
" Maksudnya ?'' tanya Alfi terbata. Bukan ia tak paham ucapan Andreas. Namun gemuruh rasa di dadanya mendadak membuat dirinya tak mampu bersikap tenang. Ia tak pernah siap dengan ini. Meski rasa yang mengikat hatinya telah lama ia rasa. Tapi tak pernah ia membayangkan hari ini. Hari dimana seorang Andreas Wiratama menyatakan perasaannya.
" Maksudnya Mas sayang Alfi sebagai wanita dewasa . Mas cinta sama kamu Al.Alfi mau kan menikah dengan Mas ?" pertanyaan yang semakin membuat Alfi gugup,andai dia bisa segera pergi dari sana ? . Namun Andreas yang masih di depannya dan sekarang memegang dua sisi kursi roda seakan mengungkung dirinya. Membuat ia mengerjapkan mata dengan cepat. Rasa canggung menguasai dirinya.
" Al, Mau kan ?" ulang Andreas menunggu jawaban dari Alfi yang terdiam tanpa kata. Andreas mengunci tatapannya pada Alfi yang terlihat gelisah. Ia beranikan diri lagi untuk menyentuh punggung tangan Alfi yang kini saling bertaut. Lagi-lagi reflek Alfi menariknya. Tak pernah bersentuhan secara langsung dengan lelaki membuat Alfi menghindari sentuhan itu.
" Maaf " ucap Andreas lembut, Alfi mengangguk kecil. Sesaat mata keduanya saling bertemu tatap. Gelenyar rasa di hati Alfi semakin tumpah ruah. Tapi sungguh ia bingung dengan lamaran dadakan seorang Andreas.
" Gimana Al ?" Andreas seakan semakin mendesak, karena Alfi yang terlalu lama membisu.
" Mas, keadaan Alfi seperti ini " ucap Alfi lirih seraya menunduk. Rasanya ia tak pantas bersanding dengan Andreas .
" Al ,aku gak perduli keadaan kamu seperti apa. Perasaan mas akan selalu sama. Mas sayang, mas cinta kamu Al. Seharusnya sudah dari setahun yang lalu mas bilang ini. Tapi mas terlalu takut mengungkapkan perasaan ini sama kamu". ungkap Andreas. Sambil menatap Alfiani yang semakin gelisah.
" Al please,menikah dengan ku " ucap Andreas mengiba. Alfi tertunduk dan pundaknya bergetar, gadis itu menangis.
" Aku cacat mas " lirih Alfi di sela tangisnya.
" Mas gak perduli "
" Aku gak pantes buat kamu mas "
" Kamu lebih dari pantas untukku Al" Andreas terus meyakinkan hati gadis di hadapannya. Andreas meraih bahu Alfi. Menegakkan rubuh gadis itu. Agar Andreas bisa menatap wajah Alfi dan meyakinkan setiap ucapannya.
" Dengarkan mas Al, apapun keadaan kamu rasa sayang mas gak akan berubah. Kamu sempurna di mata Mas,kamu pintar,cerdas cantik dan berhati malaikat. Mas sayang,dan cinta sama kamu Al." sekali lagi Andreas meyakinkan gadis itu. Kemudian ia merogoh saku celananya, mengambil kotak cincin yang di bawanya.
__ADS_1
" Mau kan kamu menikah sama Mas ?" tanya Andreas seraya mengulurkan cincin mungil yabg tampak cantik dengan berlian kecil di atasnya. Alfi mengambil kotak itu dan menutupnya. Namun tak mengembalikannya pada Andreas.
" Minta dulu aku sama Ayah Mas. Kalau Ayah boleh dan merestui baru aku akan pakai cincin ini." ucap Alfi dengan mata membalas tatapan Andreas. Senyum merekah di bibir Andreas, anggukan penuh antusias dari Andreas membuat Alfi tersenyum kecil.
" Aku simpan dulu cincin nya " Andreas hanya mampu mengangguk,rasa bahagianya membuat ia seakan kehilangan kata.
" Ya udah,mas awas. Ini mau Maghrib, Alfi mau ke kamar " tutur Alfi, Andreas langsung berdiri dan hendak mendorong kursi roda Alfi. Namun gadis itu menggeleng.
" Aku bisa sendiri mas. " tolak Alfi. Tidak mungkin dirinya membiarkan Andreas mengantar ke dalam kamar.
