
Waktu bergulir, tanpa menyisakan jeda dalam setiap perjalanan manusia. Tak ada spasi yang membatasi setiap takdir yang terlewati. Karena semua sudah tergaris dalam lembaran takdir kehidupan.
Seperti halnya dua manusia yang terpisah ruang dan waktu. Lebih dari 365 hari terlalu tanpa jumpa tanpa kata. Namun tautan hati yang terikat rasa tanpa rupa masih menyisakan rindu yang mengungkung kalbu.
Setelah perpisahannya dengan Diandra, Andreas memilih menghilang dari kehidupan seorang Alfiani. Mencoba menggali rasa yang ia takutkan tak mampu ia jaga. Hilangnya rasa pada Diandra membuatnya mempertanyakan tentang cinta yang ada di hatinya. Sedangkal itukah rasa yang ia punya ?, hingga cinta itu menguap tanpa sisa ?.
Namun sudah lebih dari setahun ia menyibukkan diri bekerja dan mengikuti kajian-kajian keislaman untuk memperdalam ilmu agama. Nama Alfiani tak pernah hilang dari hatinya. Rindu itu masih sama menggebunya. Mungkinkah ini sejatinya cinta yang ia rasa ?.
Di dalam ruangannya, Andreas tampak terpekur. Memejamkan mata dengan kursi yang ia putar-putar. Suara ketukan pintu membuatnya terbangun dari pikirannya yang melayang.
'' Masuk !" perintah Andreas , daun pintu terbuka dan muncul wajah Yudis dengan senyum lebarnya.
" Assalamualaikum ,bro !" seru Yudis sambil melangkah masuk.
" Wa'alaikumussalam, apa kabar ?, ada angin apa nih tumben lo kesini ?" cecar Andreas seraya berdiri dan beranjak dari duduknya. Menyambut sang sahabat dengan pelukan hangat.
" Baik gue,lo gimana kabar ?, ngilangin gak pernah kelihatan " sambung Yudis setelah pelukan persahabatan mereka terlepas.
" Baik,gue baik. Lagi sibuk aja. Duduk bro !" ucap Andreas mempersilahkan sahabatnya duduk di sofa yang terdapat dalam ruang CEO muda itu.
" Bukan karena patah hati putus dari Diandra kan ?" tanya Yudis membuat Andreas tergelak.
" Gak lah, cuma emang lagi sedikit sibuk." sahut Andreas sembari melangkah ke arah meja kerjanya. Menghubungi sang sekertaris untuk membuatkan minuman untuk tamunya itu.
Setelah meminta di bawakan minum, Andreas kembali menghampiri sang sahabat dan ikut duduk di samping Yudis .
" Ada apa nih tiba-tiba nongol setelah sekian lama gak ada kabar ?" tanya Andreas seraya menatap wajah sahabatnya. Yudis mengambil sesuatu dari handbag yang di bawanya. Andreas mengernyit seraya menerima selembar undangan dari tangan Yudis.
__ADS_1
" Lo mau nikah sama siapa ?" tanya Andreas yang tak pernah mendengar kedekatan Yudis dengan seorang wanita.
" Namanya Helena anak teman nyokap " terang Yudis dengan pancaran wajah tanpa semangat.
" Lo dijodohin ? " tanya Andreas dengan mata terbelalak. Yudis mengangguk tak bersemangat.
" Kok bisa ?" rasa penasaran Andreas terjeda oleh sebuah ketukan pintu. Setelah di persilahkan masuk, wanita berhijab berumur sekitar 35 tahunan masuk dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring cup cake.
" Di minum bro !" titah Andreas setelah sekretarisnya keluar dari ruangan.
" Thanks " sahut Yudis seraya mengangkat cangkirnya dan menyeruputnya.
" Jadi gimana ceritanya ?'' timpal Andreas yang sudah di buat penasaran dengan kisah perjodohan sang sahabat.
" Gue di kasih deadline waktu buat pulang bawa calon mantu. Tapi sampai deadline yang mereka kasih ternyata gue masih jomblo juga. Akhirnya emak gue yang prihatin sama anak gantengnya yang laku-laku dikenalin deh gue sama anak temannya " cerita Yudis membuat Andreas mengangguk paham.
