
Harum aroma kopi panas menguar dari arah dapur. Andreas yang telah rapi dengan stelan kerja berjalan melangkah ke arah dapur. Tampak Alfi sedang menyeduh kopi dengan air yang baru saja di panaskan.
'' Sayang,lagi ngapain ?'' tanya Andreas dengan nada khawatir. Cepat-cepat lelaki itu mengambil alih apa yang sedang istrinya lakukan.
'' Biar Mas saja '' ucap Andreas lembut seraya membelai rambut Alfi yang pagi itu belum memakai jilbab. Alfi tersenyum kemudian bersuara '' Alfi bisa kok Mas, jangan terlalu khawatir. Alfi juga ingin sekali-kali melayani keperluan mas Andre ''
Andreas membungkukkan badan, mengecup kening wanitanya. Menangkup kedua pipi sang istri setelah meletakkan panci kecil yang baru di gunakan untuk memanaskan air.
'' Mas meminang kamu buat jadi istri mas, pendamping hidup mas. Bukan pelayan, selama kamu belum sembuh mas melarang kamu untuk melakukan pekerjaan apapun. Mas gak mau terjadi sesuatu sama kamu. Mas sayang kamu, istriku. '' ucap Andreas dengan tatapan penuh cinta.
Alfi tampak berkaca-kaca,di cintai dengan rasa yang begitu besar. Sungguh membuatnya merasa begitu istimewa. Alfi meraih tubuh sang suami, memeluk tubuh tegap itu dengan segala syukur yang ia kumandang kan dalam hati.
Andreas tersenyum bahagia, mendapati istrinya kini mau memeluknya terlebih dahulu. Mengusap punggung Alfi dengan lembut, menyampaikan rasa sayang lewat sebuah sentuhan.
'' Terima kasih Mas, sudah menerima Alfi dengan segala kekurangan yang Alfi miliki. Terima kasih sudah mau berbagi beban dengan Alfi. Alfi sayang mas Andre '' ucap Alfi, kata sayang yang keluar dari bibir itu. Mengembangkan hati Andreas,rasa membuncah hadir sebagai bentuk rasa bahagia. Sesederhana itu rasa bahagia, hanya dengan sebuah pernyataan sayang yang sederhana.
'' Mas juga sayang banget sama kamu, cinta banget sama kamu. '' lirih Andreas, Alfi merenggangkan tangannya yang memeluk sang suami. Keduanya saling tatap dalam diam. Senyum mengisyaratkan rasa yang tak bisa lagi terurai lewat kata.
'' I love you istriku '' sambung Andreas, kemudian mengecup sekilas bibir yang terap merona merah meski tanpa pewarna bibir.
'' I love you too hubby.'' balas Alfi yang langsung menubruk lelaki di hadapannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik dada bidang sang suami. Andreas tertawa melihat tingkah menggemaskan istrinya.
__ADS_1
'' Kenapa ?'' tanya Andreas seraya mengulum senyum dan membelai rambut Alfi.
'' Malu '' ucap Alfi, Andreas menegang pundak Alfi dan menegakkan tubuh istrinya. Alfi menundukkan kepala, rasanya sungguh malu. Mengungkapkan rasa secara langsung ternyata cukup membuat dirinya malu.
Andreas menegang dagu Alfi, membawa wajah itu menatap dirinya. Alfi tersipu menatap wajah tampan di hadapannya.
'' Gak usah malu,mas seneng kamu mulai terbiasa dengan kehadiran mas. Mulai bisa mengungkapkan apa yang ada di hati kamu. Mulai sekarang,apa yang mau kamu rasakan. Kamu bilang sama mas,misal ada sikap mas yang membuat kamu gak nyaman bilang. Mas gak akan pernah tahu apa yang kamu rasa kalau kamu gak ngomong. '' ujar Andreas lembut,Alfi mengangguk paham.
'' Ya sudah sekarang kamu tunggu,mas bikin sarapan buat kita .'' Andreas mendorong kursi roda Alfi di dekat meja makan yang terhubung dengan dapur. Andreas menyeduh cokelat panas untuk istrinya setelah memanaskan kembali air di panci.
Secangkir cokelat panas ia hidangan di hadapan Alfi , sementara untuk dirinya kopi yang tadi di seduh sang istri meski tak lagi mengepulkan asap,dan terasa hangat saja.
