
" Selamat siang nona cantik bagaimana kabarnya ?" sapa dokter muda yang tampak mempesona dengan jas putihnya. Menyambut Alfiani masuk ruangan itu. Di belakang Alfi masih setia Andreas mendorong kursi roda. Ayah dan ibu mengiringi masuk ruangan.
" Siang dok, Alhamdulillah lebih baik " sahut Alfi dengan sopan. Dengan seulas senyum tipis.
" Wah lengkap ini ya yang mengantar ?, ini kapan kakaknya datang ?" lanjut dokter yang selama ini menangani Alfi. Sambil terapi sering dokter muda itu bertanya hal pribadi. Dan dokter bernama Anggara tersebut tau jika Alfi memiliki seorang kakak laki-laki.
Dokter muda itu berdiri dari kursinya dan menyalami Andreas.
" Pasti kakaknya nona cantik, benar ?" tanya Anggara yang menimbulkan percik api di hati Andreas.
" Saya ?, bukan dok. Saya Andreas, calon suami Alfi " ucap Andreas percaya diri sambil menyalami dokter tampan itu.
"Oh maaf-maaf, saya tidak tahu " ucap Anggara dengan tawa sumbang.
Alfie menggigit bibir bawahnya,merasa ada aura tidak bersahabat di sana. Namun coba ia abaikan, meski ia menyadari jika dokter spesialisnya itu sedikit memperlakukan dirinya berbeda. Lihatlah betapa dokter muda itu menyambut hangat kedua orang tuanya.
" Oke kita mulai pemeriksaan ya " ucap Anggara setelah menyalami Ayah dan Ibu. Kini Alfi telah tidur di atas brangkar dibantu oleh beberapa perawat di sana.
Usai pemeriksaan Alfi masuk ruang terapi dimana Alfi belajar berjalan dengan berpegang pada dua sisi palang yang tersedia di sana. Di temani beberapa perawat dan kedua orang tuanya.
" Maaf dok ada yang ingin saya sampaikan " ucap Andreas saat berada satu ruangan dengan Anggara dan belum ada pasien lain masuk.
" Tentang ? '' Tanya Anggara yang kini menatap wajah Andreas.
__ADS_1
'' Alfi, begini dok rencananya saya akan membawa Alfi ke Jakarta setelah kami menikah. Jadi saya minta tolong untuk di buatkan surat rujukan agar mempermudah saya meneruskan pengobatan Alfi di sana '' terang Andreas. Tampak Anggara menatap Andreas dalam diam.
'' Menikah ?, tidak menunggu agar kakinya sembuh terlebih dahulu ?'' tanya Anggara tanpa melepas tatapannya dari wajah Andreas.
'' Kita tidak tahu berapa lama waktu yang di butuhkan untuk menyembuhkan kakinya, dan saya tidak sabar menunggu selama itu. Biar nanti saya melanjutkan pengobatan di Jakarta '' terang Andreas. Anggara hanya bisa mengangguk.
Dia tak lebih dari dokter yang menangani nona cantiknya. Meski tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya mengagumi wajah cantik pemilik senyum teduh itu. Wajah yang tidak memperlihatkan keputusasaan meski kedua kakinya lumpuh .
'' Baik nanti saya buatkan. Memang kapan anda akan memindahkannya ?'' tanya Anggara.
" Secepatnya " jawab Andreas dengan nada yakin. Pupus lah sudah benih rasa yang ada di hati seorang Anggara. Ternyata kisahnya harus pupus sebelum bertunas.
Setelah terapi yang melelahkan, namun menjadi terapi paling berkesan untuk Alfi. Kehadiran Andreas mendampingi dirinya, membuat ia memiliki semangat yang berlebih. Kekuatan cinta sepertinya cukup mempengaruhi mental yang membentuk kekuatan fisik hingga hati ini Alfi mampu berpijak dengan baik dan langkahnya cukup panjang.
Dan kini setelah istirahat setelah dari rumah sakit. Alfi sedang menikmati semilir angin sore di teras rumah. Suasana tampak indah dengan rona merah yang tergambar di ujung senja.
'' Makasih " ucap Alfi menerima cangkir yang Andreas berikan.
'' Sama-sama " sahut Andreas yang ikut duduk di teras .