" Emang selama lo kerja di luar kota gak ada gitu yang bikin lo tertarik ?, sampai dijodohin gitu " celetuk Andreas.
" Siapa ?" tanya Andreas yang tak menemukan nama wanita yang di kenal dirinya dekat dengan Yudis.
" Alfiani " sebuah nama yang meluncur dari bibir Yudis mengusik hati Andreas menimbulkan getaran rasa yang ternyata belum pudar dari hatinya.
Yudis menatap Andreas yang tiba-tiba bungkam dengan raut wajah yang tak bisa di baca olehnya.
" Terus kenapa kamu gak sama Alfi ?" tanya Andreas dengan tatapan mata datar. Mencoba menampik rasa nyeri yang menyengat uluh hati.
" Beberapa bulan yang lalu aku bermaksud untuk meminta restu pada orang tuanya. Aku dateng ke rumah mereka. Tapi kosong, beberapa kali aku datang dan hasilnya sama, aku nanya ke tetangga ternyata mereka keluar kota untuk pengobatan Alfiani yang katanya sekarang lumpuh karena kecelakaan " terang Yudis yang menyambar telinga Andreas.
__ADS_1
" Alfi lumpuh ?" tanya Andreas yang rasanya tak percaya mendengar kabar tersebut.
" Itu info yang aku dapat ".ucap Yudis yang tak tahu ada hati yang sedang merintih di hadapannya.
Andreas sesaat tertegun, rasanya ia tak ingin mempercayai kabar tersebut. Sekelebat bayang gadis itu muncul di benaknya. Senyum yang terukir di bibir gadis itu membayang indah di pelupuk matanya.
" Ndre are you ok ? " tanya Yudis yang tiba-tiba melihat perubahan di mimik wajah Andreas .
" ya gue gak apa-apa " sahut Andreas seraya tersenyum di paksakan , kemudian menyeruput kopi dari cangkir miliknya. Semua itu tak luput dari perhatian Yudis.
" Lo khawatir sama Alfiani ?" cecar Yudis yang diangguki oleh Andreas tanpa beban.
" Mereka keluarga gue juga Yud, dan gue gak tau sama sekali tentang kecelakaan itu. " lirih Andreas yang menyadari diri yang terlalu membatasi hubungan selama setahun lebih ini.
Ia yang membatasi hati agar bisa menyadari tentang cintanya. Seberapa besar rasa yang cinta yang di miliki dirinya untuk seorang Alfiani. Dan nyatanya saat mendengar kabar duka tentang gadis itu. Rasanya hidup seakan runtuh tertimpa puing rasa yang menyayat hati.
" Lo gak dapet info mereka berobat dimana ?" selidik Andreas,Yudis menggeleng pelan.
" Terus alasan lo gak jadi melamar Alfi karena dia lumpuh ?" tanya Andreas dengan sorot mata tajam. Entah kenapa di dasar hatinya merasakan sakit tak kasat mata.
" Realistis aja sih Ndre, keluarga gue sudah di pastikan gak akan setuju. Jadi ya udah gue mundur teratur dan menerima perjodohan ini." terang Yudis. Tatapan mata Andreas semakin menerawang jauh. Bayang gadis berwajah manis itu berkelebatan di matanya.
Obrolan dengan sang sahabat sepertinya tak lagi menarik untuk di bahas . Karena pikirannya telah mengembara pada sosok yang mungkin kini sedang kesakitan saat berjuang untuk kesembuhannya.
" Oke deh Ndre, intinya lo mesti Dateng ke acara nikahan gue " ucap Yudis yang diangguki okeh Andreas meski pikirannya di penuhi seorang Alfiani namun masih bisa menangkap apa yang di ucapkan oleh Yudis.
" Tentu gue bakal dateng ". jawab Andreas. Tak lama Yudis berpamitan. Meninggalkan Andreas yang kini di landa rasa khawatir .
__ADS_1
Andreas menyambar hp yang tergeletak di atas meja kerjanya. Menghubungi Fariz adalah satu pilihan yang bisa diambil saat ini. Namun ternyata nomer itu tak aktif. Andreas mengerang frustasi.
" Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi ?" lirih Andreas seraya menyandarkan kepala di sandaran kursi.