Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Bertemu Mantan


__ADS_3

" Mbak Diandra " ucap Alfi yang langsung berdiri dan mengulurkan tangan pada wanita yang tersenyum kepadanya.


" Apa kabar Mbak ?, Masya Allah lama banget gak ketemu " lanjut Alfi sambil berjabat tangan. Diandra sedikit mencondongkan tubuhnya untuk cipika cipiki dengan Alfi.


" Alhamdulillah baik Al, kamu apa kabar ?, ke sini sama siapa ?" tanya Diandra yang tak melihat ada wajah orang yang di kenal dirinya yang mungkin datang bersama Alfi.


" Alhamdulillah saya juga sehat,saya sama Mas Andre Mbak, beliau sedang mendaftar " tutur Alfi seraya menoleh ke arah Andreas yang sedang mengurus pendaftaran.


Diandra tampak tersenyum kecil,sudah lama semenjak ia memutuskan untuk berpisah dengan Andreas, ia tak pernah bertemu lelaki itu. Ada sakit yang ingin ia sembuhkan , dan ia memilih menepi dari kehidupan yang akan membuatnya sering bertemu sang masa lalu.


Dan setelah sekian lama perpisahan itu, kini ia melihat lelaki yang dulu pernah menjadi pemilik hatinya. Tak ada yang berubah,tetap tampan dan mempesona. Yang telah berubah ada perasaan Diandra, meski masih ada rasa yang yang membuat hatinya berdesir namun tak lagi menimbulkan getaran dalam dada.


" Kalian sudah menikah ?" tanya Diandra to the point, karena rasanya tidak mungkin Alfi pergi berdua dengan seorang lelaki yang tak ada hubungan darah.


" Iya mbak, hampir dua bulan ini " sahut Alfi, Diandra tersenyum lebar dan memeluk Alfi.


" Selamat ya,kok gak ngundang aku sih ?" protes Diandra.


" Maaf Mbak,saya dan Mas Andre nikahnya mendadak. Kita juga belum ada resepsi. " jawab Alfi, Diandra mengangguk paham.


" Sayang " suara lelaki yang di kenal keduanya. Andreas belum menyadari keberadaan sang mantan.

__ADS_1


" Hai Ndre " ucap Diandra, membuat Andreas menatap wanita berkerudung lainnya yang berada di hadapan sang istri.


" Diandra ?" rasanya tak percaya melihat wanita itu di sana. Namun matanya tak salah melihat senyum yang terlihat di bibir wanita yang masih sama seperti terakhir ia melihatnya.


Diandra mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Andreas.


" Apa kabar Ndre ?'' tanya Diandra dengan tatapan tak lepas dari wajah lelaki yang begitu sulit untuk dirinya lupakan. Buruh waktu yang panjang bagi Diandra untuk menepikan kisah mereka berdua.


" Alhamdulillah baik, kamu ?" tanya Andreas balik.


" Alhamdulillah juga baik,ini ada apa, kenapa kalian di sini ?" tanya Diandra setelah melepaskan jabatan tangannya dan menatap bergantian pada sepasang suami istri itu.


" Ini mau periksa Alfi,dari pagi muntah-muntah terus . Kamu sendiri ?" lanjut Andreas yang berdiri di samping sang istri sembari menggenggam tangan Alfi dengan lembut.


" oke " sahut Andreas pendek.


" Duluan ya Al, semoga cepat sembuh. Kalau nanti resepsi jangan lupa undangannya " ujar Diandra sambil menatap Alfi. Wanita itu tampak tersenyum dan mengangguk.


" Iya Mbak, sampai ketemu lagi . Assalamualaikum " ucap Alfi.


" Wa'alaikumussalam " sambut Diandra yang kemudian melangkah pergi tanpa menoleh lagi pada sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Tampak wanita itu menghirup nafas dalam. Ternyata masih ada sisa rasa dalam dadanya. Meski ia telah berusaha semampu yang ia bisa untuk melupakan kisah cintanya yang pupus.


Alfi menoleh ke arah sang suami,entah kenapa rasa tak nyaman hanya karena ia bertemu dengan Diandra. Dan saat Alfi menoleh Andreas sedang menatap Diandra yang melangkah menjauh meninggalkan mereka.


Ada rasa nyeri di hati Alfi hanya karena sang suami masih menatap pada mantannya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Inikah cemburu itu ?. Alfi mendengus sebal seraya melepas genggaman tangan sang suami. Andreas menyadari kesalahannya, langsung menoleh kearah sang istri yang kini membuang muka darinya.


Andreas menelan ludah melihat perubahan wajah Alfi. Padahal ia melihat kepergian Diandra, hanya karena hatinya yang merasa heran dengan Diandra yang seperti menghilang setelah memutuskan melepas dirinya. Namun ia lupa ada wanita yang harus ia jaga hatinya.


" Sayang " panggil Andreas sembari meraih tangan Alfi.


" Langsung ke ruang tunggu aja Mas,aku udah capek " suara Alfi terdengar dingin. Baru kali ini ia mendengar nada bicara Alfi yang seperti itu membuat dirinya ketar-ketir.


" Iya,ayo " ucap Andreas yang langsung meraih pinggang sang istri. Ia bisa merasakan tubuh Alfi yang sedikit kaku, namun tak ada penolakan di sana.


Sepanjang perjalanan menuju ruang tunggu dokter kandungan. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka. Andreas bingung mau memulai dari mana. Sedang Alfi,ia sedang berusaha mengendalikan perasaannya. Entah kenapa ia begitu tak suka hanya karena sang suami menatap Diandra. Ia benar-benar tak mengerti kenapa hatinya begitu mudah kesal.


"Astaghfirullah hal'adzim " lirih Alfi dalam hatinya yang merasa terlalu berlebihan. Alfi menarik nafas dalam, mengingatkan hatinya untuk tidak berlebihan dan tidak berburuk sangka pada suaminya. Alfi tersenyum tipis kemudian berjalan perlahan dengan Andreas yang masih melingkarkan tangan di pinggang.


Sampai di ruang tunggu,ada beberapa pasangan di sana. Ada yang masih belum terlihat perutnya yang membuncit sama seperti dirinya Ada juga yang terlihat telah hamil besar, mungkin tinggal menunggu waktu kelahiran saja.


" Sayang, kamu duduk dulu. Mas beliin minum " ujar Andreas sembari menempatkan Istrinya untuk duduk. Alfi tersenyum kemudian mengangguk. Andreas segera berlalu dari sana untuk membelikan air mineral untuk sang istri.

__ADS_1


Alfi menatap punggung lebar itu yang semakin menjauh. Tersenyum tipis seorang diri. Menyadari betapa mudahnya hati terbuai rasa cemburu yang tidak semestinya. Ia percaya bahwa suaminya adalah lelaki setia. Ya ,dia harus percaya itu.


__ADS_2