Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Bertemu


__ADS_3

Selesai dengan pekerjaannya, Diandra meyakinkan diri untuk menghampiri Andreas. Langkah perlahan mengantarkan ia semakin dekat dengan lelaki yang kini tertawa bebas bersama keluarga angkatnya. Duduk melingkar di atas pasir beralaskan tikar. Di tengah-tengah mereka tersaji berbagai macam cemilan. Sudut bibir Diandra ikut tertarik melihat tawa yang akhir-akhir ini tak pernah ia lihat di bibir lelaki itu.


Ia semakin sadar,ada yang tak bisa lagi ia paksakan. Hatinya hanya akan semakin terluka jika ia bertahan pada hubungan ini. Ia tak bisa memaksa hati untuk kembali. Mungkin lebih baik ia yang pergi dan mengakhiri. Hatinya mungkin akan terluka melepas cinta yang telah lama di hatinya. Tapi untuk bertahan pun ia tak mungkin mampu,saat ia tahu bahwa ia tak pernah bisa lagi memiliki hati lelaki itu.


" Assalamualaikum " sapa lembut Diandra membuat mereka serempak menoleh asal suara.'' Wa'alaikumussalam" sahut mereka hampir serempak. Senyum yang terkembang di bibir wanita cantik itu sesaat membius mereka.


" Diandra ?, kok kamu di sini ?" pertanyaan yang pertama kali meluncur dari bibir Andreas . Diandra menanggapi dengan sebuah senyum. Kemudian wanita itu menghampiri Ibu dan menyalami wanita paruh baya yang menyambutnya dengan senyum tulus.


'' Nak Dian,apa kabar ?'' tanya Ibu seraya menatap takjub wajah yang kini terbingkai oleh jilbab berwarna merah muda.


'' Alhamdulillah baik ibu,ibu apa kabar ?'' balas Diandra dengan nada hangat .


'' Alhamdulillah ibu baik. Nak Andre kok gak bilang datang sama nak Dian ''. ucap Ibu seraya menatap sekilas pada Andreas yang tampak masih terbengong dengan kehadiran Diandra yang tiba-tiba.


''Saya ada kerjaan di sini bu, datangnya gak bareng sama Andreas '' terang Diandra dengan ramah.


'' Mbak Dian !" sapa Alfiani mendekati wanita yang di matanya kini terlihat lebih cantik dan anggun.


'' Hai Al, apa kabar ?'' sapa Diandra dengan tatapan beralih pada Alfiani. Keduanya saling berjabat tangan dan cipika cipiki dengan akrabnya.


'' Baik Mbak,Ya Allah,Mbak Dian cantik banget '' puji Alfiani dengan tatapan kagum tanpa di buat-buat. Diandra tersenyum tipis menanggapi pujian dari gadis itu. Kini beralih Diandra mengenalkan diri pada Salwa yang belum pernah bertemu langsung sebelumnya.


'' Oh ya Mbak Dian, makasih banget ya kiriman bukunya '' ujar Alfiani setelah perkenalan singkat Diandra dan Salwa.

__ADS_1


'' Sama-sama,semoga manfaat ya Al ''. kini dua gadis itu duduk saling berhadapan, dan berbincang hangat setelah Diandra menanyakan kabar pada Ayah dan Fariz. Obrolan di dominasi oleh Alfiani , Salwa dan Diandra yang membahas soal buku.


'' Sambil nyemil kita mbak '' ucap Salwa yang mengulurkan plastik berisi kripik singkong.


" Makasih Sal,tapi kayaknya aku balik kerja dulu . Udah di cariin ini sama bos " ucap Diandra seraya mengambil ponsel yang bergetar di saku bajunya.


'' Di,kamu kerja di sini sampai kapan ?'' tanya Andreas saat melihat Diandra yang bersiap pergi.


'' Belum tau,oh ya Ndre,bisa nanti malem ketemu ?'' tanya Diandra , tatapan mata keduanya bertemu. Andreas mengangguk pelan, Diandra tersenyum tipis.


