Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Perjalanan


__ADS_3

Dengan penuh semangat Andreas memasukkan barang-barang yang hendak di bawa pulang kedalam mobil travel yang telah menunggu mereka. Hatinya benar-benar bahagia, selangkah lagi,cinta itu benar di milikinya. Tak lagi takut akan dosa dan nafsu dunia. Ia ingin merengkuh cintanya dalam kesucian yang di ridhoi oleh Allah.


" Sudah masuk semua Ndre ?" tanya Ayah yang keluar dengan tas jinjing. Disusul ibu yang mendorong kursi roda Alfi berjalan di belakang Ayah Farhan.


" Sudah siap Yah " sahut Andreas. Ayah membantu Ibu memapah Alfi masuk ke dalam mobil. Andreas dengan sigap melipat kursi roda dan meletakkan di bagasi.


Ayah,Ibu dan Alfiani duduk di kursi belakang. Andreas duduk di samping pak sopir. Setelah berdoa di pimpin Ayah pak sopir mulai melajukan mobilnya. Meninggalkan rumah yang Ayah sewa .


Melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan perkampungan yang lumayan sepi. Aktivitas pagi belum dimulai, nampaknya warga kampung itu masih enggan keluar rumah. Ayah memang meminta untuk perjalanan di pagi hari saja. Agar tak sore untuk sampai di rumah.


Perjalanan memakan waktu cukup lama. Hingga akhirnya Alfi tertidur. Andreas tersenyum mendapati wajah polos gadis yang bersandar di bahu sang ibu. Hatinya selalu saja tergetar setiap menatap wajah itu. Wajah yang benar-benar telah mengalihkan dunianya.


'' Pak di warung makan depan, berhenti ya kita makan dulu ''titah Ayah, karena tadi pagi mereka hanya sarapan seadanya. Secangkir teh dan tempe goreng saja. Di pagi menjelang siang itu,kini rasa lapar mulai terasa.


'' Baik Pak'' sahut Pak sopir yang tak lama kemudian berhenti di tempat parkir sebuah warung makan yang tampak ramai.


'' Nduk, bangun kita makan dulu '' ibu mengusap lembut pipi anak gadisnya. Membuat Alfi mengerjapkan mata.


'' Sudah sampai bu ?'' tanya Alfi yang sedang menyesuaikan penglihatan karena sinar matahari yang terasa menyilaukan mata.


''Belum makan dulu.'' ucap ibu. Ayah dan Andre sudah turun dari mobil. Andreas menyiapkan kursi roda Alfi. Alfi turun dibantu kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dengan langkah percaya diri , Andreas mendorong kursi roda mengikuti Ayah dan ibu yang berjalan lebih dulu. Tatapan mata para pengunjung mengarah pada sosok gagah dalam balutan kaos oblong pendek berwarna hitam yang tampak pas di tubuh kekarnya.


Sesaat kemudian tatapan mereka tertuju pada sosok cantik di kursi roda. Tatapan orang yang seperti mengasihani membuat Alfi berasa tak percaya diri. Di belakangnya Andreas sosok sempurna bagi para wanita. Dengan wajah tampan,mapan dalam keuangan dan juga lelaki baik penuh pengertian. Sedang dirinya tak lebih dari gadis yang tengah dikasihani karena tak mampu berjalan.


'' Mas Andreas ya ?'' yang seorang gadis yang sedari tadi mengamati Andreas. Tampak lelaki itu mengernyit bingung.


'' Maaf siapa ya ?'' tanya Andreas pada sosok gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan dress selutut


'' Lupa ya Mas, aku Lita yang kemarin magang di tempat kerja Mas Andreas.'' ucap gadis yang mengaku bernama Lita itu.


'' Oh maaf saya tidak ingat'' jawab Andreas ramah. Mau ingat bagaimana ?,jika Andreas tak pernah bersinggungan dengan anak magang. Tapi di kalangan anak magang, Andreas adalah idolanya. Atasan tampan,gagah dan mapan.


