
Suara derap langkah terdengar nyaring di sebuah kantor pengiriman. Beberapa karyawan yang bekerja di sana tampak mengalihkan perhatian saat lelaki berwajah tampan dengan postur tubuh tegapnya melewati mereka. Senyum ramah tergambar di wajah lelaki itu. Ucapan salam meluncur mulus dari bibir lelaki yang mampu menghipnotis setiap mata yang memandang.
" Assalamualaikum pak Mawardi !" sapa Andreas setelah mengetuk pintu ruangan lelaki paruh baya itu. Dan di buka oleh Pak Mawardi.
" Wa'alaikumussalam ,pak Andreas. Masuk pak " sambut Pak Mawardi, selaku yang bertanggung jawab dengan perusahaan cabang di kota ini.
" Silahkan, silahkan duduk. Saya senang sekali, mendapat kabar ternyata bapak selamat dalam kecelakaan itu ". ujar Oak Mawardi yang ikut duduk di hadapan atasannya.
" Alhamdulillah Pak, Alloh masih memberikan saya kesempatan untuk hidup. Semoga di kesempatan kedua ini saya bisa jadi manusia lebih baik " tutur Andreas dengan senyum tulus
" Amin, semoga segala keberkahan selalu bersama Bapak. Maaf sekali ini Pak, Bapak datang mendadak jadi tidak ada persiapan khusus ''. ungkap Pak Mawardi yang baru setengah jam yang lalu di hubungi bahwa pemilik perusahaan itu akan datang.
'' Tidak perlu repot-repot Pak, saya hanya mampir. Karena kemungkinan besok saya sudah pulang.'' tampak Pak Mawardi mengangguk-anggukan kepalanya.
'' Bagaimana keadaan bapak sekarang ?'' lanjut Pak Mawardi menatap lelaki gagah berbalut jas menutupi tubuh tegapnya.
" Alhamdulillah saya sudah sehat, Karena atas ijin Allah saya di pertemukan keluarga baik yang merawat saya dengan sangat baik.'' jawab Andreas dengan ingatan membawanya pada sebuah keluarga hangat yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Bahkan membiayai pengobatan dirinya tanpa berpikir untung rugi. Saat kemarin keluarganya mendatangi keluarga Ayah Farhan dan berniat mengganti biaya pengobatannya. Ayah menolak dengan halus.
'' Saya sudah menganggap Andreas ini anak saya. Bagaimana mungkin seorang ayah memperhitungkan biaya untuk merawat anaknya ?. Cukup tetap jadi anak saya doakan keselamatan ayah dan ibu dunia dan akhirat,itu saja. Karena doa anak sholih dan sholihah yang akan mengantarkan kita pada Jannah nya Alloh ". terngiang ucapan ayah , membuatnya menyelipkan janji di hatinya. Akan menjadi anak yang lebih baik.
" Maaf permisi Pak " suara seseorang yang berdiri di ambang pintu setelah sebelumnya mengetuknya. Nampan berisi dua gelas minuman serta sepiring kue di bawa seorang pemuda yang bekerja sebagai OB.
" Masuk Ki !'' titah Psk Mawardi pada pemuda bernama Rizki. Rizki masuk dan meletakkan gelas serta piring di meja.
__ADS_1
" Monggo Pak " ucap Rizki mempersilahkan dua atasannya.
" Iya, makasih ya mas " ucap Andreas ramah .
" Sama-sama pak " sahut Rizki yang kemudian undur diri, pamit dari ruangan Pak Mawardi.
" Silahkan Pak Andreas di minum " Pak Nawardi mempersilahkan setelah mereka tinggal berdua.
" Terima kasih Pak " jawab Andreas yang kemudian mengangkat gelasnya dan meminumnya.
Di sela-sela mereka menikmati teh hangat dan kue , keduanya membicarakan perkembangan perusahaan yang di percayakan pada Pak Mawardi ini. Kemajuan yang cukup pesat, menjadikan omset yang menjanjikan.
'' Maaf Pak bisa saya ketemu dengan bagian keuangan ?" tanya Andreas di sela obrolannya yang sedang membahas tentang omset beberapa bulan terakhir.
'' Tentu, sebentar saya panggilkan " sahut Pak Mawardi yang kemudian beranjak dan meraih gagang telepon untuk menghubungi staf bagian keuangan.
" Saya tunggu Riz, Assalamualaikum '' pungkas Pak Mawardi memutus sambungan telepon.
'' Sebentar lagi ke sini orangnya Pak '' terang Pak Mawardi seraya kembali duduk di hadapan Andreas. Andreas tampak mengangguk dengan senyum terukir di bibir lelaki itu.
Tak berselang lama,pintu di ketuk di sertai salam terdengar dari balik pintu. Pak Mawardi dan Andreas menyahut salam mempersilahkan masuk . Muncul wajah tak asing yang membuat Andreas membelalakkan mata.
'' Fariz '' seru Andreas saat melihat sosok yang teramat di kenalnya.
'' Lho Mas Andreas ngapain kesini ?. Kok gak ngabarin ?, rencananya sepulang kerja aku mau nyamperin Mas lho. Kata Ayah besok kembali ke kota ?'' cerca Fariz yang kini masih berdiri di dekat kursi. Pak Mawardi tampak mengernyit melihat betapa santai stafnya pada sang pemilik perusahaan.
__ADS_1
'' Duduk dulu Riz '' titah Andreas menepuk tempat di sebelahnya.
'' Pak Andreas kenal dengan Fariz ?'' tanya Pak Mawardi yang bingung dengan kedekatan dua orang itu.
'' Dia adik saya Pak " ujar Andreas sambil menepuk pundak Fariz. Pak Mawardi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
" Bagaimana bisa ?'' bengong Pak Mawardi membuat Andreas tertawa kecil.
'' Bukan adik kandung Pak,Pak Mawardi kenal juga dengan Mas Andreas ?'' tanya Fariz , karena melihat raut keterkejutan di wajah atasannya.
" Beliau pemilik perusahaan ini Riz '' terang Pak Mawardi, yang membuat Fariz tercengang.
'' Hah ?'' kaget Fariz yang kini benar-benar membuat Andreas tergelak karena wajah bodoh yang di tampilkan adik angkatnya.
" Kondisikan mukamu Riz '' ucap Fariz di sela gelak tawanya. Wajah Fariz benar-benar lucu di matanya.
" Serius Mas ?" tanya Fariz meyakinkan, Andreas hanya mengangguk dengan sisa tawa di bibirnya.
" Jadi selama ini aku nyembunyiin CEO, Astaghfirullah " seru Fariz shock. Andreas hanya bisa tertawa melihat mimik wajah Fariz .
" Jadi Fariz Pak ,yang mengurus keuangan di sini ?" tanya Andreas setelah keadaan terkendali. Tak lagi ada kebingungan dan kekagetan setelah penjelasan Andreas pada Pak Mawardi yang tak paham, bagaimana bisa Fariz mengenal dekat Andreas.
" Iya Pak,Fariz yang mengurus keuangan ". terang Pak Mawardi.
Ketiganya kini membahas soal keuangan perusahaan. Andreas ingin keuntungan yang di dapat dari perusahaan tersebut. Sebagian di sisihkan untuk membantu sesama.
__ADS_1
Hidup beberapa bulan dengan keluarga Ayah Farhan membuat Andreas menyadari , dirinya masih terlalu memikirkan dunia. Banyak yang harus ia benahi. Sedikit demi sedikit ia ingin menjadi orang yang lebih baik.