
Riuh rendah suara terdengar dari bangunan mewah yang kini sedang kedatangan banyak tamu. Kediaman kedua orang tua Andreas kini telah ramai dengan para undangan yang telah hadir. Para kerabat mereka, tetangga kanan kiri serta anak panti asuhan yang sengaja di undang.
Acara tasyakuran itu berjalan dengan hikmat . Lantunan doa-doa mengudara. Membumbung tinggi semoga tersampaikan pada sang Ilahi. Kehidupan rumah tangga mereka baru saja di mulai. Sakinah mawadah warahmah, semoga menjadi tujuan rumah tangga mereka.
Beberapa acara telah terlewati. Hingga saat pengenalan sang menantu. Membuat para tamu tatapannya tertuju pada Alfi yang berdiri dengan dua tongkat yang menyangga tubuhnya.
Tatapan mereka seketika berubah. Ada yang menatap iba,ada juga yang menatap merendahkan ada pula yang menatap heran. Tapi terlepas dari tatapan itu semua ada satu tatapan yang selalu membuatnya bahagia. Tatapan penuh cinta dari seorang Andreas Wiratama.
'' Assalamualaikum warrahmatullohi wabarokatu, perkenalkan semuanya saya Alfiani Nur Azizah ,'' ucap Alfi dengan senyum ramahnya. Meski ia tak bisa memungkiri hati yang merasa kecil diantara tatapan orang di hadapannya. Andreas menyadari tatapan tidak nyaman sang istri. Ia yang berdiri di samping Alfi kemudian meraih jemari itu untuk saling bertaut. Tersenyum pada sang istri seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
'' Assalamualaikum semua,di sebelah saya. Wanita luar biasa yang bersedia menjadi pendamping hidup saya. Dia adalah Alfiani Nur Azizah, wanita yang Allah berikan pada saya sebagai jodoh yang saya harapkan dari dunia hingga akhirat kelak. Istri yang saya harapkan menjadi bidadari di dunia dan akhirat nanti. '' Andreas berhenti sejenak, menatap penuh cinta wanita di sampingnya.
Tatapan yang tak luput dari para tamu. Membuat mereka terbawa suasana romantis yang tercipta dari sepasang suami istri yang saling menatap penuh cinta dan damba. Tak ada yang bisa mengingkari bahwa dalam sorot mata itu ada cinta yang mendalam, cinta yang berlandaskan pada ketulusan dan keikhlasan.
Acara perkenalan yang akhirnya di wakilkan pada Andreas telah selesai. Tatap mata yang kurang menyenangkan berganti dengan tatap kagum. Kagum pada sosok Andreas yang bisa mencintai dengan tulus. Tatap iri dari mereka yang hatinya terisi dengan dengki.
Seketika Andreas menjadi sosok sempurna yang diidolakan. Sedang Alfi tak lebih dari sosok beruntung yang tetap saja mendapatkan tatapan mengasihani.
'' Kok bisa-bisanya Mas Andreas yang perfect gitu nikah sama cewek cacat kek gitu ya ?'' suara seseorang yang tak sengaja Alfi dengar setelah dirinya keluar dari toilet.
__ADS_1
'' Gue denger sih, karena keluarga cewek itu yang udah nyelametin Mas Andreas waktu kecelakaan.'' sahut yang lain. Alfi merasakan dadanya yang sesak. Memilih diam bersandar di dinding.
'' Berarti karena balas budi gitu dong. Kasihan Mas Andre,mending kalau cantik. Biasa banget lagi ''. semakin asyik saja dua gadis itu meng ghibah . Alfi memegang dadanya yang terasa nyeri. Air mata tak bisa di bendungannya. Bukan , bukan dia tak menerima keadaan yang kini sedang menimpa nya. Namun dianggap tak pantas bersanding dengan seorang Andreas ternyata menyakitkan.
