Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Dua Hati Yang Terpisah


__ADS_3

Langkah anggun dari sepasang kaki jenjang tampak berjalan menyusuri lobby sebuah perusahaan pengiriman. Senyum mengembang setiap berpapasan dengan orang yang menyapanya dengan ramah.


Wanita cantik yang tampil modis dengan pakaian dengan brand ternama membungkus tubuh langsingnya, memasuki lift yang membawanya pada lantai yang di tuju.


" Siang Mbak !" sapa wanita yang tak lain adalah Diandra,ia menyapa sekertaris.


" Eh bu Diandra,siang bu !" sambut sang sekertaris yang sebelumnya sedang di sibukkan dengan pekerjaan hingga fokusnya tertuju pada laptop di hadapannya.


'' Andreas nya ada mbak ?'' tanya Diandra lembut dengan seulas senyum di bibir.


'' Ada Bu,Pak Andreas nya di dalam''. jawab wanita itu yang sudah hafal dengan Diandra yang memang sering datang ke kantor Andreas.


Hanya beberapa waktu lalu saat Andreas di nyatakan meninggal wanita itu tak menginjak kantor ini. Namun setelah keberadaan Andreas di temukan dan lelaki itu baik-buruk saja. Ia kembali sering menghampiri kekasihnya. Seperti siang ini dengan berbekal makanan yang tadi di beli ia mendatangi kantor Andreas.


'' Sayang !'' seru Diandra seraya mendorong daun pintu dan membukanya. Namun tak ada sahutan. Diandra berjalan masuk dengan senyum riang. Langkahnya terhenti saat pemandangan di hadapannya membekukan langkahnya. Andreas berdiri menghadap jendela kaca besar dalam ruangannya. Dengan dua telapak tangan yang di masuk kan ke dalam saku celana.


Tatapan lelaki itu menerawang jauh. Tubuh menjulang tinggi itu pun tak menyadari kedatangan sang wanita. Angannya terlalu jauh mengembara. Menembus jarak waktu yang membentang. Terdampar pada bayang sosok cantik yang tak jua menghilang dari ingatan.


'' Ndre !'' lembut Diandra sembari memegang lengan Andreas. Membuat lelaki itu tersentak kaget. Dan reflek melepas tangan Diandra dari lengannya.


'' Eh Di,kok kamu di sini. Aku gak denger kamu masuk '' ucap Andreas saat menyadari siapa yang datang.


Diandra berusaha tersenyum meski ada sesak yang menghimpit dada. Ia tahu lelaki itu masih menyimpan rapat rasa di hatinya untuk gadis yang telah di tinggalkan.


'' Aku panggil kamu gak denger, kenapa ?'' tanya Diandra, pura-pura tak tahu keadaan hayo lelaki di hadapannya.

__ADS_1


'' Gak ada apa-apa. Hanya sedikit capek saja '' sahut Andreas dengan senyumnya.


" Belum makan kan ?,aku bawa makan siang. Tadi aku beli di restoran favorit kamu'' ucap Diandra lembut, Andreas mengalihkan tatapan ke arah meja dekat sofa dan benar saja ada makanan yang masih terbungkus rapat.


'' Makasih ya,yuk kita makan bareng ! '' ajak Andreas seraya melangkah mendekati sofa diikuti Diandra di belakangnya.


'' Di, tolong buka pintunya. Kita cuma berdua di sini,takut jadi fitnah '' titah Andreas, yang langsung di jalankan okeh sang wanita. Meski belum terlalu biasa dengan perubahan Andreas, Diandra mencoba untuk menyesuaikan diri.


Semenjak kepulangan dari desa, Andreas banyak berubah. Tak pernah ada pelukan, sentuhan apalagi ciuman dari lelaki itu. Bahkan setiap ia datang, pintu harus terbuka lebar. Diandra tahu itu untuk kebaikan, tapi bagi dirinya yang belum memahami itu sedikit merasa terbebani.


'' Aku ambil piring dulu '' ucap Diandra yang kemudian melangkah ke arah pantry di sudut ruangan luas itu. Andreas mengamati dalam diam. Ia tahu betapa tulus wanita itu terhadapnya. Namun mengapa sisa cinta yang tertinggal di hatinya tak bisa lagi menyulut bara yang menghangatkan dada.