'' Nanti aku kabari . Pak,Bu , Diandra pamit dulu. Mau kerja lagi !'' pamit Diandra pada Ayah dan Ibu.


'' Iya nak, hati-hati'' ucap Ibu.


'' Mari semua, aku pamit dulu ya !'' ucap Diandra dengan senyum ceria.


'' Wa'alaikumussalam '' sahut mereka serempak. Andreas menatap Diandra yang semakin menjauh. Dan saat kembali memalingkan wajah,sesaat bola matanya bertemu dengan tatapan Alfiani. Entah rasa apa yang menyeruak di dada. Ada rasa bersalah yang tak ia mengerti sebabnya. Ada rasa cemas yang menggelayut dalam hati, meski ia sendiri tak mengerti apa yang ia cemaskan.


✨✨✨


Diandra kembali ke tempat ia sedang bekerja. Tampak para model sedang mengambil pemotretan. Diandra memilih duduk menyendiri di sudut ruangan. Ia hanya ingin menenangkan diri. Ada rasa gundah yang menyelimuti hatinya.


Rasa cinta itu masih ada,rasa cemburu itu masih nyata. Namun rasa untuk memiliki tak lagi menguasai jiwanya. Saat ia menyadari bahwa tatapan mata itu bukan lagi menyiratkan cinta. Tapi hanya sekedar rasa tak ingin menyakiti.

__ADS_1


'' Hei, ngelamun aja '' suara Riko mengagetkan Diandra yang tak menyadari kedatangan lelaki itu.


'' Ngagetin aja,udah selesai pemotretannya ?'' tanya Diandra dengan tatapan mengarah pada para model yang sibuk mengipasi diri saking teriknya siang itu .


'' Sekarang udah, tinggal nanti sore. Sekarang break dulu. Kamu udah makan ?'' tanya Riko seraya mengangkat kepala mengalihkan pandangan dari lensa kameranya.


'' Belumlah,masa yang lain masih sibuk kerja aku makan duluan ''


'' Cari makan yuk !, ada alergi seafood gak ?'' tanya Riko yang kini benar-benar terfokus pada Diandra di hadapannya.


'' Boleh,gak kok gak ada alergi . Tapi jangan jauh-jauh nyari makannya,ntar kalau di cariin Nelly repot '' jawab Diandra seraya meraih tas selempang miliknya.


" Oke,gak akan jauh " sahut Riko bersemangat. Diandra melangkah lebih dulu diikuti Riko mengekor di belakangnya.


" Nel,aku cari makan dulu sana Riko ya " pamit Diandra pada sang partner kerja.


" Lho gue udah pesen makan , bentar lagi nyampe " cegah Nelly pada Diandra dan Riko.


" Gak apa-apa,kita mau sambil jalan aja mumpung break " sela Riko yang tak mau kehilangan kesempatan untuk jalan dengan Diandra.


" Ya udah kalo gitu, jangan jauh-jauh lho. Nanti kita bakal ganti lokasi. " Nelly memperingatkan dua rekan kerjanya.


" Siap " sahut Riko yang kemudian mengajak Diandra pergi dari sana.

__ADS_1


Keduanya berjalan menyusuri tepi pantai yang menyengat siang itu. Ujung jilbab Diandra yang tertiup angin berkibar. Entah mengapa hal kecil yang terjadi pada wanita itu terasa menarik bagi diri Riko. Sesekali lelaki itu mencuri pandang pada gadis yang memilih diam dalam perjalanan.


Seperti ada cahaya yang membingkai wajah ayu gadis itu. Membuat Riko enggan memalingkan wajah. Wanita di sampingnya adalah sosok yang telah lama ia puja. Wanita cantik dan mandiri. Wanita yang mampu memporak porandakan seluruh isi hatinya. Ia telah cukup lama memendam sebuah rasa yang ia akui sebagai cinta.


__ADS_2