Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Cinta Itu....?


__ADS_3

Semburat jingga memancar indah di ufuk barat sana. Di antara ilalang dan rumput liar yang tumbuh hijau di sebuah perbukitan. Dua gadis cantik beserta beberapa gadis kecil duduk menatap jingganya langit sore itu.


Badan mereka bergerak ke kiri dan kanan. Mengikuti alunan sholawat yang mereka dendangkan. Sore cerah dengan senja yang merona. Membuat hati terasa berbunga. Senyum merekah di bibir mereka.


Gemerisik suara ilalang yang diterpa angin. Bagai melodi indah yang menentramkan jiwa. Sungguh kuasa Alloh dengan segala keindahan yang tercipta. Mengingatkan hati untuk tetap bersyukur pada kebesaran Ilahi.


Sore itu seperti biasa Alfiani bertugas mengajak anak-anak belajar di luar. Menceritakan tokoh teladan di masa lalu yang hingga kini masih harus di tiru. Di atas bukit ini, Alfiani mengajak anak-anak untuk belajar. Dan akhirnya menikmati keindahan yang Alloh sajikan dalam lukisan senja yang mempesona. Lukisan sang Maha Agung sang pemilik kuasa.


" Adik-adik udah mau Maghrib nih,pulang yuk !" ajak Alfi pada anak-anak yang masih asyik bercengkrama di bawa naungan senja yang memerah.


" Iya kak " sahut mereka serempak. Alfiani yang telah berdiri tersenyum hangat pada gadis-gadis kecil itu.


" Al !" panggil Salwa yang sore itu ikut Alfiani mengajar. Mereka telah berjalan menuruni bukit, keduanya berjalan berdampingan.


" Hm, kenapa ?" tanya Alfi yang berjalan pelan. Karena jalan yang sedikit terjal.


'' Kemarin di cariin mas Yudis '' ucap Salwa membuat dahi Alfi berkerut.


'' Gak ada janji aku sama dia,ngapain katanya nyari aku ?'' tanya Alfi yang merasa tak ada kepentingan dengan lelaki itu. Salwa mengangkat bahu ,tak tahu maksud dari lelaki yang gencar menanyakan keberadaan sang sahabat.


'' Kalau aku lihat ,dia suka sama kamu. Kamu gimana ?'' sambung Salwa,kini mereka telah sampai di jalan landai. Berjalan menjauhi area perbukitan.


'' Gimana apanya ? ''. Alfi menatap sahabatnya dengan tatapan tanda tanya.


'' Ya perasaan kamu ke dia ''


" Ya gak gimana-gimana, biasa aja'' jawab Alfi polos.

__ADS_1


" Gak ada deg-degan gitu pas ketemu dia ?'' cerca Salwa,dengan tatapan menyelidik pada sang sahabat.


'' Ya deg-degan lah,kalau gak deg-degan mati dong aku'' sahut Alfiani santai. Membuat Salwa melengos kesal.


'' Bukan itu maksudnya Alfiani '' kesal Salwa yang justru ditertawakan Alfi .


'' Aku tuh gak ada perasaan apa-apa sama mas Yudis,dia emang baik. Tapi ya gimana, perasaan aku biasa aja'' tutur Alfi serius.


" Kalau sama mas Faiq ?'' tanya Salwa yang langsung membuat rona wajah Alfi berubah.


'' Sama mas Faiq kenapa ?'' Alfi balik bertanya seolah tak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan sang sahabat.


'' Gak usah pura-pura gak ngerti. Kamu suka kan sama mas Faiq ?'' selidik Salwa membuat Alfiani salah tingkah.


'' Gak usah ngaco deh, dia kan abang aku''. elak Alfiani namun tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.


" Jujur deh,iya kan suka Mas Faiq " goda Salwa seraya menjawil dagu Alfi. Tatapan Salwa benar sungguh mengesalkan.


" Kagum mungkin Sal " jawab Alfiani tanpa menghentikan langkahnya. Salwa merangkul pundak Alfi.


'' Wajar sih,mas Faiq emang ganteng ". gumam Salwa yang masih terdengar jelas oleh Alfiani. Keduanya kini berjalan tertinggal jauh dari anak-anak yang berkejaran di depan sana.


