Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Al Aku Datang


__ADS_3

Matahari mulai merangkak di atas peraduannya. Sinar terik terasa menyengat kulit. Namun tak menyurutkan langkah dua lelaki dewasa itu menyusuri jalan setapak di pertengahan kampung.


" Mau kemana Mas Fariz,kok jalan kaki ?" tanya seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya di halaman rumah.


" Mau ke rumah baca bu,pingin jalan aja bu ini nemenin orang kota katanya pingin jalan-jalan '' sahut Fariz dengan senyum ramahnya. Andreas hanya mengangguk memberi hormat pada wanita yang kini menatap Andreas dengan tatapan menelisik.


'' Oh ini mas yang dulu tinggal di rumah mas Fariz ya ?'' tanya sang ibu setelah memastikan wajah ramah yang tersenyum padanya.


" Iya bu, lama ini gak berkunjung. Jadi pingin jalan-jalan . Mari bu !"


" Mari mas "


Andreas dan Fariz meneruskan langkah. Menyusuri jalanan melewati perkebunan yang di tanami pepaya, sayuran dan juga cabai. Suasana yang dirindukan oleh Andreas selama menepi dari desa ini.


" Rasanya benar-benar pulang " gumam Andreas yang masih terdengar jelas oleh Fariz.


" Rasanya nafas tuh bener-bener plong kalau di desa. Di kota tuh nafas aja rasanya sesak. Terlalu banyak polusi, kendaraan sampai menumpuk di jalan. Asap pabrik sampai menghitam " keluh Andreas sembari terus melangkah .


" Tapi di kota lebih mudah mengumpulkan pundi-pundi rupiah, lain dengan di desa. Hasil pertanian tidak jelas harganya. Saat panen banyak ,harga akan anjlok, sedang kalau panen gagal barulah harga meroket ". tutur Fariz, kedua lelaki itu berjalan menaiki undakan tangga untuk sampai di rumah baca yang terletak di tanah yang sedikit berbukit.


" Ya, setiap tempat akan ada kurang lebihnya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya " sambung Andreas,kini mereka telah sampai pada tanah lapang yang luas. dengan bangunan yang masih sama seperti setahun yang lalu saat Andreas berkunjung.


" Benar yang penting bersyukur dan bisa memberi manfaat di sekitar kita tinggal. " jawab Fariz .


" Seperti keluarga kalian yang selalu menginspirasi ku untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat " timpal Andreas, lelaki itu tersenyum mendapati banyak anak kecil yang sedang bermain bersama. Ternyata halaman luas rumah baca itu sudah di sulap menjadi taman bermain.


Banyak permainan anak di sana. Dari ayunan, perosotan dan berbagai permainan sederhana lainnya. Dan tempat itu pun nampak lebih asri dengan taman bunga yang terdapat di sana. Pohon mangga, rambutan serta jambu air.

__ADS_1


" Luar biasa " gumam Andreas dengan tatapan takjub.


" Ya, Alfi selalu punya ide luar biasa. Untuk mengundang minat anak-anak agar datang ke sini, dia membuat tempat bermain. Awalnya mengajak anak-anak bermain kemudian dia akan mengenalkan pada dongeng. Dia selalu punya cara untuk mengenalkan buku pada anak-anak di sini." ucap Fariz dengan tatapan menerawang,ia selalu bangga dengan adik semata wayangnya itu.


Mereka mengitari area bermain, menyapa beberapa anak usia dini yang belum masuk sekolah, yang sedang bermain di sana bersama sang ibu.


Kemudian dua lelaki itu masuk ke dalam rumah baca yang belum ada penghuninya di saat jam sekolah. Andreas mengitari tempat itu. Bukunya sudah lumayan lengkap, dari buku-buku pelajaran, novel, dongeng, buku tentang pertanian dan berbagai buku yang lain.


" Selama Alfi sakit siapa yang menjaga Riz ?" tanya Andreas seraya melihat- lihat buku di rak.


" Sebelum Salwa lahiran dia yang jaga, kalau sekarang Nurul yang menjaga setelah dia pulang sekolah." Andreas mangut-mangut menanggapi.


Mereka berada di sana tidak terlalu lama. Karena siang itu Andreas memutuskan untuk menyusul Alfi. Sepulang dari rumah baca mereka makan siang bersama.