Semua terasa hambar, berdekatan dengan Diandra tak lagi menimbulkan getaran rasa yang membara. Tapi ia akan tetap berusaha bertahan, dan memantik lagi rasa cinta yang perlahan padam.


✨✨✨


Tuk


Suara buku yang letakkan di meja yang sedang Alfi gunakan untuk membaca. Membuat Alfi mengangkat kepala dan menatap siapa yang datang.


''Mas Yudis, Assalamualaikum mas '' kaget Alfi saat menyadari siapa yang menghampiri dirinya yang sedang duduk di perpustakaan kota.


'' Wa'alaikumussalam,boleh kan duduk di sini ?'' tanya Yudis sembari duduk di hadapan Alfi.


'' Silahkan Mas '' ucap Alfi yang kemudian kembali menekuni buku di depannya. Yudis tampak celingukan ke kanan kiri seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


'' Kamu sendiri ?'' tanya Yudis yang ternyata sedang mencari keberadaan orang yang memungkinkan datang bersama Alfi.


'' Gak kok Mas,sama Salwa dan Mas Fariz. Itu orangnya '' ujar Alfi seraya menunjuk salah satu arah dimana dua orang yang bersamanya sedang mencari buku dengan berdiri bersebelahan.


'' Oh, kirain sendiri. Sudah mulai mengerjakan skripsi ?'' tanya Yudis dengan nada lirih,Alfi mengangguk dan menjawab pelan.


'' Sudah''.


Yudis tak lagi banyak bicara,ia tahu gadis di hadapannya sedang fokus dengan buku yang di baca. Sesekali tampak Yudis mencuri pandang pada Alfi yang seakan tak memperdulikan keberadaan dirinya. Yudis tersenyum sendiri . Menyadari ketakutan hatinya yang tak berani mengungkapkan segala rasa di hatinya.


Ia terlalu takut akan penolakan, membuat dirinya memilih bungkam. Dan cukup menatap dalam diam, menikmati keindahan wajah cantik yang menentramkan meski dari balik persembunyian.


'' Eh ada Mas Yudis, Assalamualaikum mas !" Fariz menghampiri mereka. Ia menyalami Yudis yang langsung menyambut uluran tangannya. Salwa yang berada di belakang Fariz kini duduk di samping Alfi.


'' Wa'alaikumussalam,apa kabar mas Fariz ?, lama ya tidak ketemu ?'' sapa Yudis meski dengan suara lirih karena mereka sadar sedang dimana.


'' Alhamdulillah baik Mas,Mas sendiri apa kabar ?. Sudah pernah bertemu dengan nas Andreas lagi ?'' nama yang di ucapkan Fariz membuat Alfi menajamkan pendengaran.


Semenjak pergi dari desa. Andreas memang cukup intens berkomunikasi dengan Fariz dan Ayah namun ia tak pernah berani menanyakan tentang lelaki itu pada mereka.


'' Alhamdulillah saya juga baik,dua Minggu yang lalu saya pulang dan bertemu Andreas. Katanya pertengahan bulan depan ada acara kunjungan ke kantor cabang tempat kamu bekerja '' terang Yudis.


'' Iya, Mas Andreas juga sudah mengabari saya '' ucap Fariz, membuat detak jantung Alfi bekerja sedikit lebih cepat. Lelaki itu akan datang lagi ke kota kecil ini. Kemungkinan mereka bertemu sangatlah besar, karena bisa di pastikan Andreas akan menemui kedua orang tuanya .


Siapkah hatinya untuk hari itu ?. Ia tak yakin, karena kenyataannya rasa itu tak juga hilang. Justru rasa rindu kadang membelit batinnya, hingga terkadang menyisakan rasa lara.

__ADS_1


Dan tak bisa ia pungkiri juga,bahwa ia pun bahagia mendengar kabar kedatangan seorang Andreas. Meski sebentar ia dapat melihat wajah itu. Mungkin saja dengan melihatnya rasa rindu itu bisa terurai dari dalam hati.


Perbincangan tak mungkin di lakukan di dalam perpustakaan. Akhirnya mereka diam, sibuk dengan bacaan masing-masing. Tapi jangan lupakan dua pemuda yang duduk bersebelahan itu terus saja mencuri pandang pada gadis di hadapan mereka, meski dengan objek yang berbeda. Yudis yang diam-diam menatap Alfi dan Fariz yang ternyata sudah terjerat pesona Salwa .


__ADS_2