Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Menjemput Takdir


__ADS_3

Sepi, kala malam kian larut. Beratap langit pekat berhias taburan bintang yang berkelip. Senandung binatang malam mengisi sunyi mengantar syahdu yang membuai kalbu.


Dalam hening malam, bersimpuh di hadapan sang Ilahi melangit kan doa dalam sepertiga malam . Mengadu pada Sang Pemilik Hati untuk menuntun jiwa agar tak tersesat pada nafsu yang fana. Jika rasa yang tercipta adalah anugerah, biarkan setiap ayat cinta yang mengalun indah di dada. Menjadi penuntun untuk menemukan ke ridho an dari Yang Maha Esa.


Tersekat dinding sebagai penghalang,namun lantunan doa yang di panjatkan nyatanya sama. Mengadu tentang hati yang merindu. Namun harus terbelenggu, terhempas oleh kenyataan yang menyesakkan.


Andreas bersimpuh memohon kemantapan hati pada Sang Ilahi. Meski ia sadar harus ada yang terluka. Tapi ia menyadari bahwa hati yang menentukan kemana ia akan berlabuh. Ia pasrakan segalanya pada Yang Kuasa, tentang takdir yang tak mungkin ia hindari.


Di sebelah kamar yang lain, Alfiani menengadahkan tangan . Meloloskan tangis,merasa rendah karena hatinya yang di kalahkan rasa cinta. Ketika ikhlas yang ia harapkan namun ternyata rasa itu semakin subur tumbuh menjalar dalam kalbu. Dan kini ia hanya bisa berpasrah tentang jalan cintanya yang telah tersurat dari Sang Maha Pengasih.


Dua doa yang tertaut pada dua hati yang sama-sama memendam rasa bernama cinta. Namun tak mungkin mengungkap lewat kata. Hanya pada Alloh lah akhirnya mereka berpasrah. Tentang hati yang merintih perih saat menyadari cinta itu terlalu jauh untuk tersentuh.


Sujud panjang, sebagai akhir dari segala pengaduan,dari dua hati yang menyuarakan tentang satu rasa yang sama. Dan tertuju pada penentu takdir kisah mereka. Hingga dua jiwa itu kembali terlelap. Dalam tidur indah berhias mimpi yang seakan menjawab setiap tanya yang tak terucap.


Dalam mimpi Alfiani, seolah melihat seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Sejenak lelaki itu menoleh,hanya seulas senyum yang terlihat jelas. Dan senyum itu membuat Alfiani tercekat. Lelaki itu, lelaki pemilik senyum menawan yang telah memperangkap hati hingga terlalu sulit untuk berpaling.


Sedang di sisi lain, Andreas memimpikan dirinya dengan dua wanita. Namun satu dari wanita itu menjauh dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Hingga saat cahaya seakan menelannya, tampak jelas siapa pemilik senyum itu. Dan di sisinya sebuah tangan menggenggam jari jemarinya, tatapan mereka terpaut hingga menggetarkan dada. Bahkan dalam mimpi pun debar itu nyata terasa.


Semesta telah menjawab setiap lantunan doa yang mengudara. Tapi nyatanya gamang itu masih menyapa. Saat Andreas membuka mata dari tidur lelapnya. Kini ia terpaku menatap langit-langit kamar. Bagaimana ia harus menyampaikan tentang rasa yang ia jadikan pilihan.

__ADS_1


" Ya Allah, permudahkan hamba menjemput takdir Mu " lirihnya dengan segala resah yang menggelayut di hati. Saat keyakinan itu datang,bahwa rasa yang ada adalah takdir yang tak terelakkan. Namun kenyataannya ada hati yang harus ia patahkan. Ah, Kenapa harus terjebak dalam hubungan rumit ini ?. bisik lirih Andreas dalam hatinya.


✨✨✨


Menyeret koper dengan langkah tergesah. Rasa panik tergambar jelas di wajahnya. Berkali-kali Diandra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dan nyatanya membuat dirinya semakin bertambah panik saja. Langkahnya semakin cepat keluar dari lobby apartemen.


Kini tampak ia berdiri gelisah seraya melihat ponselnya. Taksi online yang di pesannya belum juga datang. Sementara ia harus sudah berada di bandara sejam lagi.


" Di " suara lelaki di belakang Diandra membuatnya menoleh. Kenny berdiri di sana menatap Diandra uang membawa koper.


" Mau kemana ?" tanya Kenny penasaran.


" Oh iya,aku belum bilang ke kamu. Aku sewa unit apartemen di sini. Terus kamu mau kemana ?" Kenny mengulang pertanyaannya.


" Mau ke bandara, agensi yang make jasa aku buat make up in model mereka tiba-tiba ngasih kabar bakal ambil pemotretan di luar kota " terang Diandra.


" Terus, kamu lagi nunggu siapa ?" lanjut Kenny .


" Taksi online,aku udah order tapi belum nyampe ". sahut Diandra dengan wajah cemas.

__ADS_1


Tanpa permisi Kenny mengambil koper dari tangan Diandra.


" Taksi kamu cancel aja,aku anterin " tegas Kenny seraya melangkah menyeret koper milik Diandra.


" Tapi Ken..." Diandra hendak protes,namun Kenny menatapnya tajam sembari berkata " Gak usah tapi-tapian, cepet gak mau terlambat kan ?". Diandra mengangguk patuh. Ia segera meng cancel taksi dan mengikuti langkah Kenny. Menuju basemen tempat Kenny memarkirkan mobilnya.


Dengan kecepatan lumayan tinggi. Kenny menembus jalanan yang kebetulan hari itu tak terlalu padat. Sepanjang perjalanan hanya di isi dalam diam . Pikiran mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Sampai di Bandara, Diandra bergegas turun. Kenny ikut turun dari mobil untuk mengeluarkan koper milik Diandra.


" Thanks banget ya Ken " ucap Diandra tulus.


" It's oke,maaf aku cuma nganter sampai sini" sambung Kenny dengan senyum tulus.


" Gak apa-apa, sekali lagi makasih ya " lanjut Diandra yang langsung bergegas masuk sambil menyeret koper. Meninggalkan Kenny yang masih terpaku melihat punggung Diandra yang akhirnya menghilang dari penglihatan.


Diandra berjalan tergesa-gesa, mencari keberadaan rombongan yang hendak pergi bersamanya. Sampai di dalam ia di sambut oleh seorang lelaki yang dari agensi sebagai penanggung jawab. Ia memberikan tiket dan memberi tahu hendak pergi kemana.


Diandra sedikit terkejut, pasalnya tempat yang hendak mereka tuju adalah tempat dimana sang kekasih kini sedang berada. Tampak Diandra menghirup nafas dalam. Menenangkan perasaan dirinya yang kini berkecamuk. Bismillah,ia memantapkan hati untuk menjemput takdirnya.

__ADS_1


__ADS_2