Alfi menggerakkan kursi rodanya meninggalkan Andreas yang tiba-tiba mengangkat dua tangannya dengan senyum lebar.
" Yes " desisnya lirih. "Tinggal minta restu Ayah " sambungnya berbicara sendiri.
Dan di balik kamar yang tak jauh dari ruang tamu. Sepasang suami istri duduk saling berhadapan dengan nafas lega. Beberapa saat yang lalu. Ibu sudah bersikeras hendak keluar saat melihat Andreas yang berada begitu dekat dengan anak gadisnya.
" Yah, kita harus keluar Yah." ucap ibu khawatir sesaat yang lalu. Ayah Menggenggam tangan istrinya dan berkata pelan.
" Kita lihat dulu, jangan terlalu khawatir. Andreas anak yang baik bu " ucap Ayah menenangkan. Dan tanpa di ketahui oleh dua orang di luar sana. Ibu dan Ayah mendengar obrolan mereka. Kini orang tua itu saling pandang .
" Gimana Yah ?"ibu memecah keheningan kamar yang sesaat lalu menguasai.
" Ayah setuju saja, Andre baik. Dan kita juga tahu bagaimana Alfi terhadap Andreas. Ayah hanya ingin anak-anak Ayah bahagia " tutur Ayah bijak.
" Tapi keadaan Alfi Yah " ibu tampak gusar. Ayah meraih telapak tangan ibu. Menggenggamnya dengan lembut.
__ADS_1
" Atas ijin Allah ,Alfi pasti sembuh bu " ucap Ayah yakin. Ibu mengangguk,Ayah meraih tubuh istrinya dan membawa tubuh itu dalam pelukan.
Sepasang suami istri itu saling menguatkan. Sesungguhnya rasa khawatir itu tetap ada. Meski mereka percaya Allah selalu punya rencana indah. Namun mereka tetaplah hanya manusia biasa dengan segala rasa khawatir dan rasa takutnya.
Sementara di kamar Alfi duduk di dekat jendela. Menatap dengan seulas senyum pada cincin yang ada di tangannya. Ia tak pernah memimpikan ini. Andreas baginya adalah bintang yang terlalu tinggi untuk ia raih.
Meski selalu terselip nama Andreas dalam doanya. Tapi bukan untuk menjadi pemilik hati lelaki itu. Melainkan meminta Allah untuk menghilangkan rasa cintanya ,agar busa melepas dengan ikhlas lelaki yang ia pikir tak mampu ia sentuh keberadaannya.
Alfi mengambil ponsel di saku bajunya. Memotret cincin yang dipegangnya dan mengirimkan pada sang sahabat.
' Sal,aku harus gimana ? ' tulisnya . Tak menunggu lama panggilan Video masuk. Bersamaan kumandang adzan Maghrib. Alfi tak mengangkat panggilan dari sahabat sekaligus iparnya itu.
Alfi tersenyum sendiri , membayangkan sahabatnya heboh sendiri. Biarkan dulu Salwa dengan rasa penasarannya. Ia meletakkan kotak cincin itu di meja. Kemudian menggerakkan kursi rodanya keluar kamar. Ia hendak mengambil wudhu yang pasti di bantu ibu.
Di kamar lain di rumah itu. Andreas masih terlarut dalam euforia hatinya. Meski ia masih harus mendapatkan restu ayah, tapi penerimaan Alfi sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Hingga senyum lebar tak bisa luntur dari bibir lelaki itu.
Seperti abg yang baru jatuh cinta, Andreas tersenyum sendiri, hatinya meletup-meletup . Hendak tumpah dengan rasa bahagia yang tak terdefinisi kan dengan kata.
Sampai sebuah ketukan menyadarkan Andry yang sedang tidur terlentang atas ranjang.
" Ya sebentar " sahut Andreas.
" Ayah tunggu untuk jamaah Nak" ucap Ayah dari balik pintu kamar yang di tempati Andreas.
" Iya Yah sebentar, Andreas siap-siap " sahut Andreas terlonjak dan segera mencari sarung dan baju muslim miliknya. Tak ada jawaban namun suara langkah kaki terdengar menjauh. Ayah pasti menunggu di tempat sholat. Andreas bergegas menukar pakaiannya. Ia tak mau calon mertuanya menunggu lama. Ah ,calon mertua. Sekilas kata itu tersemat di hatinya membuat hatinya semakin bermekaran dengan sempurna.
__ADS_1