Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Rindu


__ADS_3

Waktu seakan melambat,dua anak manusia yang telah terpisah lebih dari satu tahun. Kini bertemu tatap lewat panggilan video. Mata yang saling mengunci lewat tatapan, menyiratkan rindu yang terpendam. Rindu yang tak mampu terucap dengan sebait kata. Rindu yang tak mampu tertulis dengan aksara.


Fariz menyadari apa yang terjadi pada dua anak manusia itu. Perlahan di ambilnya Faiq kecil dari tangan Andreas. Membuat lelaki itu tersadar dari tersadar dari kungkungan rasa yang membelenggu.


'' Maaf Mas,Faiq nya mau mandi dulu. Dek ngobrol sana Mas Andreas dulu ya !'' ucap Fariz sambil melongok ke layar ponsel. Alfiani hanya mampu mengangguk.


Alfiani terlalu terkejut tiba-tiba melihat sosok yang selalu terselip dalam doanya. Sosok yang selalu memenuhi seluruh ruang jiwanya. Sisik yang ingin ia lupakan dalam balutan kata ikhlas yang terasa menyakitkan.


" Apa kabar Dek ?'' tanya Andreas saat Fariz telah menjauh membawa buah hatinya masuk ke dalam rumah.


'' Baik mas, Mas sendiri apa kabar ?'' ucap Alfiani dengan tatapan yang kini tak lagi terpaku pada lelaki yang masih menatap penuh damba pada gadis manis yang tak berubah di matanya.


'' Mas baik,maaf mas baru tahu apa yang menimpa kamu '' ujar Andreas, tanpa melepaskan tatapan dari sosok yang begitu ia rindukan.


" Iya mas,gak apa-apa. Doakan saja supaya Alfi bisa kembali seperti semula '' ujar Alfiani. Andreas mengangguk kemudian berucap " Pasti '' singkat Andreas penuh keyakinan.


'' Mbak Diandra apa kabar mas ?'' tanya Alfiani yang tak tahu kabar hubungan mereka. Andreas menggelengkan kepala. " Gak tahu sudah setahun lebih ,aku bekum ketemu Diandra " sahut Andreas membuat Alfi mengernyitkan dahi.


'' Lho kok bisa ?'' Andreas tersenyum mendengar Alfi yang tampak kaget dengan jawabannya.


" Aku sudah putus dengan Diandra '' jawab Andreas, membuat Alfiani semakin kaget di buatnya.


'' Kenapa ?''. pertanyaan itu meluncur dari bibir Alfiani yang tak menyangka hubungan Diandra dan Andreas telah kandas.

__ADS_1


'' Ada hal yang membuat kita merasa tidak mungkin melanjutkan hubungan.'' Alfi hanya mengangguk seolah paham. Namun sesungguhnya ia hanya menekan rasa ingin tahu berlebih di hatinya.


'' Gimana terapi kamu ?, lancar ?'' Andreas mengalihkan pembahasan soal hubungannya dengan Diandra.


'' Masih begini-begini aja mas.'' jawab Alfi dengan wajah tertunduk. Ada gemuruh yang tak dapat di tahan hati Andreas saat melihat wajah sendu itu. Hatinya terasa pilu,dapat ia bayangkan betapa sulit menerima sebuah keadaan yang menyakitkan.


'' Tunggu mas akan ke sana. Mas akan temani kamu terapi. Jangan menyerah !'' tutur lembut Andreas. Membuat Alfi tak mampu menahan air matanya. Entah mengapa ucapan yang keluar dari bibir Andreas melambungkan angannya. Namun sesaat kemudian ia dihempaskan kenyataan. Bahwa perhatian itu tak lebih dari perhatian seorang kakak laki-laki terhadap adiknya.


'' Kenapa nangis ?'' sambung Andreas yang melihat air mata mengalir di pipi Alfi.


'' Gak apa-apa,sudah dulu ya mas . Assalamualaikum '' pungkas Alfi tanpa menunggu jawaban gadis itu telah mematikan sambungan video.


'' Wa'alaikumussalam '' jawab Andreas dengan tatapan masih menatap layar ponsel yang telah menggelap. Hatinya terasa teriris mengingat air mata yang mengalir di pipi Alfi. Pasti berat hari yang telah di lalui gadis itu. Ingin sekali ia berbagi beban dengan Alfi. Ia rela menjadi kaki saat sang gadis tak mampu untuk melangkah.


