Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Kembali


__ADS_3

Menjejakkan kembali kaki di tempat dimana ia dilahirkan. Ada haru saat rindu itu seperti menguar dari dalam diri. Setitik air bening mengalir membasahi pipi. Rasa syukur membuncah meledakkan rasa dalam dada. Seperti hidup dalam fase kedua. Di beri kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menjejaki lagi tempat ini. Tempat yang sempat menghilang dari ingatan.


Andreas menghela nafas panjang, Diandra yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan sang kekasih. Ia tahu ada haru di hati lelaki itu. Andreas menghapus air mata kemudian tersenyum menatap wanita di sampingnya. Diandra mengusap lembut lengan Andreas, memberi ketenangan lewat sentuhan.


Dibelakang mereka kedua orang tua Andreas dan adiknya turun dari mobil. Menatap haru sang putera yang tampak sedang menenangkan hati yang bergemuruh dengan semua rasa yang meletup dalam dada.


Dengan perlahan Andreas, membuka pintu rumah mewah nan megah itu.


" Assalamualaikum " ucapnya dengan suara serak.


" Wa'alaikumussalam " sebuah jawaban dari dalam rumah,dan tampaklah wanita berumur ,yang kini ternganga dengan mata berkaca-kaca. Melihat siapa yang baru saja mengucapkan salam.


" Masya Allah,den Andreas " seru bi Uli. wanita berumur lebih dari setengah abad. Yang mengabdikan diri di rumah itu semenjak Andreas baru lahir. Dialah sang pengasuh tuan muda Wiratama.

__ADS_1


Andreas melepas tangan Diandra dari lengannya. Langkah cepatnya menghampiri wanita yang berjasa dalam merawat dirinya.


" Bi Uli " ucap Andreas ,yang meraih tangan wanita itu dan di ciumnya dengan takzim. Wanita itu tergugu dalam tangis haru.


Bocah kecil yang ia rawat dulu. Bocah kecil yang selalu merengek padanya. Bocah yang telah tumbuh dewasa. Meski dulu lelaki itu dingin dan memberi jarak dengan dirinya. Tetapi tetap menghormati dirinya,kini membungkuk kan badan sebagai bakti seorang anak yang merasa berhutang budi.


" Den Andreas " Bi Uli tercekat seraya mengangkat bahu Andreas untuk menegakkan badannya.


Bibi tak bisa mengeluarkan suara,ia terlalu kaget dengan semuanya. wanita itu hanya mengusap lembut bahu lelaki tinggi tegap, hingga membuat bibi menengadah menatapnya.


Terlalu mengejutkan hadirnya Andreas kembali ke rumah itu. Lelaki yang bahkan telah di makamkan nyatanya masih sehat tanpa kurang satu apapun.


" Bibi seperti mimpi " kata itu yang mampu terucap dari bibir bi Uli dengan tatapan tak lepas dari wajah anak sang majikan. Andreas membawa tangan yang mulai keriput itu menyentuh wajahnya.

__ADS_1


'' Ini Andre bi,andre masih hidup " ucap Andreas. Tangis haru bi Uli mengisi ruang tamu itu. Di saksikan sang nyonya yang ikut menumpahkan air mata. Diandra dan Adriani pun tampak berkaca-kaca. Papa pun tak visa menyembunyikan wajah harunya. Semua telah kembali ke tempat seharusnya.


Setelah acara melebur rindu dengan sang pengasuh. Kini Andreas berdiri sendiri di kamar pribadinya. Menatap sekeliling ruangan. Semua masih sama,tak ada yang berubah. Perlahan lelaki itu melangkah kearah tempat tidur. Tersenyum mengingat semua kenangan indah dalam kamar itu.


Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan senyum merekah di bibirnya. Banyak hal yang dulu lupa ia syukuri. Dan kini saat ia seperti mendapat kehidupan kedua. Ia melihat dari sisi berbeda.


Bagaimana ia melalui hari di desa dengan segala keterbatasan. Namun hati selalu tentram dan tenang. Selalu ada bahagia sederhana dari senyum-senyum yang merekah dari bibir mereka.


Dulu hidupnya berpusat pada kepuasan tentang keberhasilan duniawi. Tentang berapa sukses yang mampu ia raih. Namun saat ia melihat rawa tulus orang-orang desa yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ia menyadari bahwa rasa syukur melebihi dari semua harta yang ia miliki.


Saat lamunannya berkelana, sekelebat bayang senyum manis dengan wajah teduh melintas dibenaknya. Andreas menghela nafas panjang.


'' Melupakan tentang kamu bukanlah perkara mudah'' lirih batinnya yang mengingat sosok cantik yang sukses mengusik hati. Alfiani Nur Azizah.

__ADS_1


__ADS_2