Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Sehabis sholat isya , sepasang suami istri itu duduk di ruang tamu. Menunggu kedatangan kedua orang tua mereka. Andreas membawa sang istri bersandar di dadanya. Berkali-kali menciumi kepala sang istri dan membelainya dengan lembut.


Bi Yuni yang hilir mudik menyiapkan makan malam di bantu oleh Winda. Saat mengambil sesuatu dan melihat kearah ruang tamu, wanita itu tersenyum bahagia. Melihat keharmonisan pasangan muda itu sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan.


Sampai di ruang makan, tampak bi Yuni tersenyum-senyum sendiri.


'' Kenapa Bi ?'' tanya Winda yang sedang menata piring di meja makan.


'' Seneng lihat Bapak sama Ibu selalu romantis '' sahut Bi Yuni dengan senyum terkembang. Wanita itu di buat baper oleh majikannya.


Winda tampak tersenyum tipis. Jauh di dasar hatinya wanita itu masih menyimpan rasa kagum pada sang majikan. Namun ia sadar tak seharusnya ia melampaui batas. Apalagi setelah mengenal sang nyonya yang selalu berbicara lembut dan memberinya senyum. Meski terkadang ia melakukan kesalahan. Membuat dirinya sadar,ada perbedaan yang tak mungkin terlampaui.


Hakikatnya cinta itu memanglah sebuah anugerah, namun ada saatnya cinta itu cukup di rasa tanpa harus diakui keberadaannya. Ada saatnya cinta itu untuk di lepas tak harus meninggalkan bekas. Dan Winda kini menyadari perasaan kagum pada tuannya adalah rasa yang harus ia bunuh keberadaannya. Bukan untuk ia pelihara dan di rawat hingga cinta itu tumbuh dengan indah.


Awalnya ia percaya diri,bahwa ia melebihi sang nyonya, namun ternyata yang ia sadari kini bahwa cinta sang tuan pada nyonya bukanlah sebatas raga namun rasa yang tak terukur dengan angka. Saatnya kini ia mundur teratur, melepaskan cinta yang memang tumbuh pada orang dsn waktu yang tak tepat.


'' Malah ngelamun Win '' tegur Bi Yuni yang melihat Winda tertegun di salah satu sisi meja makan.


'' Lagi mikir Bi, Mbak Alfi sudah sembuh, aku gimana ya ?. Padahal aku seneng kerja sama Mbak Alfi orangnya gak pelit ilmu. '' terang Winda, yang menang sering berdiskusi dengan sang nyonya majikan.


'' Ya coba dulu bilang sama Non Alfi, mungkin bisa ikut bantuin kerja bibi, kalau kamu tidak keberatan '' usul Bi Yuni. Winda menganggukkan kepala. Kemudian beranjak mengambil buah yang telah dicucinya.


'' Aku sih gak keberatan Bi, kerja apa juga. Punya majikan kayak Mbak Alfi itu langka lho. Dia tidak pernah menggurui tapi selalu memberi contoh. Misal waktu sholat, dia tidak pernah mengajak,tapi dia selalu menjalankannya tepat waktu. Dan selalu mengingatkan kita untuk istirahat di saat waktunya beribadah. '' tambah Winda lagi. Ia kini begitu mengagumi sosok sang nyonya .


Wanita yang dulu di pandangnya sebelah mata karena keterbatasan yang di miliki. Namun semakin mengenal wanita itu tak bisa hatinya memungkiri bahwa wanita itu memiliki pesona luar biasa yang terpancar dari dalam hatinya yang cantik.

__ADS_1


Tak salah jika sang tuan tampak begitu menyanjung Istrinya. Karena wanita itu memanglah istimewa. Ada rasa bersalah yang mengendap di dada, saat pikiran culas yang dulu sempat terbersit di otaknya muncul seakan menertawakan kebodohannya.


'' Sudah siap Bi ?'' suara Andreas dari ambang pintu sedikit mengagetkan Bibi dan Winda yang masih di sibukkan dengan memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.


'' Eh Pak,sudah Pak sudah siap '' sahut Bibi sedikit tergagap. Terlihat Andreas yang tampak fresh dengan pakaian santainya melihat jam di pergelangan tangan.


