Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Langkah Baru


__ADS_3

Alfi menghela nafas dalam, menenangkan perasaannya yang campur aduk. Meninggalkan keluarga yang selama ini selalu bersamanya. Memberikan perlindungan dan limpahan cinta . Namun kini ia meninggalkan mereka untuk mengikuti sang suami.


Memulai sebuah hubungan baru bersama lelaki yang ia harapkan menjadi imam dunia akhirat. Kini sepasang suami istri itu telah berada di dalam pesawat. Melihat resah yang tergambar di wajah cantik sang istri, Andreas meraih tangan Alfi dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.


'' Ada apa ?'' tanya Andreas sambil mengusap punggung tangan Alfi.


'' Gak apa-apa, cuma karena belum pernah ninggalin rumah aja ''. sahut Alfi seraya tersenyum tipis menatap wajah tampan sang suami. Andreas tersenyum dan meraih kepala istrinya untuk di bawanya bersandar di dada bidang miliknya.


Ia tahu ini tak mudah untuk istrinya. Berpisah jauh dari keluarga, pasti menjadi beban berat untuknya. Di kecupnya puncak kepala sang istri dengan sayang.


''Nanti kita bakal sering jenguk Ayah sama Ibu '' Ucap Andreas penuh pengertian. Alfi menengadah menatap wajah sang suami yang tersenyum mendamaikan hati.


'' Makasih ya Mas '' tutur Alfi , Andreas mengangguk seraya membelai kepala istrinya dengan lembut.


Perjalanan udara yang tidak terlalu memakan banyak waktu. Membuat sepasang suami istri itu kini telah keluar dari bandara. Di sana mereka telah di sambut Mama Nadhira dan seorang gadis berkerudung yang tersenyum cantik menyambut mereka berdua. Dialah Andriani, remaja yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang tampak mempesona.


'' Assalamualaikum Ma '' ucap Alfi yang di dorong oleh Andreas. Tersenyum pada dua wanita wanita yang menyambutnya.


'' Wa'alaikumussalam nak , selamat datang sayang.'' sambut Mama antusias. Mama memeluk menantunya dan menyematkan sebuah kecupan sayang di kening sang menantu.


'' Maaf ya mbak, kemarin Riani gak bisa ikut pas akad, sedang ada kegiatan kampus soalnya '' ucap Andriani yang kini juga memeluk kakak iparnya.


'' Gak apa-apa dek , gimana kabarnya ?'' tanya Alfi.


'' Alhamdulillah mbak, Riani baik.''

__ADS_1


'' Alhamdulillah '' sambung Alfi.


'' Ngobrolnya sambung di apartemen aja dek, mbak kamu sudah capek , kasihan '' ucap Andreas lembut setelah menyapa sang Mama.


" Lho mau langsung ke apartemen Ndre ?'' tanya Mama dengan tatapan tertuju pada sang putra.


" Iya Ma,ada yang mesti aku kerjain dan berkas-berkas semua di apartemen " jawab Andreas.


" Kan bisa kamu aja yang ke apartemen. Biar Alfi kerumah dulu " ujar Ibu.


''Sendiri gitu aku di apartemen ?. Gak, enak aja " protes Andreas yang langsung mendapat cibiran dari adiknya.


" Halah bucin " cibir Riani yang kemudian mengambil alih kursi roda dari tangan kakaknya dan mendorongnya menuju mobil. Alfi hanya tersenyum saja melihat interaksi kakak beradik itu.


" Mbak tahu gak, setahun kebelakang kemarin Mas Andreas tuh udah kayak orang hidup segan,mati tak mau " ucap Riani. Yang langsung mendapat tarikan di ujung jilbabnya. Pelakunya tak kain adalah sang kakak.


" Karena Mas Andre takut perasaannya ke Mbak Alfi itu fatamorgana, terlihat tapi tak nyata " jawab Riani yang langsung mendapat pelototan dari Andreas. Riani berlari ke arah mobil untuk membuka pintu dengan tawanya.


Sementara Andreas, mendekati sang istri dan bersiap menggendong Alfi untuk di bawa masuk ke dalam mobil.


" Jangan di dengerin si Riani,dia mah asal kalo ngomong. Dari dulu juga aku gak ragu sama perasaan ku ke kamu " ucap Andreas seraya menunduk di depan istrinya. Alfi tersenyum mendapati wajah khawatir sang suami.


