Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Sekilas Ingatan


__ADS_3

Empat orang itu duduk bersama di sebuah caffe yang tak terlalu jauh letaknya dari perpustakaan kota. Belum ada yang memulai pembicaraan. Lelaki yang tadi mengenali Faiq sebagai Andreas tak lain adalah Yudis. Kini lelaki itu masih masih memperhatikan dengan seksama lelaki yang duduk di sampingnya.


Tak salah lagi lelaki itu benar sahabatnya,bukan sekedar mirip namun memang orang yang sama.


" Bagaimana bisa ?, terus orang yang dulu di temukan itu siapa ?'' pertanyaan yang entah ia tujukan pada siapa. Lebih ia tujukan untuk dirinya sendiri. Karena jelas tiga orang lainnya tak tahu apa-apa.


" Jadi Lo gak inget gue ? " lanjut Yudis seraya menoleh menatap Faiq yang menggeleng dengan raut bingung. Tadi Alfi sempat menjelaskan sekilas tentang keadaan Faiq. Yudis menghela nafas panjang.


" Oke kita kenalan, gue Yudis Pratama,sahabat lo dari orok. Dan nama lo Andreas Wiratama. Seorang pengusaha sukses, yang menggeluti bidang pengiriman. " jelas Yudis menggebu. Namun Andreas tampak biasa saja,bahkan tak merespon. Ia sama sekali tak mengingat hal apapun itu.


'' Lo gak inget ?'' tanya Yudis, lagi-lagi hanya gelengan kepala dengan raut wajah datar yang di tampilkan seorang Andreas .


''Arrghh '' kesal Yudis seraya menyandarkan kepala di sandaran kursi.


'' Maaf Mas Yudis, pelan-pelan saja. Mas Faiq atau yang mas Yudis bilang Mas Andreas ini, masih dalam pengawasan dokter. Semua butuh proses,Mas Faiq pasti pelan-pelan akan mengingat semuanya. Sekarang ada orang yang mengenal Mas Faiq. Mungkin itu bisa jadi jalan untuk mempercepat pulihnya ingatan Mas Faiq." tutur Alfiani lembut. Membuat dua lelaki itu terpesona menatap wajah cantiknya.


Yudis tersenyum lebar, memperlihatkan kekaguman yang nyata pada gadis itu. Berbeda dengan Faiq yang hanya tersenyum tipis saja.


" Bener yang kamu bilang dek, butuh proses. Aku saja yang terlalu emosional. Jujur aku shock, karena waktu itu kita menemukan mayat tak jauh dari lokasi kecelakaan. Dan kebetulan wajahnya hancur,tapi postur tubuh sangat mirip. Ya salah kami tidak melakukan otopsi, langsung menganggap kalau itu Andreas." terang Yudis,dengan wajah penuh penyesalan.


Lelaki itu menoleh pada sahabatnya dengan senyum yang mengembang. Kemudian menepuk pelan pundak Faiq.


" Welcome back, bro. Lega banget gue, ternyata lo masih hidup. Gue ngerasa bersalah banget waktu itu gak nganterin lo. Mungkin kalau gue bisa nganter gak gini kejadiannya " ucap Yudis tulus. Faiq tersenyum menanggapi.


" Semua sudah tergaris,dan memang harus begini kejadiannya. Tak ada yang perlu di sesali " sahut Faiq.

__ADS_1


Yudis tersenyum lebar, memeluk hangat sang sahabat. Menyalurkan rasa bahagianya atas pertemuan itu. Dua gadis yang menyaksikan itu hanya tersenyum saja. Dan satu yang melegakan,asal usul Faiq sudah jelas.


Sejenak mereka menikmati Minuman yang mereka pesan beserta beberapa makanan ringan. Yudis yang begitu antusias atas pertemuan dengan Andreas terus menceritakan kisah masa kecil mereka. Meski kadang hanya di tanggapi dengan senyum dan anggukan saja.


" Jadi rencana lo setelah ini gimana ?" tanya Yudis,tampak Andreas termenung sesaat.


" Aku juga belum tahu, tapi sepertinya biar dulu saya tinggal di rumah Ayah kalau beliau masih mengijinkan." ucap Faiq lemah. Ia ingin tahu keluarganya tapi saat jalan itu terbuka ternyata berat meninggalkan keluarga yang merawatnya.


" Tapi aku harus ngasih tau keluarga kamu". lanjut Yudis , Faiq mengangguk dan berujar " Iya gak apa-apa, keluarga ku harus tahu keadaanku sekarang." jawab Faiq.


