Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Asing


__ADS_3

Mobil tampak berhenti di halaman luas sebuah rumah yang nampak asri dengan berbagai tanaman. Ada pohon mangga , rambutan ,jambu air dan beberapa tanaman bunga. Hawa sejuk menyambut ketiga pemuda yang turun dari mobil. Tampak Azzam keluar lebih dulu dari pintu kemudi di susul Fariz dari pintu sebelah nya. Terakhir Faiq turun dari pintu belakang.


Pandangannya mengelilingi area sekitar rumah. Semua terasa asing baginya.


'' Ayo Iq,kita masuk !" ajak Fariz yang membawa tas di tangan. Dengan canggung Faiq mengikuti langkah Fariz dan Azzam.


" Assalamualaikum " ucap Azzam dan Fariz bersamaan.


" Wa'alaikumussalam wr wb " sahut dua orang dengan suara berbeda dari dalam rumah.


" Alhamdulillah,sudah pulang " Sambut ayah dengan sebuah senyum lebarnya. Diikuti Ibu di belakang Ayah.


Di mulai dari Fariz mereka menyalami dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.

__ADS_1


''Selamat datang nak Faiq semoga betah tinggal di rumah Ayah ''ucap Ayah saat Faiq menyalami. Di tepuknya pundak pundak Faiq dengan lembut.


Faiq menatap wajah lelaki berkarisma yang memiliki senyum begitu menentramkan.


'' Insyaallah akan betah Yah,Faiq juga tidak tahu sebelumnya kehidupan Faiq seperti apa'' sahut Faiq. Ayah tersenyum ramah.


'' Mulai hati ini,kamu anak ayah, Fariz antarkan Faiq ke kamar !" titah ayah kepada anak sulungnya.


" Baik Yah,Yuk mas !" ajak Fariz seraya menatap Faiq. Meminta lelaki yang masih terbebat kepalanya dengan perban itu untuk mengikuti langkahnya memasuki rumah sederhana namun cukup luas di dalamnya. Ada 4 kamar yang tersedia di sana. Sebuah ruang tamu yang luas dengan sepasang tempat duduk di sudut ruangan dan sebuah tikar yang di gelar di tengah ruangan.


" Ini kamar mas Faiq,sebelah kanan kamar saya. Depan ini kamar Alfiani, sekarang anaknya sedang kuliah. Kalau yang itu ". ucap Fariz sembari menunjuk sebuah kamar terpisah dengan ukuran lebih besar .


" Itu kamar ayah dan ibu , mas Faiq sekarang jadi anak tertua di sini. Mungkin semua terasa asing buat mas Faiq. Tapi anggaplah kami semua adalah keluarga mas. Mas Faiq harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Alloh tidak akan membebani makhluk nya melebihi kapasitas yang kita miliki. Mas pasti akan sembuh, percaya Alloh pasti memberikan kesembuhan untuk mas Faiq " tutur Fariz panjang lebar,sembari melangkah masuk ke dalam kamar berukuran sedang dengan ranjang berukuran cukup untuk satu orang. Faiq meneliti ke sekeliling, kamar tidak terlalu besar namun rapi dan bersih. Tidak banyak barang di dalam sana. Hanya ranjang dengan sprei polos berwarna biru dan dua bantal tergeletak di sana.

__ADS_1


Sebuah kenari berukuran sedang serta sepasang meja dan kursi belajar. Meski ia tak mengingat akan kehidupannya sebelum ia hilang ingatan, namun ada jauh di dasar hatinya ada rasa sedikit tak nyaman dengan keadaan kamar tersebut. Rasa yang bahkan ia tak mengerti. Semua terlalu asing. Ia masih meneliti sekeliling kamar dengan tatapan matanya. Fariz meletakkan tas yang di bawanya di atas meja. Tas berisi baju ganti milik Faiq yabg di belikan oleh Fariz dan Azzam.


'' Mas Faiq istirahat dulu, di tas ini ada baju untuk ganti mas Faiq. Fariz permisi keluar dulu mas '' pamit Fariz yang melihat ketidaknyamanan Faiq.


'' Riz !" panggil Faiq saat Fariz hendak keluar pintu. Membuat Fariz menghentikan langkahnya. Menoleh pada lelaki berwajah pucat yang kini juga sedang menatap kearahnya.


'' Terima kasih ya Riz'' ucap Faiq dengan senyum tulus di wajah yang masih tampak lesu itu. Fariz tersenyum lebar seraya menyahut.


'' Sama-sama mas, selamat istirahat mas. Assalamualaikum ''


'' Wa'alaikumussalam '' lirih Faiq menjawab salam dari Fariz yang kini telah menghilang di balik pintu.


Faiq melangkah mendekati sebuah jendela yang terhubung dengan halaman belakang. Di bukanya gorden yang menutupi jendela kaca tersebut. Sebuah pemandangan asri nampak dari sana. Halaman belakang tak seluas halaman depan, namun terhubung langsung dengan area persawahan. Nampak menyejukkan mata dengan hamparan hijau tanaman padi. Faiq membuka pengait daun jendela, membuka lebar dan merasakan semilir sejuknya angin yang berhembus menyapu wajahnya. Memejamkan mata menikmati sensasi damai yang menelisik hingga relung hati.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Faiq terdiam menikmati pemandangan di halaman belakang. Pertanyaan tentang diri kembali hadir, dan lagi rasa sakit di kepala membuatnya memegangi kepalanya. Dan perlahan mendekati ranjang. Duduk dengan memegangi kepala yang terasa nyeri saat ia mencoba memaksakan diri tentang ingatan di masa lalu nya.


Akhirnya Faiq memilih merebahkan diri di atas ranjang . Memejamkan matanya, mengistirahatkan segala yang menghantui otaknya. Mungkin memang ia harus menikmati semua hal yang terjadi kini. Menjadi orang baru bersama orang-orang baik yang telah menolongnya tanpa pamrih.


__ADS_2