Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Apartemen


__ADS_3

Memasuki sebuah unit mewah apartemen, sesuatu yang bahkan tak pernah ada dalam benak Alfi. Bahkan bermimpi pun ia tak pernah. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Perabot yang pasti dengan harga selangit memenuhi ruangan itu.


Andreas membawa sang istri semakin ke dalam. Alfi masih terdiam, sungguh pemandangan di hadapannya terasa begitu luar biasa. Ia yang selama ini hidup dalam kesederhanaan. Di sini ia di sambut dengan segala hal mewah dan berkelas.


'' Gimana sayang ?'' tanya Andreas pada istrinya,ia ingin mendengar pendapat sang istri tentang hunian mereka.


'' Bagus '' pendek Alfi yang sejujurnya ia masih terlalu insecure dengan keadaan yang menyambutnya.


Andreas menghentikan laju kursi rodanya, kemudian berjongkok di hadapan Alfi.


'' Gak apa-apa kan, untuk sementara kita tinggal di sini ?. Nanti kalau rumahnya udah jadi kita tinggal di rumah kita '' ucap Andreas sembari menatap dua bola mata istrinya. Alfi tersenyum lembut, kemudian mengusap pipi lelakinya.


'' Tinggal di mana pun,asal sama Mas Andreas Alfi gak masalah. '' sahut Alfi yang sukses membuat lelaki itu tersenyum senang.


'' Ehm,,,duh pengantin baru, jadi baper. '' celetuk Riani yang baru saja keluar dari kamar utama, karena sebelumnya ia membawa koper milik Alfi.


Alfi tersipu,ia menjauhkan tangannya dari pipi Andreas. Menundukkan kepalanya membunyikan rona wajahnya yang memerah. Andreas yang tahu istrinya malu,kini berdiri dan menghampiri sang adik. Tangan menarik kerudungnya bagian depan, hingga menutupi wajah gadis tersebut.


" Iseng aja " ucap Andreas yang di balas cebikkan bibir oleh Riani.


" Semua udah masuk, Mama mau langsung pulang. Kasihan Papa nanti sendirian " sela Mama yang juga dari kamar Andreas bersama seorang lelaki yang membantu membawa barang-barang Andreas.


" Makasih ya mas " Andreas tak menimpali sang Mama ,ia mendekati lelaki yang telah membantunya. Memberikan selembar uang kertas berwarna merah sebagai tips.


" Sama-sama mas, kalau begitu saya pamit" pamit lelaki paruh baya tersebut. Andreas mengangguk mengiringi lelaki itu keluar dari unit nya hingga pintu.


" Mama gak nginep di sini ?'' tanya Alfi pada Mama Nadhira.


" Gak sayang, kasihan Papa sendiri. Besok Mama main lagi ke sini ". jawab Mama.

__ADS_1


" Jauh Ma , ke rumah Mama ?'' tanya Alfi yang belum tahu kediaman sang mertua.


'' Gak kok sayang, paling 45 menit sampai '' sahut Mama yang duduk di sofa dekat dengan Alfi.


'' Lumayan jauh ya Ma,45 menit. Mama capek dong. Udah malem lagi''. ujar Alfi yang khawatir Mama lelah.


'' 45 menit di sini gak jauh mbak,cuma karena macet aja. Ya udah yuk Ma. Pulang,Besok Riani ke sini lagi mbak " ujar Riani yang bangkit dari duduknya. Alfi tersenyum seraya mengangguk.


'' Mama ,beneran mau pulang sekarang ?'' suara Andreas menyela obrolan mereka.


''Iya Ndre,udah malem kasihan Papa sendiri '' jawab Mama, Andreas mendekat. Berdiri di belakang sang istri seraya mengusap lembut kepala Alfi.


'' Ya udah,tapi besok pagi kamu ke sini Ri. Mas harus ke kantor soalnya '' pinta Andreas pada sang Adik yang langsung diacungi jempol oleh gadis ceria itu .


'' Pamit dulu ya mbak '' pamit Riani seraya mencium pipi kanan ,pipi kiri Alfi.


'' Makasih ya dek,udah nyempetin jemput '' ucap Alfi dengan senyum terkembang.


'' Mama pulang dulu ya,kamu istirahat ''. Ucap Mama sambil mencium pipi Alfi.


'' Iya Ma, makasih ya Ma. Hati-hati dijalan '' sambung Alfi. Mama mengangguk seraya menyahut '' Iya sayang ''.


