
Semilir angin sore berhembus sejuk,tawa anak-anak yang sedang bermain menambah ceria sore itu. Senyum terkembang di bibir Alfi melihat seorang anak yang berlari saat seorang wanita hendak menyuapi anak itu.
Sore itu Andreas membawa Alfi jalan-jalan di taman kota. Setelah mengantarkan para kerabat yang hendak kembali. Kini keduanya duduk bersebelahan di bangku taman. Melihat sekumpulan anak yang sedang bermain di sana di temani pengasuh atau orang tua mereka.
" Seneng ya, kalau lihat anak-anak , kayak gak ada beban, bebas '' ucap Andreas seraya merangkul pundak Alfi. Namun tatapannya tak lepas dari sekumpulan anak-anak yang berlarian.
" Karena anak kecil itu masih suci, hati mereka masih bersih. Belum ada beban dosa di hidup mereka.'' sahut Alfi, Andreas tersenyum dan membawa kepala sang istri di dadanya.
" Sayang,mau punya anak berapa ?" tanya Andreas yang membuat Alfi merona merah.
" Apa sih ?" ucap Alfi yang semakin membenamkan wajahnya di dada Andreas. Andreas terbahak kemudian mencium kepala istrinya.
" Kamu tuh gemes banget kalau malu gini lho Yang " ucap Andreas, sambil mengelus kepala sang istri.
"Lagian, bahas anak " Ucap Alfi sembari menegakkan tubuhnya. Wajah cemberut sang istri membuat Andreas menjembel pipinya.
" Proses juga belum ya Yang " lanjut Andreas tanpa perduli Alfi yang makin memerah. Andai kakinya bisa diajak berjalan,ia pasti sudah meninggalkan sang suami.
'' Tau ah mas Andre '' rengek Alfi, membuat Andreas merasa senang mengganggu sang istri. Gadis pemalu yang selalu merona setiap di ganggu olehnya. Gadis yang sangat jarang ia temui di mana ia lebih sering berhadapan dengan gadis agresif. Namun gadis yang kini menyandang status sebagai istrinya sungguh pemalu dan mampu menjaga kehormatan dengan baik.
" Udah hampir Maghrib,balik ke hotel yuk !" ajak Andreas yang kemudian berdiri. Tanpa ragu dibopongnya tubuh sang istri dan di dudukkan di atas kursi roda.
" Maaf ya mas,Alfi selalu bikin mas repot " ucap Alfi, Andreas mengecup kepala istrinya kemudian berjongkok di hadapan sang istri. Meraih dua telapak tangan Alfi.
__ADS_1
" Mas gak pernah merasa kamu repot kan. Mas ikhlas,mas rela walaupun seumur hidup untuk jadi kaki kamu agar kamu bisa tetap berjalan. Mas sanggup melewati rintangan apapun asal sama kamu. Buat mas kamu adalah rumah tempat mas pulang. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan mas, apapun yang terjadi " ucap Andreas dengan tatapan mata keduanya saling bertaut. Alfi tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mengangguk kan kepala pada suami tercinta.
Andreas mengusap lembut pipi Alfi kemudian berdiri dan mendorong kursi roda melewati jalan di tengah taman. Tak sedikit orang-orang yang menatap kearah mereka. Andreas tidak pernah malu meski kini Alfi tak bisa berjalan. Dan seandainya pun setelah berusaha Alfi tetap tidak bisa berjalan atau lumpuh permanen. Andreas tidak akan pernah meninggalkan gadis itu, tidak akan pernah menyesali keputusannya menikah dengan Alfi.
Andreas mencintai wanitanya,bukan tentang paras cantiknya,bukan tentang kesempurnaan tubuhnya. Namun hatinya yang memilih pada siapa ia akan terjatuh. Jangan pernah tanya kenapa ?, pada cintanya. Karena cintanya tanpa sebab dan karena. Ia tak butuh alasan untuk mencintai karena hati yang telah memilih.