" Iya aku percaya " sahut Alfi membuat Andreas tersenyum lega. Mama Nadhira tampak lega melihat kebahagiaan yang terpancar dari bola mata putranya. Di balik jendela mobil Riani tersenyum senang, melihat kakak tercintanya telah menemukan kebahagiaannya.


Andreas membantu sang istri masuk ke dalam mobil. Di sore menjelang malam itu, untuk pertama kalinya Alfi datang ke ibu kota. Membawa sebuah status baru sebagai nyonya Andreas Wiratama. Menyiapkan mental untuk memulai sebuah hubungan baru. Sebuah keluarga kecil yang berlandaskan cinta dan kasih sayang serta niat untuk menyempurnakan agama. Ibadah panjang yang ia niatkan untuk memperbaiki ibadah. Bismillah, semoga Alloh selalu senantiasa memberkahi setiap jalan hidupnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, mereka berbincang santai. Banyak yang mereka bicarakan. Kehadiran Alfi tidak seperti anggota baru. Kehadirannya sudah seperti keluarga inti yang lama tak berjumpa.


" Jadi ,buat perawat sama asisten yang Andre minta gimana Ma ?" tanya Andreas di sela perbincangan mereka.


" Udah mama cari kan, besok mereka dateng langsung ke apartemen kamu. Nanti kalau mereka belum datang dan kamu mesti ke kantor. Alfi biar di temani Riani dulu." sahut Mama yang di angguki Andreas.


" Besok gak ada kelas dek ?" tanya Andreas ditujukan pada adiknya.


" Gak, tenang aja mas, siap jadi bodyguard nya mbak Alfi." jawab Riani santai.


Perjalanan berlanjut, sore menjelang malam itu, jalanan masih cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan. Akhirnya mereka memilih untuk singgah sebentar di sebuah restoran.


" Sayang mau makan apa ?" tanya Andreas pada kekasih hatinya. Sesaat setelah mereka masuk ke dalam restoran. Dan seorang waiters menghampiri mereka dengan buku menu di tangannya.


" Ikut mas Andre aja " sahut Alfi. Andreas memesan beberapa makanan untuk dirinya dan sang istri.


Riani pun turut memesan makanan sesuai selera dirinya, begitu juga dengan Mama. Setelah makanan di siapkan pramusaji mereka makan di selingi obrolan ringan. Andreas selalu memperhatikan sang istri. Melayani penuh cinta, menyiapkan segala yang di butuhkan Alfi, bahkan ia memotongkan daging yang hendak di santap istrinya.


" Aduh Mas, jangan bikin yang jomblo berasa ngenes deh " celetuk Riani yang melihat betapa manisnya perhatian sang kakak pada istrinya.


" Beresin dulu kuliah, jangan macem-macem. Gak ada pacar-pacaran " ucap Andreas yang di balas cebikkan bibir oleh Riani.


" Siap mas siap,aku juga gak ada rencana pacaran. Mau kayak Mas Andre sama Alfi aja langsung nikah, pacarannya kalau udah halal " sambung Alfi di sela menikmati makanan yang telah di pesannya.


" Pinter " ucap Andreas, mereka melanjutkan makan malam yang sedikit lebih cepat.

__ADS_1


Usai makan dan melaksanakan sholat Maghrib di area restoran. Mereka melanjutkan perjalanan. Sampai mobil berhenti di bangunan yang menjulang tinggi. Ada dua tower bangunan yang berdiri bersisian. Tampak begitu mewah dan megah.


Insecure, perasaan itu merayap di hati Alfiani. Ia yang terlahir di desa,di besarkan di sana. Dan kini di hadapannya sebuah bangunan modern yang terlihat sangat berkelas. Dengan perasaan cemas yang menghampiri,Alfi memilih diam, duduk tenang di kursi roda yang di dorong sang suami. Bismillah,atas ijin Allah. Ia meyakinkan diri bahwa inilah jalannya, inilah takdirnya. Di pertemukan dengan jodoh yang memiliki kelebihan dalam hal finansial. Semoga ia bisa menjadi hamba yang amanah atas titipan yang Allah percayakan.


__ADS_2