Entah keraguan datang darimana saat ia mendengar tentang balas budi . Terselip rasa yang menyakitkan menyusup dalam dadanya. Ia hanya wanita biasa dengan hati yang lemah. Merasa diri begitu rendah bersanding dengan Andreas menimbulkan rasa tak percaya diri,yang telah lama ia coba untuk menghilangkannya.
'' Eh kepikiran gak sih, kalau mendingan perawatnya ?'' lagi suara itu sungguh menyudutkan dirinya.
'' Bener,cantik dan kelihatan berkelas .''
'' Dan yang gak berkelas tuh lo berdua,punya mulut di gunain buat nyinyirin orang. Ngerasa hebat lo berdua ?'' suara bentakan Riani muncul di sela-sela obrolan dua gadis yang tak di kenal Alfi.
Alfi meski masih merasakan nyeri di dadanya, mendengar pembelaan dari sang adik ipar cukup meyakinkan hatinya. Bahwa dia memang layak menjadi menantu keluarga itu.
'' Masya Allah,mbak Alfi '' kaget Riani saat melihat Alfi yang berdiri bersandar di dinding dengan air mata yang belum mengering. Alfi tersenyum masam, kemudian berusaha menghapus jejak air matanya.
'' Ya Allah Mbak,mbak denger apa yang mereka bilang ?'' tanya Riani khawatir. Alfi mengangguk pelan. Ia sedikit menengadahkan wajahnya. mencoba menahan air mata yang sudah di ujung sudut matanya.
Riani memeluk sang kakak ipar. Memberikan sebuah ketenangan lewat usapan lembut di punggung Alfi .
__ADS_1
'' Mbak Alfi jangan dengerin omongan mereka. Bagi aku mbak Alfi itu seperti malaikat yang di turunkan dalam bentuk manusia. Dan aku yakin buat Mas Andre Mbak Alfi adalah bidadarinya. '' tutur Riani
masih dengan memeluk kakak iparnya.
Ada rasa lega sekaligus haru mendapatkan perhatian dari adik iparnya itu. Riani melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Alfi.
'' Udah mbak Alfi istirahat aja ya. Perawat mbak kemana sih ?, bisa-bisanya mbak di biarkan pergi sendiri ?'' sungut Alfi yang tidak mendapati keberadaan Winda.
'' Di depan,tadi lagi makan. Makanya mbak pergi sendiri. Udah mbak gak apa-apa '' tutur Alfi menenangkan Riani yang masih tersulut emosi. Riani mengangguk, kemudian berjalan di sebelah Alfi, mengantar kakak iparnya untuk beristirahat saja di kamar.
Karena kamar Andreas berada di lantai atas,Riani mengantar Alfi ke kamar tamu.
'' Mbak di sini dulu,aku keluar sebentar '' pamit Riani yang hanya di angguki oleh Alfi. Alfi tampak termenung duduk di tepi ranjang. Menegang dadanya yang masih menyisakan sesak.
'' Astaghfirullah hal'adzim,Ya Allah hamba tidak pernah menyalahkan takdir dari Mu ya Allah. Semua yang terjadi adalah ketentuan Mu. Berikan hamba keikhlasan dalam menjalankan takdir yang Engkau tetapkan Ya Allah ''. lirih Alfi.
Ia menyadari jika dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa saja berubah keimanannya. Ia harus terus mengingatkan hati jika segala yang terjadi adalah takdir yang telah tertulis di buku takdirnya. Lafadz istighfar terus ia ucapkan dengan lirih. Menenangkan hati yang sedang di uji.
Asma Allah terus terucap dari bibirnya,menenangkan hati yang gelisah. Sesungguhnya dalam kesedihan hanya Allah lah tempat mengadu ternyaman. Dalam kegamangan hanya Allah lah yang bisa memberi kepastian.
__ADS_1
Biarkan mereka dengan ucapan nya,ia hanya butuh ikhlas untuk menerima dan memaafkan. Alfi memejamkan mata dengan bibir yang tak berhenti mengagungkan asma Allah di setiap hela nafasnya. Menyampaikan pada hati bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan,ada Allah yang selalu ada bersama setiap hamba-hamba Nya.