
Resah menghantui rasa, meski samar debar itu masih ada. Cemburu itu masih nyata. Namun mengapa hati tak busa singgah pada satu jati saja. Mengapa harus ada dua nama yang terpatri di sana ?.Bahkan ia tak bisa memilih andai ada yang menawarkan sebuah pilihan.
Mungkinkah ini bentuk lain nafsu manusia ?. Serakah atas apa yang ingin dimilikinya. Merasa tak puas dengan apa yang telah ada di hadapannya. Selalu merasa kurang dan menginginkan lebih.
Ah, Andreas di buat frustasi sendiri,termenung dalam temaramnya lampu kamar. Rasa kantuk tak kunjung datang. Kelebatan bayang dua wanita seakan menari indah di pelupuk matanya. Wahai sang pemilik hati, tuntunlah hati yang serakah ini pada kesejatian yang Engkau restui . Lirih batin Andreas mengiba pada Yang Kuasa.
Andreas menutup wajah dengan dua telapak tangannya. Mengukur rasa yang menggelayut dalam hati. Namun tetap saja akal tak bisa memilih. Ternyata serakah itu lebih menguasai.
Detak jarum jam terdengar mengisi sunyi yang merayap. Andrey menengadah menatap jam yang masih berdetak seiring bertambahnya waktu malam. Rasa kantuk tak kunjung datang. Segala resah masih saja membayang.
Akhirnya di putuskan oleh lelaki itu untuk masuk ke dalam toilet. Mengambil wudhu, mencari ketenangan hati dengan mendekatkan diri pada Sang Ilahi.
Bisik hatinya meminta untuk menengadah. Memohon petunjuk Yang Esa. Tentang cinta yang menjadi fitrah yang suci bukan sekedar nafsu dunia.
__ADS_1
Dua rakaat dalam istikharah cinta, memasrahkan segalanya pada Allah. Biarkan semua berjalan sesuai ketentuan. Ia hanya lakon dari drama kehidupan. Yang ceritanya tertulis dengan pena takdir .
Dalam sujud panjangnya, Andreas melantunkan doa. Agar tersampaikan pada Tuhannya,tentang jiwa yang resah. Tentang hati yang tak bisa memilih. Tentang cinta yang terbagi untuk dua wanita. Ia pasrahkan segalanya pada Allah yang memiliki segala rencana indah pada setiap manusia.
Akhirnya setelah semua ia letakkan kembali pada Yang Kuasa. Kini hatinya sedikit tenang,gundah gulana yang meraja terkikis rasa tenang yang datang.
Sesungguhnya segala sesuatu,pasrakan lah pada pemiliknya. Biarkan semua berjalan sesuai kehendak sang pencipta. Maka semua akan baik-baik saja.
Bersama ketenangan dan sunyi malam. Akhirnya Andrey mampu terlelap dalam tidur nyenyak. Lebih dari tengah malam,dan kini ia bisa terpejam.
Andreas terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal. Peluh membanjiri di pelipis lelaki itu. Mimpi itu begitu nyata. Banu mengapa wajah itu samar. Namun kerudung yang tertiup angin itu bukankah sebuah tanda.
" Ya Allah,ini kah tanda dari Mu ?" gumam Andreas,jika itu adalah pertanda. Mungkinkah takdir yang Allah tuliskan adalah dirinya bersama Alfi.
__ADS_1
" Aku harus istikharah lagi untuk meyakinkan hati " bisiknya yang masih terduduk di tengah ranjang. Rambutnya yang acak-acakan,dan keadaan tubuh yang baru terbangun dari tidur. Tak menyurutkan wajah rupawan itu.
Suara kumandang Adzan Subuh, menyadarkan Andreas bahwa pagi telah menjelang. Bergegas lelaki itu turun dari tempat tidur. Ia harus segera mandi, sholat dan segera bersiap.
Hari ini jadwal Andreas mendatangi kantor cabang. Dan pesawat yang membawanya, akan terbang pagi ini. Ia harus segera pergi ke bandara. Agar tak tertinggal oleh pesawat.
Antusiasme tak bisa di sembunyikan wajah penuh senyum dengan sebelah tangan menyeret koper. Kunjungan pertama setelah ia kembali ke kota. Semoga semua masih sama. Termasuk gadis berkerudung yang ia harap adalah gadis dalam mimpinya.
" Pa, Ma. Andreas langsung berangkat !" pamit Andreas pada kedua orangtuanya yang wedang duduk di meja makan.
" Lho gak sarapan dulu Ndre ?" tanya Mama. Andreas tampak melihat pergelangan tangannya.
" Gak sempet Ma" jawabannya yang langsung menyalami kedua orang tuanya. Dan berpamitan untuk segera berangkat.
__ADS_1
" Andai mimpi itu memang engkau,tunggu,tunggu aku datang menghalalkan mu " bisik hati Andreas yang kini telah duduk tenang di kursi penumpang.