
Memendam rindu ,bagai rantai yang membelenggu. Jika rindu itu bisa terurai hanya dengan menatapnya. Lantas bagaimana simpul rindu ini akan terlepas. Jika melihat wajahnya semakin membuat rasa semakin tak waras.
Terlarang kah rasa yang bersemi ini ?, atau hanya sisi hati yang tak bisa mengerti. Tentang rasa yang tak bisa di miliki. Meraung-raung rasa hati meronta. Menekan rasa yang justru kian membara. Wahai Sang Pemilik Rasa, hapuskan lah jika rasa ini salah.
Bisik hati gadis berkerudung navy yang menatap nanar pada jingga yang merona. Semakin rasa itu ia tekan keberadaannya justru semakin lara dan nelangsa jiwanya. Sungguh ia hanyalah hamba yang masih fakir atas ikhlas yang terlalu mudah terucap. Namun nyatanya hati masih terperangkap oleh rasa ingin memiliki.
Kenapa justru hatinya berkhianat ?, saat ia mencoba menepiskan segala yang menekan rasa. Namun justru hati semakin subur menumbuhkan.
Sebuah tepukan di bahu Alfi menyadarkan gadis itu dari lamunan panjang tentang hati yang kian terasa perih. Karena cinta yang ia sadari tak mungkin teraih.
Alfi menoleh pada sahabatnya yang kini ikut duduk bersebelahan, beralaskan rumput liar . Menatap cakrawala yang memaparkan warna senja yang menggoda mata.
" Kenapa rasanya sesakit ini Sal " lirih gadis bermata sendu ya g kini menjatuhkan kepala di bahu sang sahabat.
" Karena rasa sakit itu yang akan mengajarkan kamu tentang ketabahan. Mengajarimu tentang melepaskan. Yakinlah semua akan baik-baik saja " tutur Salwa seraya mengusap lengan Alfi . Alfi tersenyum, menyadari betapa ia masih sangat lemah. Tentang keimanan dan ketaqwaan nya.
Ia masih gadis belia yang mengagungkan cinta. Ketika rasa itu ada tanpa sadar ia terus memupuk nya,meski sisi hati yang lain ingin menguburkan rasa.
" Kita hanya manusia yang sedang melakonkan drama kehidupan kita. Melukis kisah yang akan menjadi cerita. Kita nikmati saja. Tanpa kita melupakan siapa Sang Penentu sebenarnya . Hidup itu rahasia,biar kita menyibaknya perlahan . Hingga pada akhirnya ketetapan Sang Illahi yang menentukan. Semua sudah di gariskan, seberapa kamu menghindar dari rasa yang mengungkung hati. Tapi jika Alloh menghendaki siapa yang bisa mengingkari ?" kata Salwa dengan bijak. Alfi mengangkat kepala dan menatap wajah sang sahabat.
" Puitis sekali sahabatku " tanggap Alfi yang di hadiahi pelototan sang sahabat. Saat Salwa merasa itu hal serius dan Alfi dengan mudahnya menertawakan. Dan kini gadis itu beranjak dengan tawa ringannya meninggalkan Salwa yang tercengang .
" Dasar gak bisa bikin moment haru sama kamu ya,aku lagi serius ini lho " sungut Salwa yang mengejar langkah Alfi yang kini memasuki sebuah bangunan terbuka yang berada di tengah lahan luas .
__ADS_1
" Seperti yang kamu bilang,ayo kita bikin cerita supaya bisa kita ceritakan pada anak cucu kita " ucap Alfi enteng yang kini sedang memasukkan laptop pada tas .
Salwa tersenyum saja, benar-benar sahabatnya satu ini. Baru saja mellow drama tiba-tiba sudah dengan semangat yang terpasang di wajah ayunya.
" Tentu aku akan membuat cerita indah agar tidak terlalu memalukan saat menceritakannya ". sambut Salwa. Dan kini dua gadis cantik itu, melangkah meninggalkan rumah baca yang didirikan oleh Ayah untuk anak gadisnya.
