Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Menghindari Rasa


__ADS_3

Andreas bergegas menyambar jas yang ia sampirkan di sandaran kursi. Keluar ruang kerjanya dengan tergesa.


'' Mbak tolong atur ulang semua pertemuan saya hari ini. Saya ada urusan penting '' ucap Andreas pada sang sekertaris yang langsung mengangguk mengiyakan.


'' Baik Pak "


Andreas keluar kantor dengan jas yang ia sampirkan di lengan dan sebuah clutch bag di tangan. Langkah panjangnya meninggalkan lobby kantor dan segera memasuki mobil yang sudah siap di depan kantor.


'' Jalan Pak ! '' ucap Andreas pada supir yang selalu setia menemani setiap perjalanannya. Tampak Andreas duduk bergeming di kursi penumpang. Matanya terpejam menggambarkan hati yang dilanda rasa gelisah.


'' Maaf Pak, bapak mau kemana ?'' tanya Pak sopir sebelum melajukan mobil meninggalkan kantor.


'' Pulang Pak,ke rumah Papa '' sahut Andreas, karena setahun terakhir Andreas memilih tinggal di apartemen.


'' Baik Pak '' ujar Pak sopir yang langsung melajukan mobilnya menerobos teriknya matahari siang itu.


Rasa bersalah lagi-lagi menelusup dalam dada lelaki berparas rupawan itu. Ia merasa telah abai pada keluarga yang bahkan tanpa pamrih merawatnya saat ia hilang ingatan. Saat keluarga itu di timpa musibah ia tak ada. Menghilang tanpa jejak hanya untuk menyakinkan hati tentang rasa yang ia miliki.


Kini yang tersisa hanya penyesalan tanpa bisa ia merubah keadaan yang sudah terjadi. Belum lagi kabar tentang lumpuhnya sang pujaan hati. Menyisakan sesak dalam dada. Rindu itu semakin menggebu,saat terbayang wajah yang mungkin saja sedang rapuh.


Tak terasa setitik air bening mengalir dari dua bola mata yang sedang terpejam itu. Sesak di dadanya tak mampu lagi di tahan. Gumpalan rasa yang menumpuk di dadanya. Membawanya pada rasa penghakiman atas diri yang seakan tak tahu terima kasih.


Hanya karena ingin meyakinkan diri,ia menjadi pecundang yang menghilang dari sebuah keluarga yang mengajarkan dirinya tentang sebuah arti ketulusan.


Andreas membuka mata menyeka air mata yang mengalir tanpa permisi.


'' Pak !" syara pak sopir menyadarkan Andreas bahwa ia tak sendiri. Dan semakin malu lah ia saat sang sopir menyodorkan tissue tanpa menoleh kearah sang majikan.

__ADS_1


'' Makasih pak " ucap Andreas yang kepalang malu.


Sang sopir sepertinya menaruh rasa penasaran . Kenapa majikannya yang terbiasa tegas dan berwibawa tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Tapi rasa penasaran itu cukup dibendungnya dalam hati .


'' Maaf Pak sudah sampai " ucap Pak sopir sesaat setelah menghentikan laju mobilnya di halaman rumah mewah kediaman keluarga Andreas. Andreas yang terlarut dalam pikirannya sendiri tak menyadari dirinya telah sampai di halaman rumah.


'' Oh iya Pak, terima kasih '' ucap Andreas, kemudian bergegas turun dari mobil.


Tampak pak Sofyan , sopir pribadi Andreas itu melihat sang majikan yang berjalan tergesa. Menatap prihatin pada lelaki yang tiba-tiba berubah melankolis tanpa tau pak Sofyan tahu sebabnya.


'' Assalamualaikum Ma !" sapa Andreas yang belum melihat keberadaan sang Mama.


'' Wa'alaikumussalam '' sahut Mama yang keluar dari arah dapur.


'' Lho tumben Ndre jam segini ke rumah ?'' tanya Mama yang penasaran, karena tak seperti biasanya anak lelaki semata wayangnya di rumah bahkan belum waktunya makan siang.


" Ada apa ? " tanya Mama saat melihat wajah murung anaknya. Sepasang ibu dan anak itu duduk bersebelahan di sofa ruang tamu.


" Andreas dapat kabar buruk Ma, entah benar atau tidak. Tapi ada yang bilang keluarga Ayah Farhan sedang terkena musibah. Alfiani kecelakaan dan lumpuh " ucap Andreas tercekat, sungguh ia tak bisa membayangkan kesakitan raga yang di rasakan gadis itu.


