
Sunyi menyergap malam, tertinggal suara binatang saling bersahutan bagai melodi dalam keheningan. Di sepertiga malam yang tenang. Duduk seorang diri terpekur di hadapan sang Ilahi.
Mengintrospeksi diri , tentang hal yang telah di lalui. Menengadahkan tangan memohon pada Sang Maha Pengasih, untuk segala khilaf dan dosa yang tak terhindari.
Dalam lantunan istighfar yang yang terucap, bersama tetes bening air mata. Memohon ampunan atas dosa yang terkadang tak sengaja di lakukan.
Di sudut kamar,Alfi masih terpekur dalam khusyuknya doa. Malam ini ia melaksanakan sholat malam sendiri. Menyepi di dalam kamar, mendekatkan hati pada Sang Pemilik jiwa. Mencurahkan segala rasa pada Yang Kuasa. Tempat ia berkeluh kesah,tentang segala yang ia rasa.
Dalam keheningan malam itu. Alfi menengadahkan tangan,menguntai kan doa pada Sang Sang Pemilik Rasa. Untuk lelaki yang masih saja datang dalam mimpi,yang menghantui dalam bayang ilusi. Entah harus bagaimana ia melepas dengan ikhlas. Saat hati masih saja mengingat tentangnya.
" Ya Allah, Engkau lah sang pemilik takdir hidupku. Engkau yang mengatur tentang hati ini. Jikalau Engkau jadikan rasa ini sebagai anugerah dari Mu, ijinkan hamba menikmati indahnya sebuah anugerah. Namun jika rasa yang Engkau sertakan di hati ini sebagai penguji, luluskanlah hamba dalam mengikhlaskan nya. Jaga dia ya Alloh dari kejamnya fitnah dunia. Lindungi dia dari segala marabahaya. Berkahi lah setiap langkah dalam hidupnya." lantunan doa yang hampir setiap malam tersemat dalam panjang curahan hati pada sang Ilahi.
Sebulan sudah,namun ikhlas hanya kata yang terucap tanpa bekas. Nyatanya hati itu masih merindu pada sosok gagah penuh wibawa. Sosok yang tak bisa ia tolak kehadirannya.
Tak pernah ada komunikasi,namun bisikan hati terus saja mengingat tentang dia. Dia yang pergi membawa cinta yang baru saja merekah. Andreas Wiratama, cinta yang hilang dan sudah seharusnya ia ikhlaskan.
__ADS_1
Alfi masih terduduk di atas sajadah. Berbicara pada Tuhannya. Mengadukan segala yang membelit hati, membelenggu jiwa. Entah rencana apa yang tertulis untuknya, namun ia selalu percaya Alloh menyiapkan rencana indah untuknya.
Alfi melepas mukenah yang dikenakan. Setelah lama duduk bermunajat pada Yang Esa. Kini langkah gadis itu mendekati jendela. Membuka tirai, menatap pekat langit. Hanya ada kerlip bintang yang nampak berbinar dengan cahayanya.
Alfiani meletakkan tangan di dada. Merasakan sesak yang selalu ada saat ia mengingat tentang lelaki yang selalu ia selipkan dalam doa.
Tersenyum hambar menatap langit. Terlalu jauh untuk ia menjangkaunya. Seperti juga tentang perasaan yang tak mungkin tersampaikan. Terlalu jauh untuk di gapai. Mungkin inilah patah hati sebelum memiliki.
Alfi mengeratkan genggaman pada bros kupu-kupu yang dipegangnya. Menghela nafas dalam dengan mata terpejam. Setitik air mata tak bisa terhindarkan. Ia rindu sosok itu, sosok yang tak mungkin tersentuh.
🦋🦋🦋
Andreas tampak tersentak bangun dari tidur nyenyak nya. Hal yang hampir terus terjadi selama sebulan ini. Seperti ada yang membangunkan , namun nyatanya tak ada siapa-siapa.
Andreas menatap jam di atas meja. Pukul tiga dini hari. Ia bangkit dari ranjang tempat tidurnya. Berjalan menuju toilet dan mengambil wudhu di sana. Terdengar dari kucuran air yang terdengar dari dalam toilet.
__ADS_1
Kebiasaan dari desa yang hingga kini di bawanya. Terbangun dini hari, untuk sholat malam. Bermunajat kepada Allah, mencurahkan segala kebimbangan yang menggelayut di hatinya.
Bahkan waktu telah berlalu tanpa pernah bersua wajah itu. Tapi perasaan masih saja membelenggu. Rasa itu tak berkurang sedikitpun justru semakin menggebu bersama rindu yang membelenggu.
Keberadaan Diandra yang ia harap dapat mengikis rasa nyatanya tak terlalu terpengaruh di hatinya. Kini justru rasa semakin tidak nyaman saat bersama wanita itu. Pelukan yang terkadang tiba-tiba Diandra berikan mengganggu rasa hatinya. Selalu ada rasa bersalah setiap kaki ia bersentuhan dengan wanita.
Ia terlahir bukan sebagai hamba yang taat. Bersentuhan, menggenggam tangan , berpelukan bahkan mencium pun dulu sering ia lakukan. Namun kini terasa mengganjal di hati. Ada rasa bersalah yang menggetarkan dada.
Dan di setiap malam,ada linangan air mata dari lelaki yang sedang mencoba berbenah diri. Memohon ampun atas dosa-dosa yang ia lakukan.
Atas khilaf yang terkadang tak terelakkan. Di setiap bait doa ya g di panjatkan selalu ada curahan hati yang disampaikan pada Sang Pemilik Hati yang kini di penuhi kebimbangan.
Ada dua wanita di hidupnya, yang ingin ia jaga perasaan dan hatinya. Diandra yang telah membuktikan ketulusan dan kesetiaan. Tak mungkin semudah itu ia abaikan. Namun hadirnya hati lain yang tak bisa ia pungkiri keberadaannya membuat hati kian resah.
Gadis yang selalu menampilkan kelembutan di setiap ucapan dan tatapan. Gadis yang menguarkan rasa nyaman dan tentram hanya dengan menatap wajah ayu itu. Gadis,yamg menjadi perantara dirinya terlepas dari maut. Hingga ia bisa menikmati hari ini. Dengan sebuah janji di hati untuk selalu memperbaiki diri.
__ADS_1
Kini di hadapan Allah,Andreas menengadah menyerukan doa. Agar hanya dengan restu dari Allah ia menemukan tambatan hati yang sesungguhnya. Ia tak mungkin memilih keduanya. Karena akan ada dua hati yang semakin terluka. Biar Allah dengan caranya. Menentukan takdir yang telah tersurat dalam hidupnya. Cukup ia selalu menengadah, memohon restu Yang Kuasa.