'' Ya sudah, terima kasih Bi, sebentar lagi Mama dan Papa sampai '' ucap Andreas seraya beranjak dari tempatnya berdiri.


Tampak Bibi dan Winda segera menyelesaikan tugasnya. Dan beranjak meninggalkan ruang makan.


Sedang Andreas menghampiri Alfi yang masih duduk di ruang tamu.


''Sayang , mas mau ambil hp dulu. Tolong nanti kalau mas belum kembali, kamu bukain pintu ya '' ujar Andreas sambil memegang kepala istrinya.


'' Iya Mas, nanti Alfi bukain '' sahut Alfi dengan senyum. Andreas meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke arah kamar. Tak berselang lama , Andreas pergi suara bel berbunyi. Perlahan Alfi berjalan ke arah pintu dan membukanya.


'' Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarokatu '' jawab Alfi yang membukakan pintu.


'' Ya Allah Mbak Alfi !'' seru Riani yang menyadari kakak iparnya telah berdiri tanpa bantuan tongkat.


Mama tampak berkaca-kaca, menatap dari atas ke bawah . Memperhatikan sang menantu yang berdiri dengan senyum manisnya. Mengulurkan tangan menyalami Papa Yusuf, kemudian Mama Nadhira.


'' Masya Allah nak '' ucap Mama kemudian memeluk Alfi dengan erat.


'' Alhamdulillah, Ya Allah terima kasih '' sambung Mama dengan air mata bahagianya meluncur deras dari dua pelupuk mata.

__ADS_1


Riani juga terlihat tersenyum lebar namun tangannya tak henti-henti menghapus air mata yang mengalir tanpa permisi. Bahkan Papa berkaca-kaca melihat menantunya kini sudah bisa berjalan kembali.


Mama Nadhira melepaskan pelukannya, menangkup wajah Alfi dengan tatapan penuh rasa syukur.


'' Subhanallah, akhirnya nak '' ucap Mama.


'' Masuk dulu Ma '' Papa menyela sang istri yang sedang dilanda rasa bahagia tak terkira.


Mereka masuk ke dalam ruang tamu. Mama tampak menggandeng tangan Alfi begitu juga dengan Riani. Bersamaan dengan itu Andreas keluar dari dalam kamar.


'' Pa,Ma sudah sampai ?'' tanya Andreas dengan wajah sumringah. Menghampiri kedua orang tuanya dan menyalami keduanya bergantian.


'' Jadi ini kabar bahagia yang kamu bilang Ndre ?'' tanya Mama yang kini duduk di sofa dengan Alfi berada di sampingnya. Menggenggam tangan, dengan mata yang tak lepas memandang sang menantu.


'' Iya Ma '' sahut Andreas. Suasana ruang tamu tampak haru. Dengan air mata bahagia yang mengalir dari mata ketiga wanita yang ada di sana.


Rasa syukur itu meluap di dalam dada. Segala perjuangan,dan rasa sakit yang harus di rasa oleh Alfi kini terbayar lunas dengan kesembuhan yang Allah berikan padanya. Allah selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk setiap hambanya menyecap hasil dari segala usahanya. Tak ada yang sia-sia. Semua akan ada waktu untuk menikmati setiap jeri payah.


Mereka menikmati makan malam dengan suasana hangat. Beberapa macam sajian di atas meja tersaji dengan rasa yang pas di lidah. Bi Yuni cukup lihai mengolah setiap bahan makanan menjadi santapan yang memanjakan lidah.


Usai makan malam , mereka berkumpul diruang keluarga, dimana ada sebuah televisi besar yang kini menemani mereka.


'' Kalian sudah memberi kabar Ayah dan Ibu ?''tanya Papa yang duduk bersandar di sofa.


'' Belum Pa, rencananya Minggu depan Andreas mau ke sana memberi kabar secara langsung sekalian pingin syukuran di sana. Alfi pasti sudah kangen sama rumah bacanya dan orang-orang di sana '' tutur Andreas , membuat sang istri yang duduk diantara ibu mertua dan adik iparnya menoleh pada Andreas dengan tatapan terharu . Sungguh peka suaminya itu.

__ADS_1


Membuat bunga-bunga di hatinya seakan bermekaran. Menguarkan aroma wangi cinta yang semerbak dalam dada.


__ADS_2