinta dan takdir yang direstui sang Ilahi. Membawa mereka pada penyatuan cinta yang suci. Cinta yang membawa mereka untuk saling mengisi, saling melengkapi. Dan semakin mendekatkan diri pada Allah sang maha Pengasih.


__ADS_2