" Astaghfirullah hal'adzim, innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Sudah kamu tanyakan kebenarannya ?" tanya Mama yang terperangah kaget. Andreas menggeleng pelan.


" Nomer Fariz gak aktif Ma " ucap Andreas dengan wajah lesu.


Rasa bersalah bergelayut di hatinya. Dulu saat ia hilang ingatan mereka memperlakukan seperti keluarga. Namun kini ia seolah menghindar dari mereka yang selalu baik dalam memperlakukan dirinya. Hanya karena ego yang terluka, saat ia merasa tak bisa setia pada cinta,saat ia merasa cintanya terlalu dangkal hingga mudah menghilang.


Membuatnya memutuskan menjauh untuk menguji kadar rasa yang miliki untuk Alfiani. Dan kini saat ia yakini, bahwa cintanya bukanlah gurauan semata. Cinta itu benar dan nyata, bahkan saat raga tak pernah bersua. Mata tak pernah melihat keberadaannya. Getaran rasa itu tetap sama,dan rindu semakin mendidihkan rasa.

__ADS_1


" Coba kamu hubungi pak Mawardi, mungkin dia tahu soal Fariz ". tutur Mama.


" Kok aku dari tadi gak kepikiran ya Ma " ucap Andreas yang langsung duduk tegak dan mengambil ponsel dari clutch bag miliknya.


Andreas mencari nomer pak Mawardi didaftar kontak miliknya.


" Ya Assalamualaikum pak " sapa Andreas sopan. Dan obrolan tentang kabar dan perusahaan Andreas dengan orang kepercayaannya itu berlangsung cukup lama. Sampai pada intinya Andreas yang menanyakan keberadaan Fariz .


" Jadi Fariz minta cuti dua minggu Pak ? " Andreas memperjelas penuturan Pak Mawardi.


" Iya Pak Andreas, karena istrinya baru saja melahirkan dan orang tuanya belum bisa menemani karena sedang mengantar adik Fariz terapi " tutur Pak Mawardi di seberang sana. Andreas tercekat, ia benar-benar menjadi orang bodoh. Hanya karena rasa tak percaya diri ia kehilangan banyak hal berharga.


Fariz telah menikah,dan kini Alfiani sedang dalam duka karena luka fisiknya. Ah ia benar-benar merasa jadi pecundang sejati. Penuturan Pak Mawardi tak lagi Andreas dengarkan dengan baik. Pikirannya mengembara menembus riang waktu yang mengungkungnya.


Sampai pak Mawardi mematikan sambungan telepon, Andreas hanya menyahut sekenanya. Serasa semua runtuh tak bersisa. Ia yang takut membuat hati terluka karena cinta yang di milikinya. Kini duduk terpekur, memaki diri yang terlalu bodoh menghindar dari kenyataan.


Toh seberapa ia jauh pergi dan menghindari. Rasa yang di milikinya tak berubah,ia hanya membuang waktu yang sia-sia.


" Bagaimana Ndre ?" tanya sang Mama seraya membelai bahu sang putra. Andreas tertunduk dengan mata yang memanas. Hanya membayangkan gadis itu terluka saja telah menyayat hatinya. Namun dengan bodohnya dia meragu atas rasa yang di miliki. Hanya karena sebuah kegagalan yang terjadi di hidupnya.


" Alfiani benar-benar kecelakaan Ma,dan Fariz dia sudah menikah dan punya anak. Andreas bener-bener bodoh selama ini menutup akses komunikasi dengan mereka .Hanya untuk meyakinkan hati Andreas. Kegagalan Andreas mempertahankan cinta untuk Diandra membuat Andre merasa tak pantas mendekati Alfi,Andre merasa hanya pecundang yang bahkan tak mampu untuk setia. " ucap Andreas dengan mata berkaca-kaca.


Mama membawa sang putra dalam pelukan,mengusap punggung lebar itu dengan sayang.


" Kamu bukan lelaki tak setia Ndre. Tapi memang takdir yang tertulis untuk kamu dan Diandra sampai di sana. Terus sekarang setelah perpisahan sekian lama,apa rasa kamu pada Alfiani menguap begitu saja ?" tanya Mama seraya melepaskan pelukan. Menatap manik mata anak lelakinya. Andreas menggeleng lemah.


" Perasaan Andreas gak berubah Ma ".

__ADS_1


__ADS_2