'' Aku nganter Mama ke depan dulu '' pamit Andreas.


'' Iya '' jawab Alfi pendek.


Tinggal Alfi sendiri di ruang tamu apartemen itu. Menelisik seluruh ruangan dengan tatapan matanya.


'' Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang Engkau beri. Lindungi hamba dari serakahnya nafsu dunia '' lirih Alfi. Mendapat suami kaya harta menjadi sebuah nikmat sekaligus ujian yang berat baginya.

__ADS_1


'' Sayang langsung ke kamar ya '' suara Andreas menyadarkan lamunan Alfi. Tanpa menunggu jawaban istrinya, Andreas mendorong kursi roda Alfi masuk ke tempat tidur utama. Dominasi warna putih menyambut penglihatannya saat memasuki ruangan tersebut. Tak begitu banyak barang di sana.


Hanya ada ranjang ukuran besar satu buah lemari dan satu sofa panjang beserta meja. Sebuah meja hias berada di dekat ranjang.


'' Welcome our bedroom . Besok kita belanja buat nambahin perabotan yang pengen kamu beli. Terus beli lemari satu lagi buat baju kamu. Sementara kayak gini dulu ya. Maaf soalnya aku belum sempat merubah kamar ''. tutur Andreas.


Alfi meraih tangan suaminya yang masih menegang pegangan kursi roda. Du genggamannya tangan sang suami dan di kecupnya punggung tangan kemudian telapak tangan suaminya. Andreas membungkukkan badan mengecup sekilas pipi sang istri.


'' Alfi udah gak butuh apa-apa. Semua yang Mas kasih sudah lebih dari ekspektasi Alfi. Alfi seneng,Alfi bahagia bisa berjodoh dengan Mas Andreas '' tatapan mata keduanya saling bertemu. Mengutarakan rasa tanpa kata, tersampaikan lewat sorot mata


Ada cinta yang dalam dan begitu indah. Cinta yang nyata adanya, menautkan dua hati untuk saling memahami.


Andreas pindah ke hadapan Alfi, berdiri dengan lututnya untuk menyamakan tinggi dengan istri tercinta.


'' Terima kasih ,kamu adalah anugerah yang Allah berikan untuk Mas. Anugerah terindah sebagai pelengkap hidup Mas. '' ucap Andreas, tangannya terulur mengusap bibir mungil yang tampak merona.


Perlahan Andreas mendekatkan wajahnya pada Alfi. Mengecup bibir yang seakan mengundang untuk di kecup. Alfi memejamkan mata, menikmati kecupan yang sudah berubah menjadi ciuman.


Rasa canggung mulai mencair, Alfi tak lagi tegang saat Andreas menyentuhnya. Membuat lelaki itu merasa senang. Istrinya mulai terbiasa dengan kehadiran dirinya. Andreas melepas ciuman di bibir Alfi. Mengusap saliva yang membasahi bibir Istrinya.


'' Aku bantu bersih-bersih dulu '' ujar Andreas yang kemudian mengangkat tubuh Alfi. Alfi yang mulai terbiasa, langsung memeluk leher suaminya. Sebenarnya Alfi meski belum bisa melangkah sendiri namun bila di papah ia sudah bisa sedikit demi sedikit berjalan.


Namun suaminya memperlakukan dirinya seakan jompo yang tak lagi bisa bergerak. Tapi mendapati kesigapan lelakinya sungguh membuat hati Alfi berbunga-bunga.


Cinta itu semakin tumbuh dan berkembang dengan suburnya di dalam hati yang kini merasa berbunga-bunga. Penyatuan cinta yang telah di halalkan jauh lebih indah rasanya.


Tanpa ragu Andreas membantu sang istri bersih-bersih diri kemudian menyiapkan piyama untuk Alfi tidur. Perlahan Alfi yang telah di dudukan di atas ranjang, mengenakan piyamanya. Andreas masih berdiri memperhatikan.


'' Mas Andre buruan bersih-bersih nanti keburu malem. Aku bisa sendiri kok pakainya.'' tutur Alfi yang sesungguhnya risih saat mengenakan pakaian di bawah tatapan suaminya.

__ADS_1


'' Takut nanti kamu kesusahan '' ucap Andreas.


'' Gak Mas,Alfi bisa '' Alfi meyakinkan sang suami. Baru setelahnya lelaki itu masuk ke kamar mandi di bawah tatapan Alfi dengan senyum terkembang.


__ADS_2