Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Keluarga Yang Hangat


__ADS_3

Kumandang adzan Maghrib menggema. Senja di ufuk barat perlahan memudar. Semburat jingga mulai tergantikan malam. Sejuknya hawa pedesaan mulai terasa. Ada ketenangan yang menelusup hati Faiq. Suara adzan yang menggema dari masjid sebelah menggetarkan hati. Ada rindu yang tak ia tahu,namun menggelayut dalam kalbu. Ia tampak memejamkan mata. Menikmati ritme jantung yang berdetak tenang.


Ia bangkit dari ranjang tempatnya berbaring. Seperti saat sholat ashar tadi,ayah mengajarkannya tentang wudhu dan sholat. Ia akan kembali belajar sholat,yang kata ayah namanya sholat Maghrib. Sebuah kegiatan keagamaan yang dilakukan 5 kali sehari semalam. Kenapa semua itu sangat,sangat asing untuknya ?, apakah ia pribadi yang jauh dari agama di masa lalunya ?. Ah entahlah,yang pasti sekarang ia senang memulai untuk beribadah.


Suasana rumah terasa sepi saat ia membuka pintu. Mungkin mereka telah pergi ke masjid. Faiq belum di ajak ayah ke masjid karena keadaannya. Ia diajarkan ayah sholat selepas ayah dari masjid. Tapi kini ia masih mengingat tata cara wudhu yang tadi ayah ajarkan. Ada baiknya ia mempraktekan sendiri.


Saat Faiq hendak menutup pintu, suara pintu di sampingnya terbuka. Sosok cantik membiusnya hingga ia tertegun menatap manik mata bening yang juga sedang menatap kearahnya. Gadis cantik itu kemudian menunduk saat menyadari tatapan mereka bertemu.


" Assalamualaikum mas " ucap Alfiani seraya mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Faiq.


" Wa'alaikumussalam " sahut Faiq yang mungkin tak lagi terdengar oleh Alfiani. Karena gadis itu telah melangkah pergi dengan mukenah atasan yang telah di pakainya, sedang sajadah dan mukenah bawahan disampirkannya di lengan.


Faiq tersenyum sendiri, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Tanpa di sadari ia sebenarnya menunggu gadis itu,ia sedari tadi hanya bertanya dalam hati tentang gadis cantik yang kini berstatus adik angkatnya. Kenapa gadis itu tak kunjung pulang,dan ternyata kini ia melihatnya. Gadis berwajah teduh dengan paras cantik yang menentramkan rasa saat melihat wajah bercahayanya.


Faiq duduk bersila di mushola keluarga, ia masih belum bisa melaksanakan ibadah sendiri. Tapi langkah kaki membuatnya menoleh, Dan senyum lebar lelaki yang mengenakan baju koko berlengan panjang berwarna putih serta sarung polos hitam serta peci hitam yang bertengger di atas kepalanya.


'' Maaf mas Faiq lama ya nunggunya ?, Habis mandi, tadi jemput adik di kampus " terang Fariz seraya menggelar sajadah.


" Gak,gak lama kok " jawab Faiq yang langsung ikut berdiri,menggelar sajadah sedikit di belakang Fariz. Fariz menoleh sejenak memastikan kesiapan Faiq. Setelahnya ia iqomah dan melaksanakan sholat wajib tiga rakaat.

__ADS_1


Dua lelaki dewasa itu menjalankan kewajiban dengan khusu'. Ada sisi hati Faiq yang terisi saat menjalankan ibadah. Entah ada berapa banyak kekosongan jiwanya. Namun kedamaian dalam hatinya begitu terasa saat lafadz-lafadz yang terlantun dari bibir Fariz menyentuh kalbunya.


Menunggu waktu isya Fariz membaca Al-Qur'an. Sedang Faiq yang masih merasakan pusing di kepalanya kembali ke kamar. Sesaat sebelum masuk kamar, reflek kepalanya menoleh arah kamar Alfiani. Lagi-lagi ia tersenyum sendiri. Apa yang ia harapkan ?, jelas gadis itu sedang di masjid.


Faiq masuk ke dalam kamar,mengganti pakaian yang ia kenakan untuk sholat dengan pakaian santai saja. Ia membuka jendela, dirasakannya terpaan angin yang cukup menusuk kulit. Faiq menengadah menatap langit. Tatapan nya termangu melihat bintang yang mulai menampakkan kerlip cahayanya.


