
Waktu seakan terhenti saat senyum itu menyambut kehadiran jiwa yang di lilit rindu yang tak mampu terurai dalam kata. Dalam diam hanya bisa memandang. Wajah cantik diterpa indah sinar senja. Wajah indah bercahaya mengantarkan aura yang mempesona. Siapa yang hendak mengingkari,betapa ayu wajah itu ?. Dan debar jantung kian terpacu saat tatap mata seperti terperangkap.
Sore itu,di sebuah tanah lapang. Duduk melingkar anak-anak kecil. Memperhatikan dengan seksama seorang gadis yang bercerita dengan antusiasnya. Dialah Alfiani yang menghabiskan sorenya di perpustakaan bersama anak-anak. Membacakan dongeng seraya duduk beralaskan rumput yang tumbuh di halaman perpustakaan.
" Assalamualaikum " sapa seseorang yang sejak tadi memperhatikan, namun baru berani mendekat saat keberadaannya di ketahui netra bening yang di miliki gadis cantik berjilbab ungu itu.
" Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarokatu " sahut mereka serempak sembari menatap Andreas yang datang menghampiri mereka.
" Hallo semua ,apa kabar ?" tanya Andreas ramah.
" Baik kak "sahut mereka serempak. Andreas tersenyum menanggapi. Tampak Alfi berdiri dari duduknya.
" Adik-adik baca buku sendiri dulu ya, kakak mau ngobrol sama kak Andre dulu ". ucap Alfi yang diiyakan serempak oleh anak-anak yang langsung berhamburan masuk ke dalam perpustakaan.
" Apa kabar Mas ?" tanya Alfi yang berdiri di hadapan Andreas dengan jarak cukup jauh.
" Alhamdulillah baik, kamu sendiri apa kabar ?" balas Andreas dengan tatapan tak lepas dari gadis cantik di hadapannya.
__ADS_1
" Alhamdulillah juga baik. Oh ya terima kasih banyak , kak Andreas sudah membangunkan perpustakaan ini dan mengisinya dengan berbagai buku ". ungkap Alfiani.
Pasalnya perpustakaan yang kini di kelola oleh Alfi dan Salwa sesungguhnya di bangun dengan uang Andreas,pun dengan buku yang sebagian besar adalah kiriman dari lelaki itu.
" Sama-sama semoga bermanfaat untuk kalian semua. " ucap Andreas, Alfiani tersenyum sesaat ia mengangkat wajahnya melihat sekilas wajah yang sejujurnya ingin ia tatap lama. Untuk mengurangi simpul rindu yang mengikat hati. Namun ia tak memiliki keberanian itu, hingga ia memilih kembali menunduk.
" Oh iya,tadi aku bawa buku,sudah aku kasih ke Salwa. Ada titipan juga dari Diandra " ucap Andreas yang berdiri dengan tangan berada di saku celananya. Rambut klimisnya kini terurai terkena terpaan angin sore.
" Terima kasih Mas, sampaikan juga untuk mbak Diandra " ujar Alfiani. Andreas hanya mengangguk untuk menanggapi.
Kini keduanya terdiam, keluh bibir untuk berucap, Namun rindu kian bergemuru meluluhlantakkan kalbu. Dan waktu seolah berhenti mengurung raga yang seakan terpatri. Diam, bergeming tak bisa mengutarakan rasa lewat kata. Biarkanlah secercah rasa tersampaikan lewat sorot mata. Hingga berakhir dengan sebuah kenyataan yang menghantam perasaan.
Hatinya tak baik- baik saja. Rasa itu masih sama,rasa yang ingin ia lepas keberadaannya,namun mengapa terus saja tumbuh subur dalam dada.
Kini Alfiani bersandar pada dinding diantara rak-rak buku. Menutup wajahnya dengan telapak tangan. Meredam isak tangis yang tak mampu lagi ia tahan. Ujian ini terlalu berat untuk ia lalui.
Sebuah tangan tiba-tiba saja merengkuh dirinya. Alfiani tersentak kaget dan melihat siapa yang membawanya dalam pelukan. Ternyata Salwa yang tanpa sengaja melihat sang sahabat sedang menangis saat ia menata buku yang baru saja di bawa Andreas.
__ADS_1
" Kenapa masih seperti ini Sal, kenapa gak ada yang berubah dengan perasaan ini ?. " ratap Alfi dalam tangisnya. Ia tersiksa dengan rasa yang terus menjerat jiwanya. Sedang ia sendiri menyadari bahwa cinta itu tak mungkin untuk ia miliki.
" Apa yang harus aku lakukan Sal ?" lanjut Alfi meratapi hati yang terasa sesak. Cinta itu terasa menjerat erat hingga ia tak mampu untuk bergerak.
" Pasrahkan semuanya pada Alloh Al,hanya Alloh yang bisa mengurangi segala beban yang menjerat hati kamu " lirih Salwa membuat Alfi tersentak. Ia seperti manusia tak ber Tuhan, meratapi hati karena cinta . Bukankah rasa itu ada karena Alloh yang menciptakannya ?, maka hanya Alloh yang mampu mengurai rasa itu. Atau justru karena Alloh menghendaki rasa itu terus tumbuh.
" Astaghfirullah hal'adzim " lirih Alfi yang mulai menguasai diri. Ia melepaskan pelukan sang sahabat, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
" Aku menangisi diri sampai aku lupa dimana seharusnya aku berserah." Alfiani menghirup nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Mencoba menenangkan gemuruh hatinya.
Ia tak boleh membiarkan benteng hatinya runtuh. Rasa itu tak boleh menguasai setiap persendian jiwanya. Dan semakin ia menyadari jika rasa itu haruslah musnah,entah kenapa rasa sakit semakin menggerogoti hati. Inikah ikhlas yang ia koar-koarkan ?, nyatanya rasa itu sungguh menyesakkan.
" Ikhlas itu ternyata sesakit ini ya Sal ?" keluh Alfi seraya memegang dadanya yang terasa sesak. Salwa memegang pundak Alfi, menatap iba pada sahabatnya.
" Biarkan hati berproses Al,jangan paksakan. Semua butuh waktu. " tutur Salwa. Alfi menghambur dalam pelukan sang sahabat.
Dan dibalik rak buku itu, seorang pemuda memejamkan mata. Menikmati sesak yang sama. Hingga tak terasa air mata mengalir dari pelupuk matanya. Ia harus bagaimana ?. Cintanya melukai dua wanita. Bertahan bersama Diandra ia tak bisa memungkiri rasa yang tak lagi sama. Namun meninggalkannya untuk mengejar cinta yang lain ?, apakah ia setega itu ?.
__ADS_1
Andreas hanya bisa meraup kasar wajahnya. Rasanya terlalu menyakitkan. Terjebak dalam dua hati yang tak mungkin bisa ia miliki keduanya. Dia harus memilih.
" Ya Alloh,ku serahkan segala jalan takdirku pada Mu ya Alloh." lirih Andreas. Rasanya cobaan ini terlalu berat untuknya. Andai ia bisa meminta ia ingin tak pernah sembuh dari amnesia nya. Hingga hanya ada Alfiani dalam hati. Tapi mungkin Alloh masih ingin menguji hatinya. Maka ia akan kembali tersungkur dalam sujud. Meminta petunjuk dari Sang Illahi.