
Mobil milik Andreas berhenti di sebuah halaman luas rumah mewah. Tampak kesibukan mulai terlihat di rumah itu. Ada beberapa orang yang tampak berseliweran keluar masuk di sana.
Andreas keluar dari mobil, kemudian membantu sang istri untuk turun.
'' Pelan-pelan sayang '' ucap Andreas saat memapah istrinya . Alfi hanya tersenyum, melihat sang suami yang selalu penuh perhatian.
Dalam diam,Alfi menatap dalam lelaki yang telah memiliki seluruh hatinya. Semakin hari, kebersamaan mereka, semakin menumbuhkan benih cinta di hatinya. Bagaimana tidak ?, seorang lelaki rupawan dengan segala kelebihan yang di milikinya. Selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa. Tak ada alasan untuk tidak selalu jatuh cinta pada lelaki itu .
" Alfi '' seru seseorang saat Alfi sedang memakai dua tongkat . Alfi mendongakkan wajah. Menatap siapa yang begitu girang memanggilnya. Salwa tampak berjalan cepat menghampiri dirinya. Dan langsung memeluk tubuh sang sahabat yang begitu di rindunya .
'' Alfi, kangen '' ujar Salwa sambil memeluk Alfi yang hanya bisa berdiri dan menerima pelukan itu.
'' Assalamualaikum Sal '' lembut Alfi, membuat Salwa tersenyum garing.
'' Eh iya lupa, Wa'alaikumussalam adik ipar '' sahut Salwa dengan nada bercanda. Ia melepaskan pelukannya. Menatap sang sahabat yang kini wajahnya tampak berseri.
Polesan make up tipis menambah segar wajah Alfi. Aura bahagia tampak menguar di wajah cantik itu. Membuat Salwa tersenyum lebar.
'' Makin cantik saja kamu Al '' puji Salwa yang membuat Alfi mencebik kan bibirnya.
'' Faiq mana Sal ?'' tanya Alfi yang kini mulai berjalan pelan dengan Salwa di sampingnya. Sementara Andreas mengiringinya di belakang. Membiarkan sepasang sahabat itu mencurahkan rindu, setelah sekian lama tak bertemu.
'' Di dalam sama Ibu '' sahut Salwa yang kini memegang lengan Alfi saat menaiki undakan tangga saat hendak sampai di teras rumah.
Dua bersahabat itu terus berbincang, seraya berjalan memasuki ruang tamu luas yang sedang di dekor oleh beberapa orang yang tampak sibuk di sana.
'' Rumah baca gimana Sal ?'' tanya Alfi.
__ADS_1
'' Semakin banyak yang datang. Terima kasih ya selalu inget buat ngirim buku sebulan udah ngirim dua kali aja. '' ucap Salwa,Alfi menghentikan langkah kemudian mengernyit menatap Salwa.
'' Aku gak pernah kirim buku '' ucap Alfi yang memang tak pernah mengirim buku. Bagaimana ia mau mengirimkan buku ?. Ia saja hanya keluar saat terapi. Dan sekali keluar ikut Andreas datang ke pernikahan Yudis.
Alfi menatap kearah sang suami yang hanya tersenyum.
'' Makasih ya Mas '' ucap Alfi, Andreas tampak mengernyit.
'' Makasih untuk apa Sayang ?'' tanya Andreas yang kini mendekati sang istri.
'' Mas kan yang ngirim buku ?'' selidik Alfi,Andreas hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian meraih pinggang sang istri.
'' Sudah nanti bahas bukunya. Kita temuin dulu Ayah sama Ibu '' ujar Andreas. Perlakuan Andreas membuat Salwa tersenyum tipis. Ia sungguh ikut bahagia melihat kebahagiaan dalam pancaran wajah sahabatnya.
Dengan perlahan Andreas mengiringi langkah sang Istri. Dengan di sisi lain Salwa yang juga beriringan masuk ke ruang tengah yang terdengar cukup ramai.
Di belakang mereka berjalan, menatap ketiga nya dengan tatapan sendu. Melihat betapa sang nyonya majikan memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya.
Apalagi saat memasuki ruang tengah bagaimana antusiasme menyambut sepasang suami istri itu dengan suka cita.
'' Assalamualaikum '' sapa Alfi yang langsung mendapat atensi dari Ibu.
