Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Tak Lagi Sama


__ADS_3

" Jadi nak Alfi ini sudah hampir selesai kuliah nya ?'' tanya Papa Yusuf saat mereka telah berkumpul menunggu makan malam di sajikan.


'' Iya pak, sedang pengajuan skripsi '' sahut Alfi tenang.


'' Selesai kuliah mau kemana ?" tambah Papa Yusuf sambil menatap Alfi yang hanya sesekali membalas tatapannya.


" Belum ada rencana Pak, mungkin membantu mengajar di madrasah saja." sahut Alfi dengan senyum tipisnya.


" Tidak ada rencana untuk bekerja di perusahaan ?" Ayah Yusuf seperti menginterogasi Alfiani. Di meja itu seakan dia menjadi pusat perhatian karena di cecar pertanyaan dari lelaki paruh baya itu.


" Untuk saat ini belum kepikiran Pak,gak tau nanti kedepannya." jawabnya tenang.


" Bukan kerjanya dimana Mas Yusuf,yang penting ilmunya bisa tepat, manfaat. Bukan begitu ?'' seka Ayah dengan ramah.


" Bener Pak setuju saya. Tapi kalau ingin bekerja di perusahaan . Hubungi saya saja. Sebenarnya saya sedang butuh asisten ".terang Papa Yusuf.


" Wah kesempatan emas sebenarnya ya Mas. Tapi saya belum bisa melepaskan anak gadis saya ini. " ucap Ayah yang duduk di sebelah putrinya sembari menepuk punggung tangan Alfi.


" Kan bisa tinggal di rumah kami lho Mas. Gak apa-apa ya Pa " usul Mama Nadhira yang diangguki oleh suaminya.

__ADS_1


" Maaf bu,saya juga belum selesai kuliahnya. Mau fokus skripsi dulu." potong Alfi yang tak mau memberi harapan pada dua orang tua yang seakan antusias menginginkan dirinya bergabung dengan perusahaan mereka.


" Pa , Fariz saja kita rekrut masuk perusahaan kita. " timpal Mama saat matanya menatap Fariz yang kini sedang fokus dengan ponsel di tangan.


" Eits gak bisa,dia sudah gabung di perusahaan Andreas. Dia sudah memegang keuangan di sini. Aku gak mau rekrut orang baru yang belum Andre percaya " seka Andreas yang tak ingin kehilangan Fariz yang bakal dia jadikan tangan kanannya.


" Aduh, kenapa malah jadi ribut perusahaan sih ?" kesal Adriani dengan wajah cemberut.


"Hehe...iya ya. Maaf semuanya " tukas Andreas yang merasa keadaan sedikit menegang .


" Hahaha...maaf mas Fardan. Kadang suka kesel saya sama anak saya ini. Pinginnya dia nerusin usaha saya. Eh malah buka usaha sendiri. Makanya kalau nak Alfi mau gabung,sambil nunggu Adriani selesai sekolah dia belajar ngurus perusahaan. Biar nanti mereka berdua yang menggantikan saya " terang Papa Yusuf. Membuat Ayah dan Ibu saling pandang. Alfi pun terkejut, bagaimana bisa orang yang baru mengenalnya mau menyerahkan begitu saja perusahaannya.


" Pasti bisa pak asal belajar " . perbincangan itu terus mengalir. Tanpa mereka sadari ada hati yang yang merasa terabaikan . Diandra diam tanpa bisa bersuara. Seakan yang berada di sekelilingnya terasa asing .


Obrolan dua keluarga itu terasa hangat dan akrab. Suasana telah mencair dengan obrolan yang mengalir. Ia hanya bisa jadi pendengar saja. Hanya sesekali menyahut pertanyaan yang mengarah padanya. Pertanyaan yang ia rasa pun sekedar basa-basi belaka.


Fariz terlibat obrolan hangat dengan Andreas . Adriani sibuk dengan ponselnya sendiri. Alfi hanya sesekali menimpali obrolan para orang tua. Makan malam datang diantar pelayan. Obrolan hangat itu terhenti. Mereka makan dengan diam. Hanya sekedar menawarkan makanan atau memuji rasa yang terasa pas di lidah.


Satu yang menjadi perhatian, meski dalam diam. Andreas seperti memperlakukan Alfi degan berbeda. Mendekatkan makanan yang sedikit jauh dari gadis tersebut. Saat melihat Alfi menatap piring berisi lauk namun jauh dari jangkauannya. Sigap mengambilkan minum saat gelas Alfi hampir tandas. Meski ia juga tetap memperhatikan Diandra.

__ADS_1


Namun apa yang di lakukan Andreas membuat hati Diandra menyadari satu hal. Bahwa dia bukan lagi menjadi satu-satunya dalam hati lelaki itu. Bukan karena mereka yang belum terbiasa kembali. Namun hati itu yang telah terbagi.


Rasa sakit itu tak bisa ia elak kan. Saat ia menangisi jasad yang ia kira kekasihnya. Merasa kehilangan dan terpuruk dalam hidup. Tapi saat lelaki itu kembali. Hanya raganya saja yang tetap di sampingnya. Hati itu tak lagi sama.


Ia benar-benar telah mengubur Andreas dalam hidupnya. Bukan raga yang tak bernyawa tapi hati yang kehilangan cintanya.


" Yang,aku ke toilet dulu " pamit Diandra saat ia merasa tak sanggup lagi melihat Andreas yang sedang memberikan jeruk yang baru ia kupas pada gadis berkerudung yang bahkan telah menolak secara halus pemberian lelaki itu.


" Berani sendiri ?" tanya Andreas,Diandra tersenyum kaku seraya mengangguk.


" Ya udah, hati-hati " ucap Andreas penuh perhatian. Sayang, perhatian itu tak lagi untuk dirinya saja.


Andreas nya telah berubah, lelaki romantis penuh perhatian yang selalu menatapnya penuh cinta. Kini tak bisa ia lagi ia raba tentang hatinya. Diandra tak mampu lagi menahan tangis. Di dalam toilet wanita, Diandra membiarkan air matanya luruh begitu saja.


Rasanya terlalu sakit,saat hatinya masih bertahan bahkan saat ia pikir telah kehilangan. Kini di hadapkan pada kenyataan bahwa cintanya mendua. Haruskah ia bertahan untuk mengambil hati yang terbagi ?. Ataukah ia harus pergi dan merelakan cinta menyakiti ?.


Layakkah rasa cinta itu untuk di perjuangkan ?, atau lebih baik ia lepaskan ?. Satu hal yang pasti,ia tak akan rela jika pada akhirnya ia harus membagi cinta.


Diandra makin terisak,meremat baju bagian dadanya. Menyalurkan rasa yang menyesakkan dada.

__ADS_1


" Mbak Dian !" suara lembut, membuat Diandra menoleh tanpa sempat menghapus air matanya. Tersenyum canggung pada gadis yang tiba-tiba telah berdiri di belakangnya.


__ADS_2