Kumandang adzan Maghrib menggema tepat saat Andreas mendorong kursi roda Alfi di lobby hotel. Andreas mempercepat langkah membawa sang istri memasuki lift. Bertepatan saat mereka berdua masuk lift. Ikut juga seorang wanita berpakaian seksi masuk kedalam lift.
Pandangan wanita itu tertuju pada Alfi kemudian melihat Andreas. Andreas menyadari tatapan tak mengenakan dari wanita yang berdiri di sampingnya.
" Siapa nya mas ?" tanya wanita itu dengan suara menjengkelkan.
" Istri saya " singkat Andreas tanpa menggubris tatapan wanita itu.
" Sayangnya saya terlalu sayang sama dia." ucap Andreas dengan senyum sinis. Tepat setelah itu lift terbuka. Andreas keluar dari dalam lift bersama sang istri. Wanita itu sepertinya masih hendak menuju lantai berikutnya.
" Dasar kenal juga enggak kok nyinyir. Siapa dia boleh menilai orang " gerutu Andreas membuat Alfi tergelak. Ternyata suaminya bisa menggerutu juga.
" Kok malah ketawa sih Yang ?" ucap Andreas tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar ia menginap.
" Mas lucu aja,nggerundel kayak ibu-ibu" ucap Alfi sambil tertawa.
" Enaknya aja di samain ibu-ibu " protes Andreas sambil menjembel pipi Alfi dengan gemas.
__ADS_1
" Sakit mas " ucap Alfi manja.
" Aku tuh gak suka ada orang ngerendahin kamu kayak tadi " ucap Andreas dengan nada serius. Alfi mengusap punggung tangan Andreas yang berasa di pegangan kursi roda.
" Kita gak bisa menyuruh orang untuk suka sama kita. Kita tidak berhak melakukan itu,yang perlu kita lakukan jangan pernah membenci meski dengan orang yang tidak menyukai kita. " tutur lembut Alfi.
Andreas merogoh saku celana panjangnya. Mengeluarkan kunci untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, ia kembali mendorong kursi roda istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
" Tapi aku tetep gak suka kamu diremehkan begitu. Dia gak kenal kamu,dia gak tau siapa kamu. Cuma karena fisik kamu di ngerendahin kamu seperti itu." kesal Andreas sambil mendorong kursi roda kedalam. Alfi tersenyum menyadari ego suaminya sedang terluka.
" Karena dia gak kenal sama aku makanya dia begitu, kalau dia kenal aku bisa jatuh cinta dia sama aku " seloroh Alfi. Membuat Andreas menghentikan langkahnya.
" Maksudnya ?, enak aja kalau dia cinta sama kamu. Masa cewek sama cewek ,iiih geli " ucap Andreas sambil bergidik.
" Makanya yang kenal aku cukup mas Andreas ,biar yang jatuh cinta mas Andreas saja. " sahut Alfi, Andreas tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Andreas memeluk istrinya dari belakang.
" Pinter banget sih istri aku ini. " ujar Andreas yang seketika melupakan kekesalan tadi.
Sepasang suami istri akan bisa berjalan jika seimbang. Ketika salah satu sedang jadi api maka pasangannya harus bisa jadi air. Juka salah satu keras bagai batu. Luluhkan dengan cinta dan hati. Membatunya hati bisa luluh jika cinta yang tulus terus meneteskan kasih sayangnya.
Kini sepasang pengantin baru itu, telah bersiap untuk menjalankan sholat tiga rakaat dengan Andreas sebagai imam. Alfi yang melaksanakan sholatnya dengan duduk di atas kursi roda. Mengikuti Imam di hadapannya,imam impian yang begitu fasih dalam mengucapkan bacaan sholat nya.
Diiringi senja yang hilang ditelan malam. Sepasang suami istri itu menengadah, berdoa untuk perjalanan panjang hidupnya yang baru saja di mulai. Entah rintangan apa yang akan menghampiri keduanya. Namun mereka yakin jika mereka mampu melewatinya dengan saling menggenggam tangan ,untuk menguatkan satu sama lain.
__ADS_1