'' Wa'alaikumussalam '' serentak sahutan itu terdengar.
Tampak anak dan Ibu itu saling pandang dengan mata berkaca-kaca. Ada sorot kerinduan yang mendalam di mata wanita itu. Alfi melangkah perlahan mendekati sang Ibu. Ibu berdiri dan tak mampu lagi menahan laju air mata rindunya. Di dekapnya dengan hangat tubuh putri semata wayangnya.
'' Ibu Alfi kangen,ibu apa kabar ?.'' tanya Alfi dengan nada seraknya. Ternyata wanita itu pun tak bisa menahan air mata untuk tidak tumpah. Rasa rindu yang menggelayut di dada akhirnya tercurah sudah dalam dekapan hangat sang ibu.
__ADS_1
'' Ibu juga kangen nduk , Alhamdulillah ibu sehat. Ibu seneng lihat Alfi sudah bisa berdiri. '' ungkap Ibu. Ibu melepas pelukannya. Di tatapnya sang anak dengan penuh rasa syukur. Di belainya pipi Alfi yang berlinang air mata. Tak ada kata terucap, hanya tatapan sarat kerinduan yang terpancar dari dua pasang bola mata itu. Yang berada di dalam ruangan itu pun ikut terharu. Melihat sepasang ibu dan anak yang sedang saling melepas rindu.
Sebulan terakhir mereka hanya bisa melihat virtual lewat panggilan video. Mengungkap segala rasa rindu dalam ucapan. Kini mereka di pertemukan, membuat mereka mampu mencurahkan segala rasa rindu dalam pelukan.
'' Alhamdulillah nduk, Ibu seneng lihat Alfi , sekarang tambah cantik anak ibu '' ucap wanita itu dengan air mata yang belum juga kunjung berhenti. Rasa rindu yang menggebu yang di tahan sebulan ini akhirnya terurai dengan perasaan yang begitu lega.
Wajah bercahaya yang terlihat di wajah putrinya menyiratkan kebahagiaan yang di dapat dalam rumah tangganya. Ibu sangat bersyukur,sang putri mendapatkan jodoh yang menerima dengan baik segala keadaan Alfiani, putri kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.
Temu kangen ibu anak itu terjeda saat Ayah pun tak mau ketinggalan ingin memeluk dan melepas rindu pada putrinya. Suasana hangat tercipta di ruang keluarga rumah mewah itu. Alfi telah di kuasai keluarganya. Andreas memilih menepi, membiarkan mereka melepas rindu. Karena mereka memang tak pernah terpisah jauh. Wajar jika kini mereka begitu saling merindukan.
Andreas mengawasi sang istri dengan senyum yang tak luntur dari bibir lelaki rupawan itu.
'' Ya elah Mas, segitunya ngeliat mbak Alfi. Dasar bucin'' ucap Riani yang duduk di samping Andreas. Andreas menoleh kearah sang adik seraya menutup wajah Riani dengan telapak tangannya.
'' Anak kecil,sok tau '' celetuk Andreas,Riani menyingkirkan tangan kakaknya dengan raut kesal.
'' Enak aja anak kecil. Mahasiswi ini lho '' protes Riani, Andreas hanya mencebik. Kemudian berdiri dan menyentil dahi adiknya.
'' Sakit Mas !'' rajuk Riani tanpa lagi di pedulikan okeh Andreas yang melangkah mendekati Istrinya.
'' Sayang, Mas ke kantor dulu ya '' pamit Andreas sembari mengusap bahu sang istri dari belakang.
'' Mas belum sarapan,gak sarapan dulu ?'' tanya Alfi. Andreas tersenyum tenang.
'' Gak apa-apa,nanti bisa sarapan di kantor. Mas berangkat dulu ya '' ujar Andreas sembari menundukkan wajahnya dan mengecup sekilas pipi sang istri di bawa tatapan para keluarga yang lain.
Andreas dengan santainya melenggang pergi. Meninggalkan sang istri yang sudah memerah. Apalagi Salwa yang sengaja meledeknya dengan menjawil pipi Alfi .
__ADS_1
'' Apa sih Sal '' geram Alfi , Salwa tersenyum meledek.
'' Merah ih merah pipinya '' ledek Salwa yang di hadiahi pukulan di lengannya oleh sang sahabat.