'' Tunggu aku Al, tunggu aku datang . '' lirih Andreas. Ia menghapus sisa air mata yang menggenang di pelupuk mata.


" Mas, yakin mas Andre baik-baik saja ?'' tanya Salwa yang melihat Andreas sesekali menyeka air matanya. Sepasang suami istri itu berada di dapur dan melihat Andreas dari pintu yang terbuka.


''Mas Andreas baik-baik saja , sayang. Yang gak baik itu hatinya. Mas sudah menyadari semenjak dulu. Kalau mas Andreas itu memiliki rasa yang sana dengan Alfi. Mas yakin mengetahui Alfi terluka ia pun ikut terluka .'' jawab Fariz dengan tatapan tak lepas dari sosok yang kini tertunduk dalam.


" Rumit ya mas kisah cinta mereka '' gumam Salwa,Fariz tersenyum kemudian merengkuh tubuh sang istri.


'' Iya,dan mas sangat bersyukur karena kisah cinta mas gak serumit mereka '' ucap Fariz seraya mengecup puncak kepala sang istri. Salwa menengadahkan kepala menatap wajah tampan yang selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman.

__ADS_1


'' Makasih ya mas,sudah jadi rumah untuk Salwa pulang di saat Salwa tidak tahu harus kemana '' ujar wanita cantik itu dengan tulus dan binar mata penuh cinta.


'' Mas yang terima kasih karena kamu sudah menjadi anugerah terindah yang Allah berikan di hidup mas "


Sepasang suami istri itu saling tatap dalam diam. Fariz menyentuh lembut pipi Salwa , perlahan lelaki itu meraih dagu sang istri dan mengecup lembut bibir merah yang menjadi candu untuknya.


Beberapa saat pasangan halal itu terbuai ciuman lembut yang memabukkan. Sampai suara tangis bayi dari dalam kamar menyadarkan sepasang sejoli itu. Keduanya saling tatap, kemudian terbahak bersama.


" Anaknya gak mau di kacangin mas " ucap Salwa seraya berlalu dan masuk ke dalam kamar. Fariz tersenyum menanggapi, kemudian lelaki itu menuju meja makan. Mengambil dua cangkir dan menyeduh kopi dengan cair panas yang telah tersedia dalam termos.


Dengan dua cangkir kopi dan sepiring tahu isi yang tadi di siapkan sang istri. Kini Fariz melangkah mendekati Andreas yang masih duduk terpaku di kursi panjang samping rumah.


'' Kopi mas !" tawar Fariz seraya meletakkan nampan yang di bawanya.


'' Makasih Riz,oh iya hp kamu '' ucap Andreas dengan nada sedikit sumbang meski tak lagi ada sir mata yang mengalir. Fariz menerima hp dari tangan Andreas.


'' Sudah berapa lama Alfi terapi Riz ?'' tanya Andreas sembari mengangkat cangkir berisi kopi yang masih mengepulkan asap.


'' Satu bulan terakhir, karena menunggu penyembuhan luka-luka di tubuhnya terlebih dahulu. Tadinya hanya rawat jalan di sini. Tapi untuk tulang dokter menyarankan untuk melakukan terapi di rumah sakit yang lebih mumpuni. Akhirnya Ayah dan Ibu sepakat untuk membawa Alfi berobat ke rumah sakit yang di rujuk dari dokter. '' terang Fariz, Andreas mangut-mangut mengerti.


'' Riz, aku harus ketemu Ayah,bisa tolong kamu beri tahu alamat nya ?'' ujar Andreas penuh harap. Sebuah anggukan dari Fariz membuat rasa lega menyeruak di hatinya.


Apapun yang terjadi ia harus menyampaikan niatnya. Ia akan memperjuangkan cinta yang selama ini di hindari. Ia tak mampu lagi menahan rasa yang semakin menyiksa diri.

__ADS_1


Rasa sakit yang tercipta karena rindu ,tak mampu lagi ia tahan. Bismillah,ia niatkan untuk memperjuangkan cintanya atas nama Allah. Cinta yang berdasar pada kesucian hingga berakhir dengan kebaikan. Membawa diri semakin dekat pada sang maha pengasih.


__ADS_2