'' Jadi Mas nanti mau naik kereta ?'' tanya Fariz setelah mereka duduk santai diruang tengah setelah usai makan siang.


Siang itu setelah melaksanakan empat rakaat wajib. Andreas dengan di bonceng Fariz berkendara menuju stasiun. Siang yang terik tak mengubah niat Andreas untuk menyusul wanita pujaannya. Ia tak bisa lagi memendam segala rasa yang membelit hatinya.


" Mas sudah sampai '' ucap Fariz setelah sampai di stasiun kereta api. Perjalanan yang hanya memakan.waktu kurang lebih tiga puluh menit itu terasa cukup singkat.


" Makasih ya Riz " ucap Andreas seraya menepuk pundak lelaki yang makin gagah itu .


'' Sama-sama Mas, hati-hati di jalan aku langsung pulang mas, kasihan Salwa sendirian '' ucap Fariz yang di angguki oleh Andreas. Fariz menghidupkan mesin motor kemudian melaju meninggalkan Andreas yang masih berdiri di sana. Setelah Fariz tak lagi terlihat Andreas menyeret kopernya masuk area tunggu di stasiun. Sepertinya kereta yang hendak ia tumpangi belum sampai.


Beberapa saat kemudian kereta datang, setelah melakukan prosedur yang seharusnya Andreas masuk ke dalam gerbong kereta. Menghirup nafas panjang meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.


Langkahnya mencari sebuah kursi sesuai nomer yang tertera di karcis yang telah di belinya secara online. Seorang lelaki muda sepertinya akan menjadi teman di perjalanan. Setelah berbasa-basi sekedarnya Andreas lebih memilih menatap ke luar jendela.

__ADS_1


Menikmati pemandangan yang di lewati kereta yang ditumpanginya. Duduk melamun seraya menopang dagu. Bayangan pertemuan dengan Alfi membuat detak jantung berdebar kencang. Wajah cantik yang tak pernah luntur dalam bayangan' seperti menari-nari di pelupuk mata. Senyum lembut yang menentramkan jiwa itu sangat ia rindukan.


Bayangan tentang Alfi yang terus menghantuinya membawa Andreas tertidur lelap. Tak terasa mereka sampai di stasiun tujuan. Jangan tanyakan jantungnya yang kini semakin melonjak-lonjak karena pertemuan yang semakin dekat.


Andreas menaiki sebuah taksi setelah sebelumnya menunjukkan alamat yang tertera pada selembar kertas yang tadi di tuliskan oleh Fariz. Di sepanjang jalan Andreas berkali-kali menghela nafas. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang mendadak nervous.


Gemuruh di dada semakin membuncah. Rasa bahagia akan bertemu gadis cantik itu membuat irama dalam debaran jantungku. Namun di sisi lain hatinya ada rasa khawatir tersirat. Bagaimana jika Ayah tak mengabulkan keinginannya untuk meminang sang putri ?. Ah, sungguh rasanya hatinya semakin terasa sesak. Tanpa ia sadari membuatnya duduk dengan gelisah.


Setelah perjalanan sekitar 45 menit dari stasiun akhirnya Andreas sampai di sebuah rumah sederhana dengan alamat yang sama seperti yang tertera dalam kertas.


'' Katanya, benar ini rumahnya Mas" ucap Sang sopir yang baru saja memastikan kebenaran alamat pada tetangga yang tak jauh dari sana.


" Terima kasih ya Pak '' ucap Andreas seraya merogoh clutch bag dan mengambil beberapa lembar uang merah dari dalam sana,dan memberikan pada sang sopir.


'' Lho ini kebanyakan mas '' ucap bapak-bapak itu. Andreas tersenyum tipis.


'' Anggap saja itu rejeki anak bapak '' tutur Andreas.


'' Terima kasih ya Allah, semoga tujuan mas berjalan lancar '' ucap Pak sopir.


'' Amiiin Pak, doakan saya '' ucap Andreas yang di angguki pak sopir dengan semangat.


'' Pasti mas''


Andreas menghirup nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Mencoba menenangkan hatinya yang seakan siap meloncat dari tempatnya. Rasanya terlalu mendebarkan.


" Al aku datang '' bisiknya seraya melangkah pelan memasuki teras rumah yang tampak sudah tua. Matanya mengedarkan sekeliling, sampai matanya menemukan sosok yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2