Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Restu


__ADS_3

Usai sholat Maghrib berjamaah di rumah. Kini mereka duduk bersama di ruang makan. Alfiani duduk bersebelahan dengan sang ibu. Dihadapannya duduk Andreas bersebelahan dengan Ayah , sesekali lelaki mencuri pandang pada gadis di hadapannya.


Alfiani di buat salah tingkah dengan tatapan memuja lelaki di hadapannya. Membuat ia tersipu malu setiap kali tatapan keduanya bertemu. Meski tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir sepasang anak manusia yang sedang menikmati getar cinta. Tapi pancaran bahagia terlihat jelas dari raut wajah keduanya.


Rasa bahagia saat cinta itu saling bersambut. Membuat rona wajah kian cerah. Menularkan rasa bahagia pada sekelilingnya. Seperti Ayah yang merasa lega dengan raut cerah yang terpancar dari wajah anak gadisnya.


Meski tak pernah ada keluh dari Alfi namun beberapa bulan terakhir senyum yang biasa tergambar di wajah ayu itu seakan luntur. Rona bahagia yang biasa di tularkan Alfi kepada orang sekitarnya terkikis okeh rona sendu yang menggelayut bagai mendung di wajah yang tampak pilu.


Keadaan yang tak kunjung pulih jelas menjadi beban dalam hati gadis itu. Kata ikhlas dengan apa yang terjadi sangat mudah terlontar dalam kata. Tapi hati ternyata tak semudah itu menerima.


Usai makan malam Alfi duduk beranjak ke kamar. Masih di atas kursi rodanya, gadis itu membuka tirai jendela. Langit tampak pekat, bulan sabit sana sekali tak nampak. Bintang bersembunyi di balik awan yang menghitam.


Tatapan Alfi beralih pada kotak berwarna biru yang ia letakkan di atas meja.


" Ya Allah jika Mas Andreas, memang jodoh yang Engkau suratkan untukku. Jadikanlah ini jembatan menuju ridho Mu ya Rabb. Jadikanlah ini jalan menuju Jannah Mu Ya Allah. " lirih Alfiani. Apapun keadaan yang terjadi padanya,jika memang takdir telah tersurat dalam lembar kehidupannya,ia tak mungkin bisa mengelak ataupun menolak. Takdir di atas segala kuasa yang di miliki manusia.


Suara dering ponsel mengalihkan Alfi dari lamunan panjangnya. Perlahan Alfi melajukan kursi rodanya. Mengambil ponsel yang terletak bersebelahan dengan kotak cincin yang di berikan oleh Andreas.


" Assalamualaikum , Kakak ipar " sapa Alfi dengan senyum lebarnya setelah mengangkat panggilan video dari Salwa.


" Wa'alaikumussalam dek, hahaha..." sahut Salwa di akhiri dengan gelak tawa.


" Aneh banget gak sih kakak,adek . Hahaha...." sambung Salwa yang merasa aneh dengan panggilan itu. Alfi ikut tertawa menanggapinya.


" Ponakan aku lagi ngapain Sal ?" tanya Alfi,dya sahabat yang kini terikat tali persaudaraan ipar itu tak merubah panggilan meski Alfi sering diprotes oleh Ayah dan ibu perihal panggilan itu. Namun kebersamaan mereka yang terjalin sebagai sahabat membuat keduanya susah merubah panggilan.


" Tuh lagi sama Daddy nya " ucap Salwa seraya mengarahkan kamera pada Fariz yang sedang menimbang buah hatinya.

__ADS_1


" Daddy kayak udah pernah liat bule aja " cibir Alfi.


" Eh udah sering ya aku lihat bule,lha ini aku juga lagi lihat " jawab Salwa, sesaat Alfi loading sampai alisnya bertaut. Hingga kemudian ia menyahut " Itu bule' Salwa !!!" seru Alfi yang langsung di sambut tawa Salwa.


" Eh lupa kan tujuan aku telpon kamu. Mana tadi yang kamu pamerin ke aku ?" cecar Salwa yang penasaran dengan cincin yang tadi di kirimkan fotonya pada Salwa.


" Apa ,?" Alfi pura-pura tak paham maksud dari sahabatnya itu.


" Gak usah pura-pura, maksudnya itu apa tadi ?" kejar Salwa yang benar-benar di buat penasaran oleh Alfiani.


" Yang ini ?" Alfi mengarahkan kamera pada kotak yang masih tergeletak di meja ruas itu.


