
Mentari merekah di ujung timur diantara gunung yang tampak menjulang. Menyajikan pemandangan dengan cahaya indah sang mentari di pagi hari. Alfi duduk menatap ufuk timur menyaksikan matahari terbit .
Senyum terukir di bibir gadis cantik itu, menikmati paginya yang terasa begitu menentramkan. Duduk sendiri di teras belakang. Menatap langsung hamparan sawah yang baru saja selesai tanam.
Semilir angin pagi menerpa tubuhnya, mengantarkan hawa dingin yang membuatnya memeluk tubuhnya sendiri. Namun tiba-tiba, jaket menyampir di bahunya. Alfi menoleh dan menengadah, mendapati wajah penuh senyum yang menatap lembut padanya.
''Terima kasih Mas '' ucap Alfi seraya melekatkan jaket di badannya. Andreas tersenyum lalu mengangguk kecil. Tatapan pemuda itu kini telah tertuju pada sinar sang mentari.
'' Mas sudah bicara dengan Ayah " tutur Andreas membuat Alfi kembali menatap wajah Andreas. Pemandangan yang membuatnya terdiam. Paras tampan itu seakan menguarkan cahaya yang menyilaukan. Terpaan sinar matahari di wajah Andreas membuat wajah itu berkilau. Tampan sangat tampan, tak ada yang mengelak jika memang ketampanan itu ada pada diri lelaki yang masih berdiri dsn menatap arah matahari terbit.
'' Ayah bilang apa ?'' tanya Alfi , kemudian memalingkan wajah. Tak mau terpergok sedang memperhatikan wajah tampan itu. Andreas mengalihkan perhatiannya,kini ia melangkah ke hadapan Alfi, berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Keduanya saling berhadapan dan sesaat tatapan mereka saling terkunci.
'' Ayah setuju dan memberikan restunya untuk kita '' ucap Andreas yang kini berdiri dengan dua kakinya dengan tangan berada di dua tanganan kursi roda. Mengungkung Alfi dan menguncinya dengan tatapan yang sulit untuk di hindari.
Debar jantung dua anak manusia itu bertalu-talu. Berada sedekat itu sungguh membuat kinerja jantung mereka tak bisa bekerja dengan normal.
'' Seperti katamu kemarin, berarti kamu akan menggunakan cincin dari Mas kemarin '' lanjut Andreas, Alfi mengalihkan pandangannya, mencoba mengendalikan perasaan gugup yang menguasai dirinya.
" Nanti akan Alfi pakai sesuai janji Alfi '' ucap Alfi yang kini tertunduk. Karena tatapan dalam Andreas sungguh menghujam jantungnya.
'' Mas ingin kamu pakai sekarang '' lanjut Andreas.
'' Cincinnya di kamar Mas '' sahut Alfi sambil mengangkat kepalanya dan lagi tatap mata itu menyambutnya.
__ADS_1
'' Sebentar Alfi ambil ke dalam '' ucap Alfi.
'' Kamu taruh dimana ?'' tanya Andreas lembut,ingin sekali ia membelai pipi merona di hadapannya. Kecantikan gadisnya seakan memiliki cahaya yang membuatnya tak mampu berpaling dari wajah itu . Seakan ada magnet yang menarik dirinya untuk tetap menatap wajah tanpa cela yang Allah ciptakan.
'' Di atas meja di kamar '' sahut Alfi, Andreas berdiri.
'' Kamu tunggu di sini '' tuturnya yang di angguki okeh Alfi. Dengan tatapan mata Alfi mengiringi langkah Andreas. Menatap punggung lebar itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu masuk.
Senyum tak bisa lepas dari bibirnya. Ia tak pernah menyangka jika cintanya akan bersambut. Seakan semua serasa mimpi. Cinta yang selalu ia harapkan enyah dari hati,cinta yang selalu ia harapkan untuk ia lupakan dan belajar ikhlas menerima. Ternyata kini hadir dalam bentuk nyata. Ketika cinta saling bersambut dan memiliki tujuan yang pasti hingga jelas akan kemana arah tujuan cinta itu.
Suara langkah sandal yang bergesekan dengan lantai membawa lelaki tegap itu kembali ke teras belakang.
''Minum dulu,biar gak dingin '' Andreas menyodorkan secangkir cokelat yang mengepul panas. Alfi menerima cangkir yang di sodorkan okeh Andreas. Menyesapnya sedikit. Kemudian menaruhnya di atas meja di samping ia duduk di atas kursi roda.