'' Iya sih, Mas Andre kan sibuk. Ini adik Mas Andreas ?'' tanya Lita sembari menatap Alfi yang duduk terdiam. Tak ada hasrat untuk mengajak gadis itu berkenalan. Rasanya tak nyaman melihat gadis yang begitu agresif menghampiri lelaki yang ternyata tak mengenal dirinya.


'' Maaf kami permisi ,sudah di tunggu Ayah dan ibu '' pamit Andreas dengan sopan meski hatinya mengumpat gadis yang tiba-tiba datang sok akrab dengan dirinya. Tanpa menunggu jawaban Lita, Andreas meninggalkan gadis gadis yang kemudian kembali menghampiri teman-temannya.


'' Sok akrab banget kenal juga enggak '' gerutu Andreas seraya mendorong kursi roda yang di duduki Alfi. Alfi yang mendengar gerutuan calon suaminya tersenyum tipis.


'' Dia itu pengagum Mas Andre kayaknya '' ucap Alfi dengan nada tenang yang tak di buat-buat. Meski ada rasa tak nyaman ada gadis cantik nan modis yang menghampiri Andreas dengan gaya sok kenalnya.


" Aku tuh udah gak butuh pengagum,aku cuma butuh kamu '' tutur Andreas yang sukses membuat wajah Alfi merona merah. Meski terdengar picisan namun hati wanita mana yang tak luluh oleh kata-kata ?. Apalagi kata itu terucap dari bibir lelaki tampan yang memiliki pesona menawan.

__ADS_1


Dengan isengnya Andreas menundukkan wajahnya dan melihat pipi merona Alfi.


'' Ih apa sih Mas '' ketus Alfi karena wajah Andreas yang terlalu dekat dengannya.


'' Gemes '' ucap Andreas lirih kemudian kembali menegakkan tubuhnya. Alfi mengatur ritme jantungnya yang berdetak tak karuan. Ia hanya berharap suara detak jantungnya tak menggema.


Lelaki itu benar-benar selalu punya cara untuk membuat dirinya salah tingkah. Andreas menghampiri Ayah dan ibu serta sang supir travel yang sudah menunggunya.


'' Sudah pesan Yah ?'' tanya Andreas yang sedang mengatur posisi kursi roda agar gadisnya duduk nyaman.


'' Sudah, nunggu kamu lama jadi atysh pesan dulu. Gak apa-apa kan di samain dengan pesanan Ayah ?'' tanya Ayah pada Andreas yang kini duduk bersebelahan dengan Alfi.


'' Gak apa-apa Yah'' jawab Andreas,tak berselang lama nasi putih dengan lauk ayam bakar dan lalapan.


Akhirnya mereka selesai makan dalam diam. Menikmati rejeki yang di limpahkan oleh Allah hari ini. Dan limpahan kesehatan yang mampu merasakan nikmatnya sebuah makanan.


Andreas segera pergi ke kasir setelah mereka menghabiskan makan pagi menjelang siang itu. Setelahnya mereka keluar dari dalam rumah makan. Masih dengan sigapnya lelaki itu langsung mendorong kursi roda Alfi.


Sisa perjalanan hari itu diisi celoteh ringan dari bibir Alfi. Gadis itu tampak mengagumi setiap sisi jalan. Setiap melihat pemandangan ada rasa syukur yang menyelinap dalam dada. Ia bersyukur karena Allah masih memberinya umur yang panjang. Hingga masih bisa menikmati setiap keindahan yang Allah ciptakan.


Sampai akhirnya Alfi yang bertanya ini itu tapi tak ada jawaban membuat ia menoleh. Ternyata kedua orang tuanya sudah terlelap dengan duduk saling bersandar. Dia menatap dengan senyum pada pasangan yang selalu tampil romantis dan harmonis.

__ADS_1


Pemandangan di belakang tak luput dari pengamatan Andreas yang melihat mereka dari kaca mobil. Rasa hangat mengalir di hatinya. Ayah dan Ibu adalah panutan baginya. Mereka memiliki kadar cinta yang seakan tak ada habisnya.


__ADS_2