Rasa kosong di jiwanya karena memori yang menghilang tergantikan oleh suasana keluarga yang hangat. Mereka memperlakukan Faiq dengan sangat baik. Meski di sisi hatinya ia tetap ingin tahu tentang keluarganya. Serta ingin kembali mengingat siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi untuk saat ini ia mencoba menerima yang terjadi. Hidup di keluarga sederhana namun penuh dengan cinta.


Saat isya kembali Fariz menjadi imam dalam sholat bersama Faiq. Usai menjalankan kewajiban,ayah ,ibu serta Alfiani pulang dari masjid. Suara salam tiga orang itu menggema. Disambut sahutan oleh Fariz yang langsung tergopoh-gopoh berjalan kearah pintu depan,Faiq mengikuti di belakangnya.


Mereka menyalami ke dua orang tua mereka. Alfiani pun menyalami sang kakak. Saat sampai di depan Faiq, Alfi tertegun sejenak. Keduanya hanya diam mematung. Akhirnya Alfi milih mengangguk kan kepala kemudian mengucap salam dan pamit masuk ke kamar.


Sebuah tepukan di pundak menyadarkan Faiq. Ternyata ayah yang menepuk nya sambil tersenyum ramah. Ia mengajak Faiq duduk di ruang tamu bersama Fariz .


'' Kenapa nak,ada yang kamu pikirkan ?'' tanya ayah yang melihat sesuatu di mata pemuda itu.


''Apa Alfi keberatan dengan kehadiran saya di sini Yah ?'' tanya Faiq saat mereka telah duduk berdampingan di kursi panjang dari kayu itu. Ayah dan Fariz tersenyum mendapati pertanyaan Faiq. Wajar bila Faiq merasa Alfiani tak menghendaki kehadirannya. Karena hanya dia yang tampak tak nyaman.


'' Bukan seperti itu nak,kamu dan Alfi bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah diantara kalian. Kalian bukan muhrim,jadi Alfi hanya menjaga dirinya. Itu saja,kamu jangan tersinggung dengan sikap Alfi. Jika dia menjaga jarak dengan kamu bukan karena di benci sama kamu,tapi memang sudah seharusnya begitu'' tutur ayah lembut membuat Faiq mengangguk paham. Perbincangan terus mengalir dari bibir tiga lelaki dewasa itu.

__ADS_1


Sementara ibu dan Alfi sedang menyiapkan makan malam di meja makan.


'' Bagaimana kuliah kamu nduk ? '' tanya Ibu seraya meletakkan piring di meja.


'' Alhamdulillah lancar bu,doakan Alfi bisa selesai tepat waktu''. sahut Alfi yang sedang menuang air putih dalam gelas.


''Pasti ibu doakan, sekarang di rumah ada orang lain. Kamu harus bisa jaga diri. Jangan sampai lupa tidak menggunakan kerudung di luar kamar '' pesan ibu dengan suara halusnya.


'' Iya bu, insyaallah Alfi ingat '' jawab Alfi,ibu tersenyum lembut. Mendekati sang putri, meraih tangan Alfi dan menggenggam nya penuh sayang .


'' Ibu percaya Alfi bisa jaga diri. Menjaga kehormatan sebagai perempuan ''.


'' Insyaallah Bu, karena Alfi di didik oleh ibu yang hebat '' ucap Alfi seraya menyenderkan kepala di bahu sang ibu. Ibu tersenyum sembari mengusap lembut kepala putrinya.


'' Anak ibu ternyata sudah dewasa''


'' Ih udah gede masih manja aja '' Fariz datang , menarik ujung jilbab yabg di kenakan sang adik. Membuat Alfi cemberut dan menegakkan badan, menatap kesal pada sang kakak.


'' Mas Fariz iseng '' kesal Alfi seraya membenarkan kerudungnya yang tertarik ke belakang. Fariz hanya nyengir, kemudian duduk di kursi meja makan. Ternyata di belakangnya diikuti Faiq. Tang tersenyum tipis dengan kelakuan dua kakak adik itu.

__ADS_1


Tak lama mereka berkumpul di meja makan. Menyantap hidangan sederhana namun terasa nikmat di lidah. Makan malam yang hangat tanpa obrolan namun terasa menyenangkan.


__ADS_2