" Bagaimana dek Al, sebagai wali dari keluarga angkat Andreas,aku butuh persetujuan untuk memberi tahu keluarga dia ?'' tanya Yudis sembari menatap gadis yang menatapnya sekilas kemudian mengalihkan pandangan pada gelas berisi minumannya.


" Tentu saja setuju mas, keluarga mas Faiq berhak tahu keadaan puteranya. Mereka pasti akan sangat bahagia melihat keadaan mas Faiq yang ternyata masih sehat meski ingatannya belum pulih . Alfi yakin Ayah pun tak akan keberatan " sahut Alfiani lugas.


" Aku bakal langsug hubungi keluarga kamu Ndre, aku juga bakal hubungi Diandra pacar kamu " ucapan Yudis yang terakhir membuat Faiq terbelalak kaget.


" Iya kamu sudah punya pacar namanya Diandra Maheswari,kamu udah pacaran sama dia dua tahunan " jelas Yudis, membuat Faiq seketika menatap Alfiani yang kini menunduk, memainkan sedotan di gelasnya. Salwa pun tampak gelisah, merasa iba dengan sahabatnya yang pasti terluka mendapati kenyataan itu.


" Aku punya pacar ?, Diandra ?, Aku ..... Arrrggh " Faiq berteriak tertahan, memegangi kepalanya yang berdenyut. Sakit itu menghantam kembali.


" Mas Faiq" kaget Alfi yang langsung berdiri. Khawatir dengan keadaan lelaki itu.


" Ini bagaimana ?" panik Yudis. Yang langsung meraih pundak Faiq yang masih meraung kesakitan.


" Ke rumah sakit aja mas " ucap Alfiani yang tak kalah panik dengan Yudis.

__ADS_1


" Yudis, Yudis" gumam Faiq masih terdengar oleh mereka. Ada memori yang sedikit terbuka buka bayangan samar dua anak lelaki yang berlari- lari di sebuah halaman luas.


" Arrrggh " teriak Faiq sedikit keras,cukup menyita pengunjung di sana. Kepalanya semakin berdenyut .


" Bawa aja pake mobil mas Yudis,nanti motornya biar saya yang bawa. " ucap Salwa.


" Oke,Al tolong kamu bayar dulu tagihannya " ujar Yudis seraya mengulurkan dompet miliknya. Alfi tak mau berdebat ia langsung mengambil dompet tersebut. Meski ia tidak mungkin membuka dompet milik orang lain, terlalu tidak sopan baginya.


Yudis buru-buru memapah Faiq keluar dari cafe. Ia harus secepatnya membawa sahabatnya ke rumah sakit. Setelah membayar,Salwa dan Alfi mengejar Yudis yang kebetulan belum keluar dari area parkir.


Tok tok tok


Alfiani mengetuk kaca mobil Yudis yang langsung terbuka.


" Ada apa ?" tanya Yudis,sekilas Alfi menatap Faiq yang duduk bersandar dengan mata terpejam.


" Kunci motor mas,mungkin di saku mas Faiq " ucap Alfi,Yudis merogoh saku jaket yang di pakai Faiq dan menemukan apa yang di carinya.


" Ini " Yudis menyodorkan kunci yang langsung diambil oleh Alfiani.


" Makasih " ucap Alfi yang langsung beranjak dari sana.


Dengan kecepatan cukup tinggi Yudis mengendarai mobilnya menyusuri jalanan yang cukup lengang. Di belakangnya ,Alfi dan Salwa mengikutinya. Jelas terlihat kekhawatiran di raut wajah Alfi. Melihat Faiq kesakitan entah mengapa seakan ia ikut merasakannya. Dalam hatinya ia hanya bisa terus mengagungkan nama Alloh. Berharap semua akan baik-baik saja.


Sampai di sebuah klinik terdekat, Yudis menghentikan laju mobilnya. Segera turun dari mobil dan memapah Faiq masuk ke dalam klinik. Salwa dan Alfiani mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Terdengar samar nama Yudis berkali-kali di ucap Faiq yang masih tampak kesakitan. Alfi hanya bisa menatap hampa saat tiba-tiba nama Diandra pun keluar dari bibir Faiq. Ada rasa yang tiba-tiba muncul di hatinya. Dan rasa sesak.


" Astaghfirullah hal'adzim ya Alloh , cobaan apa ini " batin Alfi yang terdiam berdiri di depan ruangan yang di masuki Yudis dan Faiq. Salwa yang mengerti,tanpa berucap di raihnya bahu sang sahabat dan dituntunnya duduk di kursi tunggu.


__ADS_2