Kemudian Andreas mengambil roti tawar untuk di masukkan ke dalam pemanggang. Membuat roti bakar untuk sarapan dirinya dan istri tercinta.
'' Makasih Mas '' tutur Alfi ketika Andreas meletakkan piring berisi potongan roti di hadapan Alfi.
'' Sama-sama sayang ''. sahut Andreas. Sarapan pagi yang sederhana, namun terasa istimewa ketika kita melaluinya bersama yang tercinta.
Hanya roti bakar ,namun nikmatnya sungguh terasa. Saat rasa itu di bumbui cinta. Cinta yang sedang indah-indahnya,sedang bermekaran bak bunga di taman. Di hampiri kupu-kupu yang indah. Itulah cinta yang kini sedang merekah indah di hati keduanya. Cinta yang tersampaikan lewat ikatan halal.
Andreas melihat jam di tangannya. Waktu sudah semakin siang tapi adiknya belum juga datang.
__ADS_1
'' Kenapa Mas ?'' tanya Alfi yang melihat Suaminya tampak gelisah.
'' Mas ada rapat jam sembilan,ini sudah jam tujuh lebih Riani belum juga datang ''. ucap Andreas.
'' Mas berangkat dulu gak apa-apa. Takutnya nanti terjebak macet,jadi telat rapatnya.'' Alfi mendekati sang suami dengan jas di pangkuannya. Jas yang tadi di sampirkan oleh Andreas di sandaran kursi meja makan.
'' Tapi nanti kamu sendirian '' tutur Andreas,Alfi hanya tersenyum. Meminta suaminya mendekat. Andreas berjongkok di hadapan Alfi. Alfie mengulurkan jas dan memakaikan pada suaminya.
'' Jangan terlalu khawatir,Alfi bukan anak kecil yang akan bertindak membahayakan diri sendiri.'' lanjut Alfi setelah mengenakan jad di tubuh suaminya. Alfi mengecup pipi Andreas yang masih berada di depannya.
'' Udah ganteng, saatnya berikhtiar menjemput rejeki dari Allah '' tambah Alfi, Andreas tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Diciuminya wajah sang istri dengan bertubi-tubi.
'' Mas pasti kangen banget nanti '' ucap Andreas sembari menangkup pipi Alfi.
'' Kalau gitu, cepet selesaikan pekerjaan mas dan cepet pulang. '' Andreas mengangguk patuh. Kemudian berpamitan pada sang istri.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Andreas tak bisa menyembunyikan senyum yang terus terkembang di bibir. Sungguh pernikahan telah menjadi sebuah transformasi baru dalam perjalanan hidupnya. Ia tak pernah sebahagia ini. Rasa yang terselip dalam hatinya tak lagi bisa terurai lewat kata. Terlalu indah, terlalu sempurna, terlalu membuat hatinya bahagia.
Pernikahan yang baru berusia sangat dini. Masih bisa terhitung jari,hari yang mereka lalui bersama. Jelas rasa itu masih indah-indahnya. Belum ada gelombang apa lagi gejolak dan ombak yang menerjang. Semua masih berjalan sesuai dengan harapan. Saling mencintai,saling berbagi mencoba saling mengerti.
Sepeninggal sang suami,Alfi berkeliling ruang apartemen. Tempat di mana ia akan menghabiskan harinya. Cukup luas apartemen milik Andreas. Ada empat kamar di sana. Satu kamar utama,satu kamar tamu dan dua kamar berukuran lebih kecil. Mungkin itu di peruntukan untuk asisten rumah tangga.
__ADS_1
Alfi membuka pintu penghubung yang menghubungkan ke balkon. Dengan perlahan Alfi menggerakkan kursi rodanya,ia keluar ruangan dan menuju balkon. Ada beberapa bunga dalam vas yang tampak tumbuh dengan baik di sana. Bunga yang di dominasi oleh bunga mawar berbagi warna. Semerbak wangi bunga menyeruak dari beberapa tangkai yang tampak mekar.
Alfi tersenyum kecil, mendapati bunga kesukaannya ada di sana. Mawar,Alfi menyukainya dengan segala warna. Ia tak pernah mengatakan itu pada suaminya. Namun adanya taman kecil di balkon apartemennya seakan lelaki itu mempersembahkan taman kecil itu untuk dirinya.