Dua anak manusia itu menikmati sore dengan secangkir teh panas dalam diam. Rasa canggung lebih banyak menguasai perasaan mereka yang belum terbiasa dengan kehadiran satu sama lain.
'' Dek !" Andreas mencoba memecah keheningan yang melingkupi keduanya.
__ADS_1
'' Ya ?'' ucap Alfi seraya menoleh pemilik wajah tampan itu. Dan sesaat keduanya terpaku tenggelam dalam sorot mata keduanya yang saling bertemu.
'' Mungkin pernikahan kita nanti hanya sederhana saja. Karena waktunya terlalu mepet untuk mempersiapkan pernikahan mewah. Gak apa-apa kan ?, nanti setelah Mas selesai mengurus semuanya,kita bisa membuat resepsi.'' tutur Andreas yang di sambut senyum tipis Alfi. Senyum yang selalu mampu membius seorang Andreas.
" Gak apa-apa Mas, Alfi juga tidak punya impian pernikahan yang mewah. Cukup sederhana dan di restui oleh semua. Sehingga kita mendapatkan doa-doa baik dari mereka yang menuntun kita untuk melangkah dalam sebuah biduk rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. '' tutur lembut dari gadis yang telah mencuri hatinya. Membuat hatinya meleleh dengan kehangatan rasa yang di milikinya.
''Amin, semoga kita bisa menjadi pasangan yang bisa saling mengerti, saling memahami dan saling mencintai hingga nanti sampai di usia senja kita. Bila dalam perjalanan kita nanti aku melewati batasan ku, ingatkan aku. Jika aku lupa diri dan berjalan terlalu cepat meninggalkan mu,tarik aku untuk bisa selalu seiring sejalan denganmu.'' ucap Andreas lembut,dua pasang bola mata itu saling menatap.
Alfi menganggukkan kepala, wajahnya yang tertimpa cahaya keemasan membuatnya begitu bercahaya. Hingga Andreas tak busa memalingkan wajah untuk tidak menautkan pandangan pada wajah yang begitu cantik dan bercahaya.
'' Jika nanti Alfi yang melakukan kesalahan ,tegur Alfi mas. Mari kita sama-sama belajar untuk saling menghargai dan menghormati. Jadikan pernikahan ini sebagai ladang pahala kita. Untuk beribadah kepada Allah dan menuntun kita sampai Jannah nya.'' tutur Alfi yang membuat hati Andreas seketika menghangat dan menimbulkan getaran-getaran yang semakin membuncah kan rasa di dalam dadanya.
Rasa cinta itu semakin tumbuh subur di hati Andreas . Membuatnya ingin sekali membawa tubuh itu dalam rengkuhan pelukannya. Menghujani ciuman penuh cinta di wajah yang tampak bercahaya indah. Namun di balik semua rasa yang meletup-meletup dalam dada, Andreas hanya bisa menganggukkan kepala.
Sore semakin merayap, kumandang adzan Maghrib terdengar merdu. Andreas segera bangkit dari duduknya,dan mendorong masuk kursi roda Alfi. Tepat saat kakinya hendak melangkah masuk tampak ibu yang tengah tergopoh-gopoh hendak menghampiri keduanya.
'' Ibu pikir kalian kemana ?,masuk sudah Maghrib !'' ucap ibu yang baru saja mengepak pakaian dibantu Ayah. Sebulan terakhir tinggal di rumah yang ia kontrak dari salah satu kerabat jauh mereka. Cukup banyak barang yang harus di kemasannya.
'' Iya bu'' sahut Andreas masih tetap mendorong pelan kursi roda yang di duduki Alfi.
'' Besok kita pakai travel saja ya bu, Andreas sudah pesan. Berangkat sekitar jam sembilan pagi '' tutur Andreas saat melangkah masuk diiringi sang ibu .
'' Ibu ikut saja nak,oh iya orang tuamu jadinya datang kapan ?'' tanya ibu,ia harus bersiap untuk menyambut tamu yang kini berstatus sebagai calon besan.
__ADS_1
''Insyaallah kalau tidak ada halangan lusa bu '' jawab Andreas yang di angguki ibu.
Di ujung hari itu, saat sang Surya mulai kembali ke peraduannya. Terukir asa yang membentang untuk cinta yang saling bersambut.