Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Ikhlas


__ADS_3

Mencintai dalan diam adalah sebuah pilihan yang terkadang membuat hati terasa sesak. Tapi itu menjadi sebuah pilihan terbijak saat kita tak pernah tahu dimana akhir rasa yang kita miliki. Cukup menatap dalam diam,mengiring dia dalam setiap langkah. Bahwasanya Allah selalu ada membersamainya dan melindunginya.


Setidaknya hanya itu yang bisa Alfiani lakukan. Saat melihat iring-iringan mobil menjauh meninggalkan kediamannya. Ada sedikit sesak saat melihat Andreas di gelanyuti oleh wanita cantik yang ia tahu bernama Diandra. Namun ia bisa apa ?,ia hanyalah seorang adik angkat Andreas Wiratama. Hatinya tidak memperbolehkan dirinya untuk mencemburui.


Tak ada kata istimewa yang terucap dari perpisahan dengan lelaki itu. Semua biasa saja , saatnya ia menata hati kembali. Menyerahkan semua pada sang Ilahi Robbi. Ia tak mau rasa yang mengendap di dadanya menjadi sebuah nafsu dunia. Rasa serakah untuk memiliki hati yang jelas telah ada yang menghuni.


Di sini,kini Alfiani duduk di atas batu. Menatap sungai yang mengalir jernih dengan kaki yang terjulur ke dalam sungai. Tersenyum sendiri ketika sekilas bayang sosok yang ia temukan di sini.


Ada banyak kata yang tak mampu terurai ,terlewat tanpa makna. Namun ia pun tak bisa mengungkapkannya. Mungkin rasa ini sebagai penguji,tentang ikhlas melepas sesuatu yang fi agungkan hati.


Jika ikhlas tertinggi adalah ketika kita mampu melepas apa yang paling kita cintai. Mungkin saat ini Allah sedang mengujinya,tentang seberapa besar ikhlas itu ada di hatinya.


"Assalamualaikum '' suara salam mengembalikan Alfiani pada kesadaran setelah sebelumnya tenggelam dalam lamunan.


'' Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarokatu '' sahut Alfi seraya menoleh dan menengadah, menatap Salwa yang sedang berjalan seraya menenteng sendal jepit di tangannya.


'' Ya Alloh Al,kamu gak frustasi gara-gara di tinggal mas Faiq kan ? '' celoteh Salwa yang kini duduk di samping sang sahabat. Alfiani membekap mulut sahabatnya yang berbicara asal.

__ADS_1


'' Bicaramu lho Sal ''sungut Alfiani. Salwa melepas bekapan di mulutnya. Kemudian tertawa renyah.


'' Ya lagian ngapain kamu semedi di sini ?,lagi inget-inget awal ketemu mas Faiq kan ?'' ledek Salwa.


'' Ngaco '' sangkal Alfiani meski hatinya mengamini. '' Mana buku yang aku minta. Kamu bawa gak ?'' lanjut Alfi yang tadi meminta sahabatnya datang untuk membawa buku untuk bahan mengajar Alfiani sore nanti.


" Nih " Salwa mengulurkan buku yang baru ia ambil dari tas selempang yang di pakai gadis itu .


" Makasih ya '' tutur Alfiani setelah menerima buku yang ia pinta. Beberapa saat keduanya terdiam. Alfiani membuka buku di tangannya. Sedang Salwa bermain dengan ponselnya.


" Gak nyangka ya, Mas Faiq udah punya pacar " ujar Salwa yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas.


" Kamu gimana ?" lanjut Salwa setelah terdiam menikmati gemericik air yang mengalir di sungai yang sedang surut itu.


" Apanya ?" Alfi balik bertanya, menoleh sekilas ke arah Salwa yang tertunduk menatap kakinya yang sedang bermain air.


" Perasaan kamu " Alfi tersenyum lembut, kemudian menutup buku yang sedang di baca. Menatap jauh ke depan. Menghela nafas panjang kemudian berkata.

__ADS_1


" Kehilangan yang pasti. Kayak ada yang tiba-tiba kosong aja gitu. Tapi Insya Allah gak akan berpengaruh buat hidup aku. Anggap aja ini sebagai bentuk ujian baru yang Alloh berikan buat aku. Ketika tiba-tiba aku ngerasa sesuatu yang berbeda dan istimewa. Tapi di saat itu Alloh mengambilnya dan mengembalikan semua pada tempat seharusnya." Alfi berhenti berucap sejenak menatap langit yang tampak biru di hiasi awan tipis yang bergerak tertiup angin.


" Mungkin memang seharusnya aku menekan rasa ini, jangan sampai membuat aku terlena pada dunia. Yang pasti jangan pernah berharap apapun pada manusia, karena Alloh lah tempat kita menggantung harapan tertinggi. Intinya aku gak nyesel kagum sama mas Andreas,tapi aku juga ikhlas dia menjalani takdirnya dengan siapapun ". pungkas Alfi. Meski ada sedikit sesak saat melihat lelaki itu bergandengan dengan Diandra namun ia tak akan membiarkan hatinya terluka dan patah oleh rasa yang memang seharusnya mampu ia kendalikan.


Salwa menepuk pundak sahabatnya, membuat Alfiani menoleh kearah Salwa. Hadis itu mengacungkan dua jempol membuat Alfiani tergelak.


" Oke lupain soal cinta-cintaan, waktunya kita melihat ke depan. Merangkai mimpi-mimpi kita " ucap Salwa yang merangkul pundak sang sahabat dengan tatapan ke depan dengan raut penuh optimisme. Alfi tersenyum lebar melihat semangat sahabatnya.


" Terus rencana kamu setelah selesai kuliah apa ?" tanya Alfiani membuat raut wajah penuh semangat itu luruh. Salwa menghela nafas panjang tak bersemangat.


" Aku di suruh Bapak buat ngurusin usaha keluarga. " lesu Salwa. Ia adalah anak semata wayang dari Bapak Hardi dan Ibu Fatma yang memiliki sebuah usaha pabrik tahu yang cukup luas jaringannya.


Gantian kini Alfi yang menepuk pundak sahabatnya. " Kan cuma ngawasin Sal,gak apa-apa lah sebagai bentuk bakti kamu ke Bapak Ibu. " lembut Alfiani.


" Tapi aku pengen ngabdiin ilmu aku Al " sahut Salwa, yang merasa sekolahnya sia-sia jika akhirnya terjun di pabrik tahu juga .


'' Kan kamu bisa ikut ngajar di madrasah atau PAUD Sal,gak makan waktu kamu seharian jadi masih bisa kamu ngawasin orang yang kerja. "

__ADS_1


" Nantilah belum kepikir " pungkas Salwa yang merasa malas untuk memikirkan ke depan akan bagaimana .


__ADS_2