Andreas melakukan hal yang sama, kemudian ia mengambil cincin dalam saku celananya. Lagi-lagi Andreas berjongkok di hadapan Alfi, membuat jantung Alfi benar-benar tak baik-baik saja. Terlalu cepat berdetak dan rasa gugup langsung menyerang.
'' Sebentar aja '' lirih Andreas seraya menggenggam cukup erat. Andreas membuka kotak cincin itu.
'' Sekali lagi " ucap Andreas lalu terjeda sejenak, tampak lekski itu menarik nafas panjang. ''Alfiani Nur Azizah bersediakah engkau menikah denganku ?, menjadi ibu dari anak-anakku ?, menjadi pendampingku dari dunia hingga kelak di surga ?'' lancar kata itu meluncur dan sukses membuat hati Alfi mengembang sempurna. Rasa bahagia seakan melonjak-lonjak di dalam dadanya.
'' Saya bersedia Mas Andreas Wiratama '' sahut Alfi dengan nada bergetar dan mata yang telah berkaca-kaca. Dengan senyum mengembang, Andreas menyematkan cincin di jari manis Alfi. Ingin sekali ia mencium punggung tangan itu. Namun sekuat hati ia menahan keinginannya. Ia melepaskan tangan Alfi, gadis itu menatap jari yang kini tersemat sebuah cincin cantik yang pas di jarinya.
'' Cantik '' lirih Alfi yang diangguki Andreas.'' iya cantik sangat cantik '' namun sepertinya cantik di sini tak sama maksudnya. Karena Alfi sedang mengagumi cincin cantiknya. Sedang Andre mengutarakan kecantikan wajah wanita di hadapannya.
__ADS_1
Alfi mengangkat wajahnya dan baru tersadar jika cantik yang terucap dari bibir lelaki di hadapannya adalah dirinya membuat ia tersipu dan salah tingkah. Kemudian ia mengambil cangkir di meja dan meminumnya.
'' Dek, jalan-jalan yuk !" ajak Andreas pada Alfi seraya berdiri.
'' Kemana ?'' tanya Alfi sambil menengadah menatap wajahnya . Tubuh menjulang tinggi itu meraih cangkir dan menyesapnya sebelum menjawab.
'' Jalan-jalan gak jauh dari sini. Biar kamu gak jenuh di rumah terus. Sebentar ya Mas ijin dulu sama Ayah.'' sahut Andreas yang kemudian melangkah masuk rumah cepat .
Alfi masih mengagumi cincin di jarinya ketika Andreas telah kembali.
'' Yuk, kata Ayah boleh asal tidak jauh-jauh ''. ujar Andreas yang kemudian mendorong perlahan kursi roda itu. Alfi hanya tersenyum tipis saja.
'' Makasih ya dek udah mau terima lamaran Mas '' ucap Andreas sambil terus mendorong kursi roda menuju jalan di depan rumah.
'' Sama-sama Mas '' singkat Alfi. Jujur dia bingung hendak berbicara apa dengan lelaki yang kini menyandang status calon suaminya.
'' Dek Mas pengen meminang kamu secepatnya, kamu bersedia kan ?'' tanya Andreas yang kini telah berhasil keluar dari area rumah. Berjalan di atas jalan beraspal .
'' Alfi ikut persetujuan Ayah Mas '' jawabnya .
'' Ayah sudah setujui, keluarga Mas akan datang tiga hari lagi. Jadi besok kita pulang. Dan menunggu kedatangan orang tua mas untuk memintamu resmi kepada Ayah. Dan setelahnya kita menikah '' ucap Andreas pasti.
'' Secepat itu Mas ?'' Alfi sedikit kaget dengan rencana yang baginya terlalu cepat.
__ADS_1
'' Ini gak cepet Al,kamu harus tau aku menyiapkan diri untuk ini selama setahun Al. lama lho dek setahun itu '' jawab Andreas membuat Alfi tersenyum.
Percakapan dua anak manusia itu terus berlanjut seiring langkah kaki yang kian menjauh dari area rumah. Beberapa kali mereka berpapasan dengan orang desa itu. Mereka saling menyapa dengan ramah. Pagi itu bersama dengan orang yang dicintainya Alfi menikmati pagi hari yang indah dan cerah.