Di sana lah kini Alfi menghabiskan harinya, mengerjakan skripsi dan bertemu anak-anak yang akan selalu menanti dirinya dengan dongeng- dongeng yang ia bacakan. Dan mengundang kaum muda untuk mengenal buku. Dari awalnya hanya melihat saja, akhirnya sedikit demi sedikit dari mereka mulai suka membaca.
✨✨✨
Terlalu antusias,itu yang Andreas tampakkan saat berbelanja banyak buku dengan Diandra. Sudah dua dus berisi buku dan sepertinya masih akan terus bertambah melihat begitu Andreas bersemangat memilih buku di sana.
Diandra tersenyum miris,ia tak pernah melihat Andreas seantusias ini untuk berbelanja. Menemani dirinya saja, seperti ada keterpaksaan meski tak tersirat secara nyata.
" Maaf,maaf aku jadi kalap gini. Ya udah ini saja dulu " ucap Andreas saat menyadari ia telah memilih begitu banyak buku.
" Kita makan dulu yuk !" ajak Andreas setelah membayar buku-buku yang sudah tersusun rapi di dalam kardus.
" Buku-buku nya gimana ?" tanya Diandra.
" Biar nanti di kirim ke rumah". Sahut Andreas,kini keduanya meninggalkan toko buku dan masuk sebuah restoran dengan menu khas Jawa.
" Aku sholat dulu sebentar " ucap Andreas sesaat setelah mereka duduk di dalam restoran.
__ADS_1
" Iya,aku gak ikut lagi halangan." sahut Salwa, Andreas tersenyum lalu berdiri dari duduknya.
" Kamu nanti pesankan sekalian ya. Seperti biasa " tutur Andreas sebelum berlalu yang diangguki oleh sang wanita.
Diandra menghela nafas,melihat punggung lebar itu yang semakin jauh meninggalkan dirinya. Dan menghilang di balik tembok sekat yang berada di dalam restoran itu.
Ia tak bodoh untuk tidak menyadari ada binar di mata sang kekasih saat memilih buku. Dan ia cukup tahu arti binar mata itu. Binar kerinduan yang sebentar lagi tercurahkan. Besok Andreas hendak mengunjungi kantor cabangnya di daerah. Bisa di pastikan lelaki itu mendatangi keluarga angkatnya.
Riak cemburu mulai mengombak di dada. Ia tak bisa menepis rasa sesak yang nyata. Semua perhatian lelaki itu mtsdih sama, begitu juga dengan tutur lembut serta segala pengertiannya. Namun rindu itu tak lagi hanya miliknya.
Di sudut tempat lain,dalam gamang hati yang melanda. Saat setumpuk rindu itu akan tercurah,tapi justru rasa bersalah kian menyiksa. Ia sadar akan perasaan yang seharusnya ia kuburkan. Tapi tak semudah itu rasa menghilang. Dalam dilema hati yang kini terbagi. Pada siapa lagi ia berserah diri selain pada Sang Ilahi.
Selesai dengan sholat nya Andreas selalu menengadahkan tangan. Memohon restu pada Sang Pemilik Rasa,agar cintanya bermuara pada cinta karena restu dari Yang Esa.
Andreas kembali masuk area restoran setelah selesai dengan kewajiban tiga rakaatnya. Langkahnya terhenti saat dari sudutnya berdiri. Ia melihat kekasihnya sedang tertawa dengan lepas. Bersama seorang lelaki yang memunggungi dirinya. Ada rasa yang menggelitik hati. Cemburu kah ?, lirih batinnya yang seakan meronta.
Berhak kah ia atas cemburu yang meraja ?. Sedang hatinya sendiri mendua , meski ia tak pernah berniat untuk memiliki keduanya.
Sungguh rasa memiliki dari setiap hati manusia adalah keserakahan yang nyata. Keegoisan rasa, menjelma saat hati merasa tersaingi.
Andreas kembali mengayunkan langkah, menghampiri dua orang yang masih terlibat percakapan.
" Sayang " lembut Andreas. Sungguh ke eksistensian yang ingin di akui. Ego diri merajai untuk menandai kepemilikan atas sesuatu yang ia anggap saingan.
__ADS_1
Lelaki di hadapannya tersenyum samar. Sadar ada batas kepemilikan yang sedang di perlihatkan.