" Gantengan mana sama Mas Fariz ?" kini Alfi berbalik meledek Salwa yang sudah bersemu merah pipinya. Alfi yang tak mendapat jawaban, menggoda dengan menarik-narik ujung jilbab yang di kenakan Salwa.


" Ih apa sih Al,iseng " sungut Salwa yang hanya ditertawakan Alfi.


" Cinta itu kata orang anugerah Al,jadi nikmati saja saat perasaan itu hadir di hati kita " ucap Salwa setelah beberapa saat keduanya terdiam.

__ADS_1


" Cinta bisa jadi anugerah ketika kita mampu menempatkan di tempat yang seharusnya. Ketika cinta membawa kita pada kebaikan, ketulusan, dan keikhlasan. Tapi cinta bisa jadi bencana saat kita meletakkan cinta di atas segalanya. Nafsu dunia akan menguasai diri kita dengan mengatasnamakan cinta." jabar Alfi sambil terus melangkah. Suasana sore terasa nyaman dengan hembusan angin yang menyejukkan.


Salwa tersenyum,setuju dengan apa yang di ucapkan sang sahabat.


" Kamu bener " ucap Salwa singkat. Sampai mereka di pemukiman yang lumayan padat penduduk meski tak sepadat di kota. Namun jarak satu rumah dengan rumah yang lain tak terlampau jauh.


Sampai di persimpangan keduanya berpisah. Salwa berjalan kearah rumahnya,begitu juga dengan Alfi. Saat memasuki halaman kumandang adzan Maghrib menggema. Alfi bergegas masuk. Saat di pintu, hampir saja Alfi menabrak Faiq yang hendak keluar rumah.


" Assalamualaikum mas " ucap Alfi yang langsung menundukkan kepala dan menggeser tubuhnya memberi jalan pada Faiq.


" Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarokatu " jawab Faiq lengkap. Tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkan Alfi yang langsung masuk kedalam rumah .


Selalu ada debar yang tak biasa di hati dua insan itu. Namun mereka cukup menyimpannya dalam dada. Keduanya seolah menikmati rasa itu untuk mereka sendiri. Tanpa berani untuk memperlihatkan rasa yang sesungguhnya telah membuncah dalan dada. Mereka tak mau melewati batas.


Keduanya kini berlindung pada atap yang sama,akan menjadi skandal jika rasa itu terlihat jelas. Dan lagi, Alfiani bukanlah gadis yang akan menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum ada ikatan sakral pernikahan.


Biarlah rasa itu sebagai warna dalam hidupnya. Sebuah rasa yang tercipta dari sang kuasa tanpa ada yang mampu untuk mengelak.


Seperti malam biasa sepulang dari masjid selepas shalat isya. Mereka bersantai, menikmati kudapan di temani minuman hangat.


" Ini gajih pertama kamu Iq " ucap Ayah seraya mengulurkan amplop pada Faiq saat mereka duduk menikmati hembusan sejuk angin malam di teras samping. Tak jauh dari sana dua anak serta istri Ayah sedang duduk di bangku yang terletak di bawah pohon mangga.


" Gajih untuk apa Yah ?,Faiq sudah banyak menyusahkan di sini. Faiq hanya ingin membantu ayah " ucap Faiq berusaha menolak dengan halus. Ayah tersenyum ramah. Mengambil tangan Faiq dan meletakkan amplop itu di tangan sang pemuda.


" Jangan pernah berpikir kamu itu merepotkan di sini. Kamu itu anak ayah sama seperti Fariz dan Alfi. Sudah seharusnya orang tua merawat anaknya. Ini uang memang tak seberapa,tapi ini hak kamu, terima. Ayah dan Ibu tidak tau semua kebutuhan kamu. Gunakan itu untuk membeli yang kamu butuhkan " jelas Ayah dengan ucapan lembut. Faiq tertunduk, menatap nanar amplop di tangannya.


Kebaikan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu ?. Hingga kini saat ingatannya pun menghilang,ia di pertemukan dengan orang baik seperti Ayah Farhan sekeluarga.

__ADS_1


" Terima kasih Yah " lirih Faiq.


__ADS_2