" Nah itu, maksudnya apa ?, dari siapa ?" pertanyaan meluncur mulus dari bibir Salwa.


" Mas Andre ngelamar aku Sal " lirih Alfi yang masih terdengar jelas di telinga Salwa.


" Kamu tolak ?" Salwa melotot tak percaya. Alfi kembali menggeleng. Membuat Salwa mengernyit bingung.


" Aku belum mengiyakan ,juga gak nolak Sal,Mas Andre harus ngomong ke Ayah dulu." tutur Alfi yang membuat Salwa bernafas lega.


" Ya aku ngerti,Ayah pasti setuju " ujar Salwa, Alfi hanya menggedikkan bahu. Percakapan dua wanita itu terhenti kala suara tangis menggema di seberang sana. Salwa segera mengakhiri panggilan, sepertinya putra kecilnya sudah kehausan.


Saat di kamar Alfi termenung menatap kotak cincin yang kini di pegang nya. Di ruang tamu Andreas dengan rasa berdebar sedang berhadapan dengan Ayah. Lelaki itu tertunduk dengan perasaan cemas.


'' Yah, kedatangan Andre ke sini, selain silaturahmi ,Andre ingin menyampaikan niat Andre untuk meminang Alfi Yah. Andre berniat menjadikan Alfi istri Andre. Andre harap Ayah mau merestui niat Andre '' tutur Andreas setelah mengatur ritme jantungnya yang mendadak berdetak begitu cepat. Terlihat Ayah menghela nafas dengan tatapan mengarah pada lelaki yang berada di hadapannya.


" Kamu tau kan Ndre keadaan Alfi sekarang, ?,dokter mungkin bilang , dia akan bisa berjalan lagi. Tapi kita tidak pernah tau yang akan terjadi. Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ?'' tanya Ayah meyakinkan . Andreas menatap Ayah,dua lelaki berbeda umur itu saling tatap.

__ADS_1


'' Andreas yakin Yah '' sahut Andreas tanpa keraguan tersirat di ucapannya.


" Bukan karena kasihan ?'' tambah Ayah yang langsung di sambut gelengan pasti dari Andre.


" Andre sayang Alfi Yah '' jawab lelaki itu tanpa keraguan. Menerbitkan senyum tipis di bibir Ayah Farhan.


'' Bagaimana dengan keluargamu ?'' sambung Ayah.


'' Mereka sudah setuju '' tanggap Andreas .


Ayah menghela nafas lega, menyerahkan sang putri pada Andreas baginya adalah pilihan tepat. Meski sebentar setidaknya beliau cukup mengenal Andreas.


''Kalau begitu tidak ada alasan untuk Ayah tidak merestui kalian '' jawaban Ayah membuat Andreas begitu lega. Senyum terukir nyata di bibir lelaki gagah itu.


" Terima kasih Yah, ijinkan Andre mengambil tanggung jawab Ayah terhadap Alfi. Secepatnya Andre akan meminang Alfi. Setelahnya akan Andre boyong ke Kota. Semoga nanti di sana ada rumah sakit yang lebih baik. Saya akan mengusahakan yabg terbaik untuk Alfi. Apapun akhirnya setidaknya ada usaha terbaik yang kita lakukan " tutur Andreas tegas.


" Kalau kamu benar-benar sudah yakin. Ayah akan dukung. " ucap Ayah.


" Baik Yah, nanti saya akan hubungi Papa, kapan beliau bisa datang maka secepatnya saya akan menikahi Alfi " ujar Andreas.


Mendengar putrinya di minta langsung oleh seorang lelaki ada kekosongan yang tiba-tiba hadir di rongga dadanya. Akhirnya saat itu tiba, melepaskan permata hatinya pada seorang pemuda .


" Jika nanti Alfi membuat mu kecewa dan melakukan kesalahan ingatkan dia. Dan jika hatimu tak lagi memilihnya, jangan sakiti dia , kembalikan pada Ayah." tutur Ayah dengan tatapan menerawang.


" Insyaallah Andreas akan menjaga Alfi,sepenuh jiwa dan raga Yah. Doakan kami menjadi pasangan di dunia hingga nanti di surga ".


" Amin,Ayah akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian "

__ADS_1


Malam itu restu telah berada dalam genggaman Andreas. Langkahnya membawa gadis idamannya menuju ikatan suci terbentang lebar di depan mata.


__ADS_2